
๐น๐น๐น๐น๐น
Qiara menatap penuh kasih sayang Erzhan dalam pelukannya, ada begitu banyak yang dia pikirkan akhir-akhir ini, termasuk ingin mengajak anak itu berlibur keluar negri bersamanya dan Neta.
"Ikut kemana, Mom?" tanya Erzhan dengan wajah polos menggemaskan.
"Rahasia dong." Jawab Qiara seraya berbisik pelan
Keberadaan Sandra tidak memungkinkan gadis itu mengatakan keinginannya untuk mengajak Erzhan keluar negri.
Qiara belum yakin akan ketulusan sahabatnya itu, meski sudah berkali-kali mengatakan permintaan maaf dan rasa penyeselan. Bukan berarti dia langsung percaya, tidak ada yang tahu isi hati wanita cantik itu sekarang.
"Mommy lamunin apaan sih?" gemas Erzhan mencubit kedua pipi Qiara lumayan kuat.
"Begini nih, kalau udah melamun sampai lupa ada orang lain di sekitar Mommy." Ocehnya membuat Qiara tertawa lepas sembari memohon ampun, kedua tangan munglinya masih betah mencubit kedua pipi chubby milik sang Mommy.
"Ampun sayang, tolong di lepas ya. Mommy ngga kuat nahan sakitnya," kekeh Qiara berusaha melepaskan cubitan tangan Erzhan dari pipinya.
"Janji dulu ngga akan melamun lagi," pinta anak tampan itu dengan tatapan wajah serius.
"Iya, Mommy janji. Sekarang Abang lepas dulu cubitannya, OK?" rayu Qiara sedetik kemudian ikut bernafas lega merasakan usapan lembut di pipinya.
"Bulat begini, pantas ajah Daddy suka gemas tiap liat Mommy." Gumam Erzhan sangat pelan namun tanpa sadar masih bisa di dengar Qiara
Kata gemas yang anak itu maksud tentu jauh berbeda dengan isi pikiran Qiara, ada perasaan ngeri menyelimuti hatinya bila teringat pada sosok pria tampan bernama Faraz tersebut.
๐น
Sandra mengajak Neta berbicara empat mata di balkon kamar milik Qiara.
Katanya ada yang ingin wanita itu ceritakan, entah apa Neta pun tidak tahu pasti.
"Yakin Qiara ngga akan kesini?" tanya gadis bermata biru air itu pada Sandra.
"Semoga ajah," jawab Sandra berusaha terlihat tenang walau hatinya begitu khawatir.
Neta memilih diam mendengarkan, kali ini dia berada di posisi yang sulit.
Melihat Qiara tengah fokus bermain dengan Erzhan di dalam kamar, baru lah kedua wanita beda usia tersebut mulai berbicara.
Sementara di dalam kamar, tampak jelas raut wajah penasaran putri bungsu kesayangan Tuan besar Rafindra. Mendapati sahabat dan teman dekatnya berada di area balkon, ingin rasanya ikut menghampiri tetapi Erzhan sangat sulit di ajak kerjasama.
"Biarin ajah Mommy, lagian tidak baik Loh. Cari tahu percakapan orang lain," ucap si kecil mengingatkan.
"Tapi Mommy penasaran, Abang." Sahut Qiara tanpa mengalihkan tatapannya dari balkon
__ADS_1
Meski terhalang dinding pembatas, jika dua anak manusia tersebut menoleh ke arah kamar. Tetap saja gadis cantik itu ketahuan tengah memeperhatikan mereka dari dalam kamar, dan Erzhan tidak ingin semua itu sampai terjadi.
Lebih baik mengajak sang Mommy Qiara keluar dari kamar menuju ruang perpustakaan dekat lift, beruntung gadis itu langsung mau tanpa berpikir dua kali.
๐น
Sepeninggalan Erzhan yang membawa sang Mommy ikut bersamanya keluar dari kamar.
Neta sedikit mulai paham arah pembicaraan wanita cantik di hadapannya itu, ada begitu banyak pertanyaan yang timbul di otaknya ingin sekali di keluarkan.
"Aku harap, pernikahan ku dengan Faraz tidak sampai berakhir dengan perceraian." Ucap Sandra lirih memikirkan nasib rumah tangganya
"Tidak ada yang lebih baik selain dirinya, dan aku memilih untuk bertahan walau rasanya begitu menyakitkan."
Sandra berhenti sejenak, masih banyak yang harus dia katakan. Rasanya sesak menahan diri agar tidak banyak tingkah selama menjadi seorang istri sekaligus menantu dari keluarga pengusaha sukses.
"Kamu tahu, selama aku tinggal di luar. Banyak pertimbangan yang aku pikirkan, salah satunya bagaimana mengambil hati putra ku agar mau bersama ku."
"Semua rencana aku susun dengan rapih, berharap kedepannya tidak ada lagi masalah yang timbul. Jujur, aku masih sangat mencintai Faraz dan sampai kapan pun aku tetap mempertahan pernikahan ku agar tidak berantakan lagi."
Sandra begitu yakin semuanya akan berjalan baik sesuai rencananya selama ini, terlebih mengetahui sang sahabat akan kembali keluar negri semakin membuatnya yakin tidak ada hambatan di masa depan nanti.
Dan tatapan Neta begitu sulit di artikan, melihat betapa keras kepalanya wanita cantik yang masih tersenyum bahagia di hadapannya tersebut.
