
๐น๐น๐น๐น๐น
"Kamu mengancam ku, Adrian?" tanya Sandra dengan wajah masam tanpa senyuman.
Ancaman dari saudara tirinya memang tidak main-main, sebab bukan hanya sekali dua kali Sandra mengalaminya dalam satu bulan terakhir.
"Kalau ngga mau aku turunin di tengah jalan, makanya jawab tiap di tanya." Ucap Adrian santai tanpa beban
"Kamu pikir Apartement ku bisa di tinggali sesuka hati begitu?" cebiknya menatap kesal saudari tirinya itu.
Mendengar ocehan Adrian tanpa menggunakan titik apalagi koma, sungguh telinga Sandra panas dan gatal.
Plak
"Aw, Sandra. Apa kamu gila?" jerit pria tampan itu mendadak berhenti di tengah jalan.
Sandra yang panik langsung berteriak melihat kendaraan dari arah depan nyaris menabrak mobil yang Adrian kemudikan.
Beruntung si pemilik mobil cepat menghindar ambil arah lain demi mencegah terjadinya kecelakaan, segala umpatan kasar di terima Adrian saking emosinya beberapa pengendara hampir saja mengalami kejadian serupa.
"Kamu gila ya?" Teriak Sandra takut bercampur panik menyadari kebodohannya beberapa menit lalu.
Dia tidak menyangka akan separah itu reaksi Adrian hanya karena pukulan lumayan kuat di bagian punggungnya.
"Aku beneran ngga sengaja tadi," ucapnya lirih merasa bersalah sudah melakukan kesalahan.
"Keterlaluan banget kamu, Ra." Sahut Adrian mendadak kepalanya sakit
"Aku minta maaf, sungguh tidak ada maksud apapun." Sandra memohon dengan wajah memelas
"Nyatanya kita hampir saja celaka," kesal pria itu memilih keluar dari mobil hanya untuk meredakan emosinya.
Brakk
Tanpa mereka sadari, rupanya dari arah tidak jauh. Tampak sebuah mobil mewah keluaran terbaru milik Qiara berhenti seraya memperhatikan kejadian tidak terduga di depan matanya beberapa menit yang lalu.
Tuan putri Rafindra tersebut awalnya hendak menuju pulang ke rumah setelah mengantar Erzhan pulang ke kediaman milik Faraz.
Siapa sangka justru melihat ada sebuah mobil hampir saja bertabrakan dengan beberapa pengendara lainnya karena mendadak berhenti di tengah jalan.
Qiara awalnya tidak mengenal si pemilik mobil, tetapi lima menit kemudian dia terkejut melihat siapa yang turun dari kendaraan mewah tersebut.
"Lah, bukannya itu pria tampan yang ada di Apartement Sandra?" gumamnya sembari mengingat jelas wajah Adrian.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Pasti Sandra juga ikut bersamanya," pekik Qiara tanpa sadar berlari ke arah sisi jalan yang berlawanan arah dengan posisinya berada.
Dia sangat yakin jika di dalam mobil yang pria itu kendarai, terdapat sahabatnya meski belum pasti kebenarannya.
Setelah berhasil menyeberang jalan, akhirnya Qiara bisa bernafas lega karena tebakannya benar. Ada Sandra tengah duduk diam seraya memanggil nama seorang pria yang masih berdiri tidak jauh dari mobil.
.
__ADS_1
.
.
"Adrian masuk ngga?" kesal wanita cantik itu hendak turun dari mobil namun urung dia lakukan.
"Loh, itu kan ..." kagetnya mendapati Qiara sudah berdiri tepat di hadapan Adrian dengan kedua tangan melipat di dada.
Sandra bergegas turun, perasaannya mulai tidak nyaman.
Posisi Qiara dalam keadaan kedua mata menatap tajam cukup membuat seorang pria tinggi bertubuh kekar yang tengah asyik mengumpat kesal terperanjat kaget.
"Eh, buset kaget gue." Pekik Adrian seraya mundur ke belakang nyaris membentur area depan mobilnya sendiri
"Lo kalau mau nyapa orang kira-kira dong, bikin jantung gue hampir copot ajah." Kesalnya menatap tajam ke arah Qiara
Di samping mobil, Sandra bergidik ngeri antara panik bercampur khawatir jangan sampai gadis cantik itu melakukan sesuatu yang gila pada saudara tirinya.
Qiara bukan tipe yang bertanya dulu lalu membuat perhitungan, kaki dan tangannya langsung bekerja jika melihat ada yang tidak beres terjadi di depan matanya.
Melihat gadis cantik itu hendak melangkah maju ke arah Adrian, secepat kilat Sandra menarik lengan pria itu agar bersembunyi di belakang punggungnya.
"Eh, Qiara. Ngapain kamu di sini?" tanya Sandra basa basi.
