Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 189


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Dua bulan yang lalu, semua anggota keluarga serta kerabat dekat baik dari Rafindra maupun Bramantya sangat antusias mengadakan doa syukuran tujuh bulanan kehamilan Qiara. Tidak tanggung-tanggung memghabiskan uang dalam jumlah tidak sedikit untuk mereka bagikan ke beberapa panti asuhan dan orang-orang yang membutuhkan.


Dan terhitung hari ini, perkiraan Qiara melahirkan yang sudah di tetapkan oleh pihak rumah sakit hanya tinggal menunggu saja.


Hal itu membuat semua anggota keluarga jadi tidak sabar menanti kelahiran calon pewaris harta kekayaan milik kedua keluarga besar tersebut.


Namun semua itu baru perkiraan saja, karena tidak ada yang tahu bisa saja waktunya tidak sesuai perkiraan dari Dokter yang selama ini bertanggung jawab atas kehamilan Qiara.


Semua dalam keadaan sehat dan normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bahkan pihak rumah sakit memberitahu jika keinginan Qiara untuk tetap melahirkan secara normal pun telah di setujui.


Faraz sendiri memilih tidak pergi ke perusahaan semenjak usia kandungan istrinya sudah menginjak delapan bulan, fokusnya hanya pada wanita halalnya tersebut.


Apapun yang Qiara butuhkan selalu di penuhi tanpa ada kata mengeluh apalagi sampai mengeluarkan kalimat tanda protes.


Satu hal yang pria itu rasakan setelah hampir seharian ini mengurung diri dalam kamar, enggan menemani anggota keluarga yang lainnya.


Timbul perasaan kurang nyaman menjelang kelahiran sang istri tercinta, yang merupakan anak keduanya bersama Qiara. Bisa di bilang baru kali ini ia merasakan yang seperti itu.


Dari pagi sampai waktu makan siang, Faraz merasakan seluruh bagian tubuhnya sakit terutama di bagian perut dan pinggang, bahkan keringat dingin tidak berhenti keluar membasahi dahinya yang sesekali terlihat mengkerut akibat tidak kuat dengan apa yang tengah ia rasakan.


Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan pria itu sekarang, mengingat ia sengaja berdiam diri di dalam kamar setelah Qiara dan Erzhan meminta ijin turun ke lantai bawah untuk menemui anggota keluarga lainnya.


Semakin Faraz memaksakan dirinya untuk bangun sekedar duduk bersandar di kepala ranjang, pada kenyataannya ia hanya akan lebih menderita.


"Aku kenapa?" gumamnya lirih tanpa sadar kedua matanya mulai berkaca-kaca hendak mengeluarkan cairan bening yang menumpuk di ujung mata.


Hanya wajah Qiara terus berputar di matanya, seakan meminta pertolongan karena rasa sakit yang ia rasakan semakin bertambah.


"Ya Tuhan, ini sakit sekali."


Faraz langsung meraih ponsel yang kebetulan berada di atas nakas samping tempat tidur, ia cari kontak milik Qiara guna memberitahu keadaannya saat ini.


.


.


Sementara di lantai bawah, justru di buat heboh dengan kondisi si cantik yang ponselnya terus berdering tanda ada panggilan telefon dari suaminya.

__ADS_1


Di ruang tengah semua anggota keluarga terutama Erzhan mulai terlihat panik, melihat ada cairan keluar dari tubuh Qiara.


Posisinya yang kebetulan tengah berdiri kelihatan sangat jelas ketika cairan tersebut mengalir sampai membasahi dres pendek selutut yang wanita itu kenakan.


Nyonya besar Rafindra langsung bergerak cepat meminta sopir untuk menyiapkan mobil.


Sementara Qiara sudah di gendong Tuan Rafindra keluar rumah tanpa menunggu Faraz turun dari lantai atas. Mereka hanya memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil pria itu agar segera menyusul ke rumah sakit.


Erzhan memilih tidak ikut, ia justru meminta dua orang dewasa lainnya tetap berada di rumah menemaninya bersama sang Daddy.


Mereka adalah Neta dan Zaidan, sepasang kekasih yang awalnya ingin ikut tetapi permintaan anak tampan itu mengurungkan niat keduanya yang memilih akan menyusul setelah Faraz sudah di beritahu.


"Daddy mu kenapa belum turun juga?" tanya Neta dengan perasaan kesal campur khawatir mengingat bayangan wajah penuh kesakitan calon adik iparnya beberapa menit yang lalu.


"Dimana pelayan yang tadi di perintahkan untuk memanggil Faraz?"