"Begitu yakinnnya kamu dengan semua rencana mu itu?" tanya si cantik bermata biru air itutanpa ekspresi.
"Jadi maksudmu, kedepannya tidak akan pernah mau jika Faraz mengajukan perpisahan padamu, begitu?"
"Memangnya kamu pikir wanita macam apa aku ini? Jelas aku menolak keras perceraian di antara kami," tatapan mata Sandra begitu tajam.
"Ya, aku pikir kamu akan menyerah saja." Ucap Neta tersenyum tipis
"Jangan harap. Di antara kami sudah ada Erzhan, tidak mungkin perpisahan itu sampai terjadi. Aku berjanji akan mengikuti semua perkataan Faraz kecuali perceraian." Bantah Sandra
"Keteguhan mu sangat membuat aku terkesan," ujar Neta seolah tengah menunggu saat yang tepat mematikan harapan besar wanita itu.
"Tentu saja, aku memikirkan semuanya dari lama." Balas Sandra dengan sangat yakin
"Oh ya? Termasuk menerima dengan ikhlas jika suatu hari nanti, bisa saja pria itu menikah dengan wanita lain, begitu maksud mu?" sarkas Neta tepat sasaran, berhasil mengagetkan Sandra dari lamunannya yang melampau jauh.
"Maksudmu apa bicara begitu?" tanya wanita itu marah.
Kalimat menikah dengan wanita lain begitu membekas di hati Sandra, bahkan rasanya dia sulit untuk sekedar bernafas.
"Kenapa? Sejak awal, bukannyan kamu sendiri yang menawarkan pada Qiara untuk menikah dengan Faraz." Kekeh Neta seakan mengejek
__ADS_1
"Jelas ucapan mu tempo hari bisa saja di kabulkan loh," Sandra marah tanpa sadar kembali teringat perkataannya waktu itu.
"Tidak mungkin. Jelas aku hanya merasa sangat terpuruk saat itu, makanya aku sampai berbicara yang tidak-tidak pada Qiara." Elaknya
"Aa, benarkah? Tapi kenapa aku merasa hubungan kalian tidak akan membaik lagi?" ejek Neta kembali menjatuhkan kepercayaan diri Sandra.
Jauh sebelum hari ini datang, gadis cantik berasal dari negara asing tersebut sudah lebih dulu membicarakan segala sesuatunya dengan keluarga besar Rafindra serta Bramantya.
Itu sebabnya, melihat betapa keras kepalanya Sandra mencoba untuk tetap mempertahankan pernikahannya sangat mustahil terjadi.
"Ingat bagaimana dulu kamu sampai berakhir menikah dengan Faraz!" tekan Neta penuh intimidasi.
"Erzhan hadir karena sikap keras kepalamu ingin memiliki pria itu, bukan karena rasa cinta melainkan obsesi semata." Imbuhnya
"Tidak mungkin, jelas aku sangat mencintainya." Teriak Sandra membantah
"Cinta yang seperti apa yang kamu maksud, Sandra? Jelas kamu berakhir menjadi istri dan menantu dari keluarga terpandang bukannya semua berawal dari rencana busukmu dan juga keserahakan orang tuamu yang menginginkan harta kekayaan dan kekuasaan milik keluarga Bramantya. Itukah maksud mu?"
"Jaga ucapanmu, gadis asing!" sentak Sandra marah.
BRAK!
"Justru kamu yang seharusnya menjaga sikap di hadapan ku atau lainnya!" bentak Neta sampai menggebrak meja lumayan keras
Gadis itu marah, sampai rasanya ingin menampar wajah Sandra.
"Asal kamu tahu saja, kemarin orang tuamu datang ke perusahaan Faraz. Dan kamu tahu apa yang mereka katakan bahkan inginkan?" Neta sampai kehabisan akal meladeni sikap keras kepala sahabat dari teman dekatnya itu.
"Apa?" tanya Sandra panik dan khawatir.
Mendengar kedua orang tuanya mendatangi Faraz, jelas terlihat raut wajahnya yang cemas bagaimana jika suaminya melakukan sesuatu pada mereka.
"Papa dan Mama ku bilang apa ke Faraz?" tanya wanita itu lagi.
"Aku harap kamu tidak berbohong." Ancamnya terdengar lucu di telinga Neta
"Bodoh sekali, untuk apa juga aku membohongi mu." Kesal gadis itu memilih pergi tanpa berniat meneruskan pembicaraan di antara mereka
Teriakan Sandra yang memanggil namanya tidak lagi Neta pedulikan.
Apa yang terjadi di area balkon, ternyata sejak awal terdengar jelas di telinga Faraz yang tidak sengaja menguping sewaktu ingin mencari keberadaan Qiara dan Erzhan di dalam kamar.
Faraz yang langsung bersembunyi melihat Neta berjalan masuk ke dalam kamar, tentu syok mengetahui sebuah fakta dimana Sandra bersikeras tidak akan mau berpisah dengannya apapun yang terjadi.
"Aku senang melihat kegigihanmu ingin mepertahankan pernikahan kita, tapi kamu justru lupa bagaimana dulu memberiku luka teramat dalam." Gumamnya lirih menatap Sandra tengah menangis pilu di area balkon seorang diri
__ADS_1
"Bagaimana aku mepertahankan pernikahan kita, Raa. Sedangkan kamu lah penyebab orang yang paling aku sayang kehilangan nyawa."
๐๐๐๐๐