Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 24


__ADS_3

"Cepat, Kell. Kalau kamu lelet seperti ini, bisa-bisa kita terlambat."


Nia terus memburu agar putra nomor tiganya itu bergegas untuk menyelesaikan semua aktivitasnya sebelum berangkat ke sekolah.


Hari ini Nia sebagai wali murid Kello tentu saja akan hadir di acara rapat untuk wali murid yang diadakan sekolah Kello.


Sebenarnya ini masih pagi untuk Nia berangkat. Namun, karena bersemangat,  pagi-pagi sekali ia sudah mempersiapkan diri. Ini juga merupakan kesempatan untuk meminta izin kepada wali kelas Kello agar mengizinkan putra nomor tiga itu untuk tidak masuk  sekolah.


"Mi, perkumpulan wali murid itu sekitar jam 10. Ini bahkan belum jam 7 pagi. Mami datangnya pas acara mau dimulai aja. Kalau mami pergi pagi-pagi sekali, percuma. Acara belum di mulai." Kello menatap maminya yang saat ini  sudah rapi dengan pakaiannya.


"Eh?" Nia terbengong sesaat sebelum akhirnya ia menepuk keningnya. "Mami lupa. Mami kira rapat wali murid itu pagi-pagi sekali."


Nia kemudian meminta Kello untuk sarapan pelan-pelan. Sedang untuk Bima yang melihat istrinya sibuk pagi-pagi sekali hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hari ini adalah hari terakhir Bima pergi ke kantor karena besok dan seminggu ke depan ia akan cuti dari kantor untuk berkunjung ke desa di mana Jillo tinggal.


Usai sarapan, ia dan Kello kemudian langsung pamit pergi meninggalkan Nia yang merapikan peralatan makan dengan santai. Tidak seperti tadi pagi ia di buru-buru oleh waktu.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, membuat Mpok Atun yang sedang menyapu di ruang keluarga segera menghampiri pintu utama dan membukanya.


"Cari Bu Nia?" Mpok Atun langsung menebak tujuan pria yang berdiri di hadapannya datang berkunjung. Tentu saja mbok Atun sudah beberapa kali melihat pria itu datang untuk menanyakan pertanyaan yang sama.


"Nia ada? Saya mau menanyakan keberadaan istri saya sama dia."


"Kalau Ibu Nia ada di dalam. Tapi istri dan anak-anak bapak enggak ada di sini." Mpok Atun dengan sopan mempersilakan agar pria yang ia ketahui bernama Alex itu masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara ia sendiri mencari keberadaan Nia yang saat ini sedang memberikan Alana serta Alea sarapan pagi.


"Bu, ada Pak Alex, suaminya Bu Bella di luar," lapor  Mpok Atun.


Nia kemudian meminta Bu Yuni untuk menggantikan posisinya memberi kedua anak kembarnya makan. Sementara ia sendiri segera menghampiri Alex yang saat ini terlihat sangat kacau dilihat dari pakaian yang dikenakannya sangat tidak beraturan. Belum lagi kantong mata terlihat sangat jelas dari jarak sedekat ini. Nia bertanya-tanya  mengapa Alex bisa seperti ini? Bukankah akan sangat membahagiakan jika Bella dan kedua anaknya pergi? Pikirnya dalam hati.


"Kamu kenapa acak-acakan seperti ini, Lex? Udah berapa lama kamu enggak mandi? Kusam banget," komentar Nia, setelah melihat kondisi Alex.


Wanita itu dengan tenang duduk di sofa yang berseberangan dengan posisi Alex berada. Bokongnya baru saja menyentuh kain sofa, ketika Alex tiba-tiba berdiri dan berlutut di samping sofa yang ia duduki. Melihat itu, Nia spontan berdiri dan bergerak menjauh. Jujur saja ia cukup terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari suami temannya itu.


