Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 193


__ADS_3

Banyak yang mengira jika seorang Nona muda Rafindra yang kini statusnya menjadi Nyonya muda Bramantya tidak bisa menjadi seorang ibu sambung yang baik untuk Tuan muda kecil memiliki nama lengkap Erzhan Sarfaraz Bramantya.


Usianya yang terbilang masih sangat muda sewaktu menikah dengan seorang pengusaha tampan dan berstatuskan Duda anak satu tersebut, sempat menjadi perbincangan dalam beberapa waktu.


Tampak dari luar sangat manja, keras kepala dan bar-bar. Siapa sangka justru berhasil memenangkan hati kedua pria tampan yang memiliki sisi posesif dan masih banyak lagi kemiripan yang membuat Seorang Qiara merasa beruntung, walau terkadang ada beberapa tingkah laku dari keduanya menguji kesabaran.


Putra sambungnya kini mejelma jadi anak laki-laki yang memiliki senyum hangat, lemah lembut, baik hati, romantis dan tentunya sangat menyayangi Qiara melebihi ibu kandungnya sendiri.


Tidak jauh berbeda dengan Faraz, seiring waktu berlalu sisi romantisnya mulai terlihat dan selalu menempel pada Qiara tanpa melihat tempat.


Si kembar yang juga tidak mau kalah dari Abang Erzhan dan Daddy mereka, jelas ikut memperebutkan Qiara yang berakhir seisi rumah di buat heboh.


Ada saja tingkah lucu dan menggemaskan ketiganya saat cemburu mendapati kedua pria tampan itu menguasai sang Mommy kesayangan.


Si sulung yang memiliki nama lengkap Faqi Rasya Bramantya, karakternya begitu mirip dengan Faraz. Ibarat kata anak tampan itu merupakan duplikat Daddy nya, sangat jauh berbeda dengan Si tengah yang pendiam serta tidak mudah di dekati oleh siapa pun kecuali Mommy nya.


Sedangkan Si bungsu yang merupakan satu-satunya Tuan putri dengan segala tingkah lakunya yang menguras emosi dan kesabaran, bagaikan perpaduan antara Qiara dan Faraz.


Hampir semua sifat baik maupun kurang baik melekat dalam dirinya, tidak jarang seisi rumah ikut menerima amukannnya jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi.


Baik Qiara maupun Faraz, hanya bisa pasrah meladeni setiap karakter putra dan putri mereka. Percuma mengeluarkan tanduk, hanya akan semakin memicuh keributan dalam rumah.


Pasangan suami istri itu pun, kadang sampai nekat kabur dari rumah. Bermula hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja, nyatanya sampai berhari-hari tidak pulang yang berakhir memberikan alasan pergi liburan.


Qiara ingin protes akan tingkah posesif Faraz, namun tenaganya habis karena setiap ada kesempatan suami tampannya itu pasti mengganggunya agar berhenti mengomel.


"Daddy bisa ngga sih, sehari ajah jangan ganggu aku dulu?" kesalnya seraya menatap tajam ke arah Faraz yang menggeleng pelan tanda ia tidak mau menuruti perkataan istrinya.


"Mubazir kalau di anggurin, Mom." Ucap Faraz tertawa mendapati raut wajah masam penuh permusuhan dari wanita kesayangannya tersebut


"Malu udah punya anak empat, masa cuma begitu udah marah sih, Mom?"


Tanpa kenal takut pria itu menggoda istrinya yang kini melayangkan beberapa bantal sofa ke arahnya tanpa ampun.


"Ampun, Mom. Cuma bercanda loh, astaga." Jerit Faraz mencoba untuk menghindar namun gerakannya kalah cepat dengan jangkauan tangan istrinya yang menahan tubuhnya agar tidak kabur


"Mau kemana, hmm?" bisik Qiara tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Sudah cukup tiga hari ini, wanita itu menyetujui keputusan suaminya untuk menetap lebih lama di salah satu Vila milik keluarga Bramantya.


Qiara sudah sangat merindukan ke empat buah hatinya, tetapi Faraz justru sengaja mengulur waktu agar mereka bisa berlama-lama meninggalkan rumah.


"Daddy tega biarin anak-anak hanya di awasi Bibi pengasuh. Mana aku udah coba nahan sabar dari kemarin, tapi Daddy kelihatan cuek." Omelnya mulai kehabisan akal menghadapi tingkah pria tampan kesayangannya itu


"Kalau begini terus, jangan salahkan aku berlaku nekat." Ancam Qiara tidak main-main


Hal itu sukses membuat Faraz langsung bangkit dari tempat duduk seraya melindungi anggota tubuhnya dari jangkauan istrinya.


