
Qiara sampai menggigit pelan bibir bawahnya karena ulah jahil Faraz yang bermain-main di area telinga dan leher.
"Daddy," panggilnya lirih merasakan sesuatu yang aneh menyelimuti akal sehatnya.
Faraz tidak berhenti mencium bahkan menggigit pelan area sensitif istrinya saking terbuai perasaan, akhirnya bisa melakukan apa yang sejak awal menikah ingin sekali ia lakukan tapi khawatir Qiara marah dan merajuk.
Jangan menanyakan apakah bersama mantan istrinya pernah melakukan seperti itu, sebab pernikahan yang mereka jalani layaknya pasangan suami istri di atas kertas saja. Tanpa adanya perlakuan romantis apalagi sampai ke tahap yang seperti pria itu lakukan pada Qiara.
Semua hanya karena belas kasihan dan rasa tanggung jawab agar kelak orang lain tidak menilai Ibu kandung dari Erzhan tersebut sebagai sosok yang tidak baik dan hanya menginginkan kekayaan seperti yang di rencanakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
.
.
Qiara benar-benar di buat panik, sewaktu tangan Faraz mulai bergerak sesuka hati.
"Daddy mau ngapain?" tanyanya seraya menahan tangan kekar Faraz agar tidak masuk ke dalam atasan yang dia kenakan.
"Jangan aneh-aneh, Dad."
Qiara takut ada yang melihat kelakuan suaminya yang tidak kenal tempat. Dia tidak akan marah hanya karena ini baru pertama kali Faraz lakukan, meski rasanya sedikit aneh menurutnya.
"Kamar yuk, Mom!" Ajak Faraz dengan suara serak menahan sesuatu yang ingin segera di tuntaskan
Bohong jika pria itu tidak terpancing, ketika mencium aroma tubuh istrinya yang sangat wangi dan menenangkan.
"Daddy nakal ya," kekeh Qiara berusaha menormalkan detak jantungnya yang rasanya mau copot.
"Aku ngga akan di apa-apain kan?" tanyanya penuh selidik menatap kedua manik mata Faraz yang berubah sendu.
"Mommy nyiksa aku gitu?" tanya pria itu balik.
"Ish, pokoknya ngga boleh sampai kita liburan besok." Jawab Qiara menatap malas suaminya tersebut
"Aku ngga kuat sayang, nyiksa banget sih jadi istri." Protes Faraz sangat frustasi harus menahan diri agar tidak menerkam istrinya sekarang juga
"Sabar lah, suamiku sayang. Besok 'kan mau pergi liburan hanya berdua," rayu Qiara seraya menaik turunkan kedua alisnya setengah menggoda.
Faraz membuang nafas kasar, tidak tahu kah istrinya jika ia sangat tersiksa sekarang.
"Aku ngga akan berlebihan, cuma mau yang itu ajah." Tunjuknya kearah bagian atas tubuh Qiara
Hal itu, sontak membuat istrinya kalang kabut antara malu dan takut bagaimana jika nantinya pria itu justru kebablasan.
__ADS_1
"Ngga percaya aku, sumpah." Ucap Qiara serius dengan sorot mata tajam
"Daddy mana bisa tahan kalau udah di kasih satu, tetap maunya yang lain juga." Sindirnya tepat sasaran berhasil menyudutkan Faraz yang tercengang tidak percaya
"Sayang," rengek pria itu melihat istrinya sudah berlari masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.
Faraz mengacak rambutnya frustasi dengan pandangan kearah bagian tengah tubuhnya yang mengeras di balik celana yang ia kenakan.
Aarrgghh ...
Teriaknya kesal tidak bisa melakukan apa yang membuat kepalanya hampir tiap malam berdenyut sakit.
Tidak mau sampai Qiara nekat mengunci pintu kamar, Faraz berlari masuk langsung manuju arah lift yang kebetulan masih terbuka karena ada istrinya di dalam.
"Daddy kenapa lari-lari?" heran gadis itu melihat keringat membasahi wajah tampan suaminya.
"Takut aku kunci pintunya ya?" tanyanya sembari menahan diri agar tidak tertawa.