"Kamu kenapa berlutut di situ? Aku bukan sesuatu yang bisa kamu sujud, ya, Lex!" Nia bergidik ngeri melihat tatapan Alex mirip dengan seseorang yang kehilangan arah. Apalagi melihat raut wajah pria itu yang terlihat sangat putus asa serta air mata yang berlinang di pipinya membuat Nia panik.

__ADS_1


Wanita itu takut jika ada orang yang tiba-tiba datang dan berpikir jika ia sudah menganiaya pria di hadapannya.


"Nia, aku mohon sama kamu. Tolong kasih tahu aku di mana Bella dan anak-anakku berada. Aku enggak sanggup kehilangan mereka, Nia. Tolong."


Suara Alex yang bergetar karena diiringi dengan isak tangis tentu saja membuat Nia bergidik. Pria yang biasanya penuh wibawa dan pendiam itu tiba-tiba bersujud dan menangis di hadapannya untuk memberitahu di mana istri dan anak-anaknya berada.


Nia mengerut keningnya menatap Alex ragu.  "Lex, bukannya aku mau ikut campur urusan keluarga kamu. Tapi, bukannya kamu harusnya bersyukur kalau Bella pergi dari hidup kamu? Dengan kepergian Bella, setidaknya enggak ada yang mengganggu hubungan kamu dengan perempuan itu."


"Perempuan siapa yang kamu maksud, Nia? Aku enggak ada perempuan lain selain Bella. Dari dulu, sampai sekarang."


"Siapa lagi perempuan yang kamu anggap sebagai sahabat kamu itu? Bukannya dia lebih berarti dari Bella? Jadi, kalaupun Bella pergi, aku rasa kamu enggak akan rugi."


"Astrid maksud kamu? Nia, aku sudah berapa kali jelaskan pada Bella kalau aku dan Astrid enggak ada hubungan apa-apa. Kami murni berteman dan enggak lebih."  Alex berdiri dan menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan dengan sungguh-sungguh.


Nia menyipitkan matanya menatap Alex. Wanita itu mencari kebohongan di mata elang milik pria yang kini sudah mulai sembab.


"Kamu yakin kamu enggak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu? Kalau kamu memang enggak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu, enggak mungkin Bella pergi begitu aja."


"Bella hanya salah paham. Bella cemburu kalau aku punya teman perempuan." Raut wajah Alex terlihat marah. "Berarti Bella masih enggak percaya kalau aku hanya mencintai dia?" Pria itu tersenyum sinis memikirkan jika tidak ada kepercayaan di dalam pernikahannya.


"Hal apa yang kamu maksud?*


"Pertama, kamu melupakan anniversary pernikahan kalian. Kedua, kamu melupakan ulang tahun anak-anak yang akan dirayakan minggu kemarin. Ketiga, kamu selalu menghabiskan waktu dengan perempuan itu." Nia menatap tepat pada manik mata Alex. "Kalau aku jadi Bella, aku enggak akan ninggalin kamu. Tapi, aku akan buat kamu impoten seumur hidup dan kuras semua harta kamu. Setelah itu, aku cari laki-laki muda yang mau sama aku."


Seringai Nia yang begitu menakutkan tanpa sadar membuat Alex sebagai pria dewasa yang pendiam mundur  dua langkah ke belakang.


Untung, untung aja istriku Bella, bukan Nia. Pria itu menghela napas tanpa sadar memikirkan nasib suami Nia sekarang jika tiba-tiba wanita itu curiga suaminya memiliki selingkuhan di luar.


Bella memang tegas dan tangguh. Namun, tidak se-menyeramkan Nia.


"Aku dan Astrid benar-benar berteman. Kalau kamu enggak percaya, kita bisa ketemu dengan Astrid." Ada tekad dimata Alex yang begitu yakin jika ia tidak memiliki hubungan apa-apa selain bersahabat. Hal itu tentu saja membuat Nia menyeringai.


"Oke. Kita temui Astrid itu sekarang. Di mana dia sekarang?"

__ADS_1


"Harusnya dia ada di rumahnya. Hari ini ada pertemuan keluarga di rumah orang tuanya."