Bisa habis ia di tangan wanita halalnya itu. Lebih baik segera meminta maaf dan bersiap untuk pulang.


"Ampun, Mom. Jangan lagi, please." Mohon Faraz ketika menyadari gerakan Qiara hendak mendekatinya sembari tersenyum sangat manis


"Kenapa, hmm? Bukannya tadi bilang masih ada beberapa permainan yang belum kita mainkan?" tanya Qiara dengan wajah datar tanpa ekspresi


"Ngga jadi, Mom. Ok, kita pulang sekarang." Jawab Faraz sudah berlari ke arah kamar guna merapikan semua barang-barang milik istrinya


Qiara tertawa geli melihat ayah dari anak-anaknya ketakutan.


"Untung sayang, kalau ngga udah aku buat pingsan kamu, Dadd."


.


.


Mereka sengaja mampir ke beberapa toko, membelikan hadiah untuk anak-anak juga orang rumah.


Kepulangan mereka kali ini, sengaja meminta sopir keluarga yang menyetir. Karena Faraz masih ingin bermanja-manja pada Qiara.


"Aku tuh cuma sayang dan cinta sama Mommy, kenapa masih ajah libatin wanita itu sih?" gemes Faraz entah harus bagaimana lagi caranya mengatakan pada Qiara jika sekarang tidak pernah lagi bertukar kabar dengan Si mantan istri.


"Apa yang Mommy suruh sudah aku lakukan, kenapa masih belum percaya? Apa perlu aku seret dia agar kalian bisa langsung bicara empat mata?"


Qiara hanya diam sembari kedua matanya terus menatap intens wajah tampan suaminya tersebut.


Tidak ada niat menaruh curiga apalagi berprasangka tidak baik, namun hatinya sampai detik ini masih sulit untuk menerima semuanya.

__ADS_1


Faraz paham akan perasaan istrinya, sebisa mungkin tidak salah berucap yang hanya akan menyakiti hati wanita kesayangannya itu.


Dengan lembut, ia meraih wajah Qiara menggunakan kedua tangannya. Mengusap sayang pipi chubby yang masih tampak imut dan cantik, meski sekarang memang berat badan wanita itu sedikit naik beberapa kilo.


Namun begitu, tidak membuat Faraz mengurangi rasa cintanya pada sang istri. Setiap hari yang mereka lewati bersama, selalu ada kenangan indah yang sampai kapan pun tidak akan pernah di lupakan.


"Caraku mencintaimu mungkin tidak sehebat pria di luar sana, tapi pusat hati dan pikiran ku hanya tertuju padamu seorang, istriku sayang." Ungkap pria itu jujur apa adanya


"Kamu boleh cemburu, tapi jangan sampai menaruh prasangka tidak baik terhadap suami mu ini, hmm?" pintanya dengan nada pelan.


Qiara mengangguk paham, tidak tahu lagi harus berbicara apa.


"Jujur sama aku! Sebenarnya apa yang membuat Mommy belum siap bertemu dengan Sandra?" Tanya Faraz setelah di rasa istrinya mulai sedikit tenang


"Apapun itu akan aku terima, asal bukan untuk sesuatu yang jelas tidak mungkin aku lakukan."


"Memangnya boleh aku berkata jujur?" tanya balik Qiara.


Melihat Faraz hanya menganggukkan kepalanya pertanda iya, perlahan wanita itu pun akhirnya mengatakan sesuatu yang akhir-akhir ini mengganjal hatinya.


"Sandra berencana pulang dalam waktu dekat, tujuannya untuk meminta ijin membawa Erzhan pergi liburan bersamanya selama satu bulan penuh. Tapi aku langsung menolak keinginannya begitu saja," jelas Qiara dengan pandangan lurus ke depan jalan raya.


Faraz yang mendengarnya pun tidak masalah, tetapi mengapa istrinya justru melarang ibu kandung dari putranya tersebut.


"Kenapa? Bukankah mereka hanya pergi liburan, apa salahnya?"


"Ngga ada yang salah," jawab Qiara singkat.


"Terus?"


Pasangan suami istri tersebut saling pandang beberapa saat, sebelum Qiara lebih dulu mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela.


"Dia ingin agar kamu juga ikut bersama mereka, itu pun jika aku mengijinkan."


"Dan jawabanku sudah pasti menolaknya tanpa berpikir dua kali."


Faraz tersenyum, ia langsung memeluk tubuh berisi istrinya itu tanpa banyak bicara.

__ADS_1


"Jawaban mu sudah benar, sayang. Mana mungkin aku setuju ikut berlibur dengan mereka, sementara hubungan kami jelas sudah berbeda."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2