Qiara mengusap keringat suaminya dengan sapu tangan yang kebetulan ada di saku celana pria itu.
"Mainnya kalau udah di tempat liburan ajah ya?" bisiknya pelan di telinga Faraz yang membeku.
"Aku ngga mau sampai gagal perginya," jujur Qiara akhirnya di pahami suaminya yang semula beranggapan tidak mau memberi.
"Honeymoon kan?" tanyanya dengan senyum tertahan.
"Hmm," jawab Qiara dengan deheman.
"Berarti aku boleh main-main dong," kekeh Faraz langsung mendapat cubitan dari istrinya yang menahan malu dan salah tingkah.
Di peluknya Qiara dengan penuh rasa syukur, masih bisa di beri kesempatan menjadi pria pertama bagi istrinya tersebut. Meski Faraz sadar diri bukan sang istri yang pertama ia sentuh dan nikahi.
Betapa aku sangat menyesal karena dulu tidak mampu bertahan. Bathin Faraz penuh sesal
Pria itu berjanji, kelak meski ujian dan cobaan datang silih berganti. Hanya akan ada Qiara pemilik hatinya dan sampai ia mati cukup istrinya yang berada di sisinya dan Erzhan.
.
.
Kini pasangan suami istri tersebut sudah berada di dalam kamar.
Keduanya tidur dengan saling berpelukan, meluapkan perasaan maaing-masing. Seolah takut ada yang mencoba ingin memisahkan, walau kenyatannya tidak ada yang mungkin berani.
__ADS_1
Kecuali jika memang orang-orang itu sudah bosan dan tidak menyayangi nyawa mereka sendiri.
"Mom," panggil Faraz yang wajahnya sudah bersembunyi di dada sang istri dengan nyamannya.
"Tidur Dad! Nanti ngga bisa kabur loh," sahut Qiara dengan tangan kanan mengusap pelan punggung suaminya itu.
Sesekali dia mencium pucuk kepala pria itu agar cepat terbuai mimpi.
"Abang ngga akan ngambek kan, Mom?" tanya Faraz di sela rasa kantuk mulai melanda.
"Ada banyak orang yang akan memberinya pengertian, kita juga butuh waktu berdua." Jawab Qiara ikut merasakan kantuk
"Aku mencintaimu," gumam pria itu nyaris tidak terdengar.
Kedua mata Qiara terbuka sembari tersenyum manis.
Aku juga mencintaimu, suamiku sayang.
Balasnya namun hanya di dalam hati.
Keduanya langsung tertidur, mengingat subuh nanti akan kabur pergi liburan ke suatu tempat yang tidak akan ada yang tahu selain pasangan suami istri tersebut.
.
.
Menjelang subuh, Qiara benar-benar membawa kabur suaminya dengan meminta bantuan si kembar untuk memasukkan Faraz ke dalam mobil.
Rencana licik gadis itu rupanya di bantu ketiga Kakak nya yang semula geram mengetahui akan ada seorang wanita datang berkunjung di rumah si bungsu kesayangan.
"Kok ngga bangun-bangun, Queen?" tanya Zizi yang menatap keheranan adik iparnya tersebut.
"Kamu ngga macam-macam kan, Dek?" timpal Zafir bergidik ngeri mebayangkan aksi nekat si bungsu.
Berbeda dengan Si sulung yang tersenyum licik bersama Qiara.
Rencana mereka akhirnya berhasil, dimana sebelum tidur Zaidan memberikan segelas air putih sudah bercampur dengan obat tidur kepada Qiara. Agar ketika subuh, Faraz masih dalam keadaan terlelap hingga tiba di tempat liburan.
Zhe dan Zafir hanya bisa saling pandang, kini mereka yakin ada yang tidak beres dengan Kakak pertama juga si bungsu.
"Wah, ada udang dibalik bakwan." Seru keduanya berbarengan
Siapa sangka tidurnya Faraz seperti layaknya orang pingsan justru karena ulah kedua anak manusia yang tertawa di hadapan mereka tersebut.
__ADS_1
๐๐๐๐๐