"Aku ikut kaget loh, pas lihat kamu tadi." Kekehnya berusaha menghilangkan kecangggungan yang ada
Beruntung, Adrian tidak banyak tingkah apalagi sampai membuat kepala sang kakak pusing.
Hanya saja, waktu itu Adrian sengaja pergi tanpa memperkenalkan dirinya lebih dulu pada gadis cantik itu.
"Kalian ngapain berhenti di tengah jalan?" tanya Qiara yang semula bingung melihat reaksi Sandra.
"Aku pikir kalian ada masalah, apa yang terjadi?" lanjutnya seolah meminta penjelasan.
Sandra bingung harus mengatakan yang sejujurnya atau berbohong demi menjaga harga dirinya agar tidak menjadi bahan ejekan sahabatnya tersebut.
Seperti yang sudah-sudah, dimana Qiara akan menjadikan kelakuan konyol wanita cantik itu sebagai bahan candaan atau sengaja membuatnya terpancing emosi.
"Wah, kenapa pada diam sih? Lagian aku nanya loh ini," gemas Qiara antara sadar tidak sadar membuat pasangan kakak adik beda ibu tersebut menahan kesal.
Bukannya mereka tidak mau menjawab, satunya ingin melindungi diri sendiri dan satunya lagi memang tidak berniat untuk memberi penjelasan.
"Ya sudah, kalau ngga mau jawab aku tinggal ya?" ucap Qiara hendak pergi menuju tempat dimana mobilnya terparkir sembarangan.
Tidak ada yang buka suara, membuat Tuan putri Rafindra tersebut melengos pergi dengan perasaan jengkel karena di abaikan.
Sandra dan Adrian langsung bernafas lega, keduanya segera masuk ke dalam mobil lalu segera pergi meninggalkan Qiara tanpa menyapa sedikit pun.
"Wah, kebangetan nih. Gue di cuekin sama tuh dua anak manusia," teriak gadis itu kesal.
Niat awal ingin pulang ke rumah berubah arah menuju Apartement milik si gadis cantik bermata biru air kesayangan Qiara.
__ADS_1
Neta menghubunginya beberapa menit yang lalu, katanya ada sesuatu yang penting ingin gadis itu bicarakan dengan Qiara.
๐น
Di dalam mobil yang Adrian kemudikan, rupanya Sandra tengah asyik mengomel karena permintannya tidak di kabulkan.
"Kamu masih ngomel kayak gini, beneran deh. Gue turunin sekarang juga, sumpah." Kesal pria tampan itu mendadak pusing
"Heran banget jadi wanita banyak maunya, perasaan kemarin udah belanja banyak. Lah ini mau belanja lagi?" omelnya melirik sekilas ke arah samping dimana Sandra tidak lagi bersuara.
Ruapanya, wanita cantik itu langsung diam sebelum kejadian beberapa menit yang lalu terulang kembali dan membuat mereka justru bukan lagi selamat melainkan berakhir di rumah sakit karena sebuah kecelakaan.
"Pintar juga rupanya, kalau begini 'kan enak." Kekeh Adrian kembali fokus menyetir
Dalam hati Sandra mengumpat kesal tidak bisa melakukan apa-apa.
Dasar adik tiri laknat.
.
.
.
Qiara yang turun dari mobil langsung naik ke lantai atas menggunakan lift menuju tempat tinggal Neta.
Beberapa penghuni Apartement yang berpapasan dengannya di dalam lift ikut menyapa, hampir semuanya mengenali Qiara karena sifat ramah dan murah senyum tiap kali bertemu orang.
Tring
Pintu lift terbuka lebar, Qiara melangkah keluar setelah berpamitan dengan penghuni lainnya.
Sudah ada Neta yang sengaja menunggu gadis cantik itu tepat di depan pintu masuk unit Apartement miliknya.
"Tumben mukanya kusut kayak tisu di belah sepuluh?" ledeknya melihat si cantik Qiara tampak menahan kesal.
"Aku tadi bertemu Sandra di jalan, pas mau pulang ke rumah." Jawab gadis cantik itu seraya membuang nafas kasar
"Masa sih?" tanya Neta penasaran.
"Hmm, kayaknya lagi berantem sama pria itu loh. Yang pernah aku ceritain ke kamu, lupa siapa namanya." Kekeh Qiara
"Ckck. Kamu lupa atau emang ngga tahu siapa namanya?" cebik gadis bermata biru air tersebut ikut tertawa.
Dering ponsel yang entah sudah berapa kali berbunyi tidak terdengar.
Sementara di tempat lain, seorang pria tampak begitu khawatir berulang kali menghubungi Qiara. Tetapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
"Kamu di mana, Qiara?"
๐๐๐๐๐
__ADS_1