"Bagus. Kita ke rumahnya sekarang."


____


Sementara itu Bima sendiri baru melangkah masuk ke dalam perusahaan yang akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan miliknya. Perusahaan ini tentu saja milik  orang tua dari Fatma. Sejujurnya Bima tidak ingin datang ke kantor ini mengingat penyebab istrinya marah juga berada di gedung tinggi ini. Namun, jika Bima membatalkan pertemuan, maka ia akan dianggap tidak profesional.


Bima dan Eren melangkah masuk disambut oleh sekretaris Pak Handoko. Pak Handoko sendiri merupakan adik dari Ningrum yang merupakan nenek biologis Arga. Pria itu sedikit terkejut mengetahui fakta jika wanita yang selalu mengganggunya itu memiliki hubungan persaudaraan dengan putranya, Arga.


"Mari, Pak."


Bima dipersilakan untuk masuk ke ruang rapat. Di dalam ruang rapat ada beberapa orang yang merupakan jajaran penting perusahaan termasuk bapak kandung Fatma dan juga Fatma sendiri.


Fatma tersenyum manis menyambut kedatangan Bima.


"Mas, kamu datang akhirnya." Fatma menyambut Bima dengan senyum manis, membuat Pak Handoko menatap putrinya.


"Kamu sepertinya sudah dekat dengan Pak Bima, Fatma," ujar Pak Handoko sambil tertawa.


"Ah, enggak juga, Pa. Aku dengan Mas Bima hanya beberapa kali makan di restoran bersama."


Fatma memang tidak mengakui ia dekat dengan Bima. Namun, kalimatnya yang mengatakan sering makan bersama di restoran tentu saja membuat beberapa orang tidak percaya jika kedua orang itu tidak memiliki hubungan.


"Saya memang pernah satu kali makan siang dengan Bu Fatma. Itu pun dengan sekretaris saya, Eren." Bima tersenyum sambil menunjuk Eren.  "Senang bertemu dengan Anda, Pak Handoko. Istri saya sangat mengagumi Anda karena kejeniusan Anda dalam bisnis dan ingin sekali bertemu dengan Anda."


Senyum Pak Handoko menghilang ketika mendengar ucapan Bima. Pria paruh baya itu menatap Bima dengan kening mengerut. "Bukankah istrinya pak Bima sudah meninggal?" tanyanya ragu. 


"Oh, yang saya bahas adalah istri saya yang sekarang, Pak Handoko. Namanya Arrania Wilati. Seharusnya hari ini dia ikut dengan saya untuk bertemu dengan bapak. Sayangnya, istri saya harus merawat anak-anak saya di rumah. Apalagi kami masih punya bayi," sahut Bima tanpa menghilangkan senyumnya.


Percayalah, Bima berbohong tanpa mengedipkan matanya. Lagi pula, Nia mana mengerti tentang jejeran pengusaha-pengusaha  terkenal.  Istrinya itu mungkin tidak tahu jika ada Pak Handoko yang hidup di dunia ini.


Bima sendiri dengan bangganya mengatakan di depan banyak orang saat ini jika istrinya sedang merawat anak-anak mereka di rumah. Pria itu tidak tahu saja, jika saat ini sang istri yang sedang ia ceritakan dengan penuh kebanggaan sedang dalam perjalanan menuju medan tempur di mana orang ketiga dalam rumah tangga sahabatnya berada.

__ADS_1


"Oh, ternyata pak Bima sudah punya istri lagi. Saya kira Pak Bima single." Pak Handoko menarik wajahnya berusaha untuk bersikap tenang. Pria paruh baya itu tidak tahu jika ternyata pria yang ia sukai dan cocok untuk menjadi suami anaknya sudah memiliki istri lagi.


Sementara Bima hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka mungkin tidak tahu jika  Arga yang merupakan cucu dari Ningrum adalah anak dari seorang Bima Sanjaya.


__ADS_2