Zaidan mencari pelayan wanita yang kebetulan baru saja keluar dari lift dengan wajah panik.


"Maaf Tuan muda, barusan saya dari lantai atas. Tetapi Tuan Faraz tidak bisa turun karena kondisi tubuhnya sangat lemah, beliau meminta saya untuk memanggil Nyonya Qiara." Jelas wanita itu tanpa melihat ke arah Zaidan


"Pintu kamarnya tidak di kunci, saya hanya menyampaikan pesan dari luar kamar dan belum memberitahu soal Nyonya Qiara yang akan melahirkan. Sepertinya Tuan Faraz sakit," tambahnya.


"Faraz sakit apa, Kak?" tanya sang kekasih pada pria tampan yang wajahnya kelihatan tegang.


"Aku tidak tahu, sayang." Jawab Zaidan berusaha untuk tetap tenang walau rasanya mustahil


Ia berada dalam situasi yang mengharuskannya untuk tidak gegabah, terlebih ada si kecil tampan yang raut wajahnya tampak khawatir dan panik sewaktu mendengar Daddynya sakit.


Tring


Sesampainya di lantai atas, Erzhan lebih dulu memasuki kamar yang memang tidak terkunci seraya memanggil sang Daddy berulang kali sampai anak tampan itu berhenti tepat di sisi ranjang.


Faraz tidak mengeluarkan suara, ia hanya diam menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya.


Kehadiran Zaidan dan Neta langsung di buat syok, melihat sekujur tubuh pria itu basah. Terutama wajah Faraz yang pucat pasi, hampir menyerupai mayat hidup.


Mereka tidak mengatakan apapun, segera membantu Faraz berganti pakaian lalu keluar dari kamar menuju rumah sakit.


"Daddy kenapa?" lirih Erzhan bertanya dengan kedua mata tanpa henti mengeluarkan cairan bening.

__ADS_1


Faraz hanya tersenyum, mengusap pelan kepala putranya tersebut seraya menenangkannya lewat isyarat mata dan gerakan tangan sebagai tanda untuk mengatakan jika ia baik-baik saja.


.


.


Di rumah sakit.


Pihak yang bertugas menangani Qiara sudah menunggu di pintu masuk utama.


Kedatangan mobil Tuan Rafindra langsung di sambut oleh Dokter dan bebera perawat yang segera membawa putri bungsu kesayangannya menuju ruangan bersalin.


Sudah ada Tuan dan Nyonya Bramantya selaku orang tua Faraz ikut menunggu dengan perasaan campur aduk di ruangan khusus anggota keluarga, keberadaan sang putra pun di pertanyakan karena belum terlihat batang hidungnya.


Kurang lebih lima belas menit berlalu, akhirnya Zaidan tiba di rumah sakit.


Ia segera memerintakan beberapa perawat untuk memeriksa kondosi Faraz terlebih dahulu.


"Qiara udah mau lahiran, Kak?" tanya pria itu dengan susah payah karena sakit di tubuhnya semakin terasa.


Bukannya memberi jawaban, Tuan muda pertama Rafindra tersebut memilih sang kekasih lah yang menjelaskan.


Sebab dalam situasi yang menegangkan seperti ini, fokus Zaidan terbagi dua antara si bingsu Qiara dan adik iparnya itu.


Zaidan mana tahu sakit apa yang tengah Faraz derita, sementara Qiara mungkin saat ini menunggu kehadiran suaminya tersebut.


Dokter sudah selesai memeriksa Faraz, kemudian menjelaskan jika itu merupakan reaksi normal karena ikut merasakan sakit menuju waktu melahirkan.


Tidak bisa di pungkiri, wajah Zaidan dan Neta begitu sulit untuk menyembunyikan ekspresi lucu dan berakhir keduanya menertawakan keadaan Faraz.


"Senang banget ya?" cebik suami tampan kesayangan Qiara yang merasa tidak terima menjadi objek godaan pasangan kekasih tersebut.


Meski tubuhnya sakit terutama di bagian pinggang dan perut, dengan langkah kaki pelan Faraz meminta Zaidan untuk memapahnya sampai ke ruangan bersalin.


"Nyusahin banget tahu ngga sih," omel Tuan muda pertama Rafindra itu sewaktu Faraz justru menertawakannya karena di ledek tidak mampu menahan bobot tubuh kekar adik iparnya itu.


"Tertawalah dengan puas, karena setelah masuk ke dalam ruangan persalinan. Mungkin kamu sampai lupa caranya bernafas," imbuhnya.


Seketika Faraz langsung terdiam dengan jantung berdetak sangat cepat.

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2