Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 145


__ADS_3

Faraz merasa Qiara bagai perampok baik hati yang menjelma jadi istrinya.


"Tumben minta kartu, bukannya kemarin aku kasih malah nolak?" sindirnya merasa lucu dengan tingkah sang Nyonya muda Bramantya kesayangannya bersama Erzhan.


"Aku bosan ngga ngelakuin apa-apa, jadi ajak mereka pergi shoping." Jelas Qiara rasanya malas sekedar meladeni sindiran suaminya


"Boleh ngga? Kalau ngga boleh, nanti aku pakai kartu si kembar ajah biar aman."


Faraz langsung menggeleng cepat, mana mungkin ia biarkan istrinya memakai uang pria lain.


"Jangan aneh-aneh sayang, mana boleh pakai uang mereka?"


"Habisnya mau minta sama kamu banyak alasan," jawab Qiara ketus.


"Ok, besok pergi shoping sepuasanya pakai kartu aku."


Faraz langsung menyerahkan black card pada istrinya yang tersenyum lebar meraih benda pemberiannya itu.


"Serius, aku boleh menggunakannya?" tanya Qiara penuh semangat.


"Hmm," Faraz tidak mau banyak bicara.


"Makasih Daddy."


Qiara sampai mencium gemas kedua pipi Faraz yang berakhir di bibir secara tidak sadar.


Benar. Sebab, mana mungkin gadis itu berani jika bukan dalam kondisi seperti sekarang, jelas dia akan menolak keras meski di paksa sekalipun.


Hal itu tentu membuat Faraz untung dan bukannya merasa di rugikan. Sebab, suami manapun akan sangat bahagia jika istrinya duluan yang berinisiatif memberi tanpa harus memelas agar di kasihani.


Ya. Selama hampir seminggu pernikahan, Faraz nyaris tidak pernah merasakan lagi perhatian dari istri cantiknya itu, saking posesifnya Erzhan tidak mau berbagi apalagi mengijinkan sang Mommy kesayangan tidur hanya berdua di dalam kamar bersama Daddy nya.


Jangankan sekedar meminta di peluk sebentar, melihat Faraz hendak mendekati Qiara. Selalu saja Erzhan menghalangi dengan banyaknya alasan tidak masuk akal, hanya demi menguasai ibu sambungnya tersebut.

__ADS_1


Dan kejadian beberapa waktu lalu, dimana Qiara dengan sendirinya mencium tanpa di paksa dulu. Jelas sangat berkesan di hati Tuan muda Bramantya.


"Kenapa?" tanya sang istri keheranan.


"Tidak ada, Mom." Jawab Faraz di barengi kekehan


Tidak mungkin ia jujur, yang ada hanya akan mendapatkan amukan dari Qiara.


"Pulangnya masih lama ngga? Aku bosan tahu," rengek gadis itu dengan manjanya duduk di atas pangkuan Faraz.


Entah sadar atau tidak sadar, tindakan Qiara sudah pasti menimbulkan perasaan lain di hati suaminya.


"Dad, ish. Di tanyain malah diam ajah, kenapa sih?" kesal Qiara menatap penuh selidik kedua mata suaminya yang tidak berkedik sama sekali.


"Aku ngga tahu mau jawab apa, Mom."


Faraz tidak berani bergerak, takut istri cantiknya langsung sadar dan beranjak keluar dari ruangan saking menahan rasa malu dan salah tingkah pastinya.


"Daddy kaget ya?" tebaknya langsung tepat sasaran.


"Ihh, suami aku kenapa pipinya merah?" goda Qiara tertawa.


"Jangan lagi, Mom."


Faraz sungguh di buat bingung dengan tingkah istrinya kadang mudah berubah-ubah seperti yang terjadi sekarang.


Namun begitu, ia sangat bahagia mengingat kapan lagi bisa menyaksikan sisi manja Qiara.


.


.


Jam pulang kantor akhirnya tiba.

__ADS_1


Di lobi parkiran, Faraz bersiap menyalakan mesin mobilnya setelah Qiara masuk kemudian duduk tepat di samping kemudi.


"Abang siapa yang jemput, Dad?" tanya Qiara setelah mobil sudah keluar menjauh dari area perusahaan.


"Neta." Jawab Faraz singkat


"Tadi aku minta tolong Mama yang jemput, tapi lagi sibuk di butik milik Mami Ayshila." Jelasnya tanpa menoleh kearah samping dimana sang istri hanya mengangguk paham.


"Aku kangen sama Abang." Gumam Qiara pelan namun masih bisa di dengar suaminya yang tertawa geli


Sepanjang perjalanan pulang, Qiara tertidur saking lelahnya ikut membantu pekerjaan Faraz di kantor.


Dia yang tahu tentang bisnis, tentu bisa di andalkan kapan saja. Meski tidak semuanya di kerjakan, kecuali suaminya yang meminta.


๐Ÿ€


Sekitar tiga puluh menit, akhirnya pasangan suami istri tersebut tiba di rumah.


Seorang pelayan tampak sengaja menyambut di depan pintu rumah dengan raut wajah tidak biasa.


Faraz turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Qiara seperti biasa. Keduanya berjalan masuk dengan beriringan setelah di beritahu apa yang terjadi selama mereka tidak ada.


Rupanya Erzhan merajuk tidak mau mandi, hanya karena terlalu lama menunggu kepulangan sang Mommy kesayangan.


Qiara memiliki kesabaran yang luar biasa selalu di uji, namun tidak pernah memperlihatkan raut wajah marah. Sehingga, anak sambungnya tersebut merasa beruntung di pertemukan dengan sosok malaikat tanpa sayap yang baik dan penyayang.


"Ayo, Mommy bantu Abang mandi." Ucapnya pelan sembari mendekat kearah Erzhan yang tersenyum lebar


Hal itu, jelas mengundang rasa iri dan cemburu di hati seorang pria tampan yang berdiri tidak jauh dari posisi anak dan istrinya.


"Cuma Abang, ngga sekalian aku juga?"


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2