Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 185


__ADS_3

Liburan sudah berakhir.


Tidak terasa usia kandungan Qiara sudah memasuki enam bulan dan rencananya pihak keluarga akan mengadakan doa syukuran tujuh bulanan di kediaman Bramantya tepat sebulan mendatang.


Semua sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari, mengingat padatnya kesibukan menuju hari H. Tidak akan sempat mengatur ini dan itu jika waktunya mepet, terlebih Faraz mulai di sibukkan dengan pekerjaan yang mengharuskannya sering kali bolak balik dinas keluar kota maupun keluar negri sepulangnya dari liburan kemarin.


Ingin rasanya pria itu mengajak sang istri tercinta bersama Erzhan pergi bersama, tetapi apa daya semua tidak memungkinkan bagi Qiara untuk bepergian jauh. Karena resikonya terlalu besar dan pihak keluarga pun sudah pasti tidak akan mengijinkan.


Selama Faraz berada di luar kota terhitung mulai dari dua hari yang lalu, selama itu juga Qiara harus rela tinggal di kediaman Rafindra bersama keluarganya. Tidak lupa selalu ada Erzhan ikut bersama kemana pun wanita itu pergi, seolah tidak mau jauh-jauh dari sang Mommy dan selalu menolak ajakan Tuan Rasya dan Nyonya Kamila saat di minta untuk menginap di rumah utama Bramantya.


Hal itu sempat membuat Qiara merasa tidak enak hati setiap kali putra sambungnya tersebut menolak ajakan dari kedua mertuanya, meski sudah berulang kali di rayu tetap saja Erzhan menolak dengan alasan di minta Daddy untuk mengawasi wanita kesayangan mereka tersebut agar tidak sembarangan keluar rumah.


Dan kejadian itu kini terulang kembali, dimana sudah ada Tuan dan Nyonya besar Bramantya datang menemui Qiara guna meminta ijin untuk membawa Erzhan keluar jalan-jalan, namun rupanya anak tampan itu sudah hilang kesabarannya saking merasa di bohongi.


Erzhan menatap sang Mommy dengan sorot mata penuh kekecewaan, tidak menyangka sampai detik ini wanita cantik kesayangannya dan Daddy Faraz tersebut sudah berani tidak jujur padanya.


"Abang udah kapok ya, pernah nurut waktu Mommy bilang Opa dan Oma sangat rindu mau bertemu padahal semua cuma alasan." Ucapnya datar mulai timbul tanduk di kepalanya saking kecewa


"Ngga habis pikir sama kelakuan Mommy, bilangnya Oma dan Opa beneran rindu Abang. Eh, kenyataannya Mommy sengaja minta mereka jemput Abang, biar Mommy bisa pergi keluar bersama Aunty Tata dan Paman Tara."


Erzhan menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan.


"Mana perginya sembunyi-sembunyi dari Abang lagi. Alasan doang kan, biar Abang ngga ikut pergi juga?"


DEG


Mendengar perkataan Erzhan seolah menyudutkan, berhasil membungkam mulut Qiara bersama kedua anak manusia yang jadi dalang mengapa anak tampan itu tidak mau pergi ke kediaman Bramantya meski sudah di rayu sedemikian rupa.


Tampak Neta bersama Tara seolah terpojok karena benar apa yang di katakan Erzhan, bahwa mereka lah yang selalu mengajak Qiara pergi keluar sekedar jalan-jalan.


Sudah ada ijin dari Faraz sendiri, tetapi pria itu memang tidak tahu kalau istrinya pergi tanpa membawa serta Erzhan.


Jadi tidak heran jika saat ini anak tampan itu mulai melayangkan kalimat protesnya juga memberontak akan mengadukan semuanya pada sang Daddy jika masih berbohong.

__ADS_1


"Abang jangan kasih tahu Daddy, bisa kan?" mohon Qiara jadi serba salah antara tetap pergi atau memilih diam di rumah jika tidak ingin Faraz mengomelinya ketika pulang dari luar kota nanti.


"Iya nih. Masa sampai ngadu segala sih?" timpal Neta sebenarnya takut bagaimana jika Erzhan sampai nekat melaporkan pebuatan mereka pada Faraz.


Sementara pria tampan yang sedari awal kedatangannya hanya diam mendengarkan justru dengan sadar mengangkat telefon dari Faraz, membiarkan sambungan telefon masih terhubung bahkan sahabatnya itu pun ikut mendengarkan semuanya dari awal.


Termasuk apa yang di katakan Erzhan, tidak luput dari pendengaran Faraz.


Mampus, aku harus ngapain sekarang? Bathin Tara menjerit


Suara bariton Faraz memang terdengar sangat mengerikan, sampai Qiara dan lainnya pun di buat kaget mendengar teriakan pria itu.


Tara sengaja mengeraskan volume suaranya karena di minta, bahkan ia mengarahkan benda pipih tersebut ke depan Qiara sembari memohon maaf.


[Mommy, tunggu Daddy pulang. Siap-siap ajah hukumannya tiga kali lipat dari kemarin!]


Usai mengatakan itu, sambungan telefon langsung di putus sepihak oleh Faraz.


Tuan dan Nyonya besar Rafindra langsung keluar dari rumah bersama Tuan dan Nyonya besar Bramantya menuju perusahaan mereka masing-masing.


Tersisa si kembar, Tara, Neta dan Erzhan yang masih setia menemani Qiara. Seolah mereka ikut mendapatkan hukuman dari Faraz.


"Uncle kenapa pakai angkat telefon Daddy sih?" kesal Erzhan tidak menyangka sahabat Daddy nya tersebut malah berkhianat.


"Abang memang kecewa sama Mommy, tapi ngga sampai buat Mommy kena hukuman juga kan?"


Sungguh Erzhan merasa kepalanya pusing karena harus merayu sang Daddy agar tidak memberi hukuman pada Mommy nya.


Bukan tanpa sebab, karena ia pun akan mengalami hal yang sama. Jadi sebisa mungkin kepulangan Daddy nya yang tersisa tiga hari lagi, harus membuat rencana agar hukumannya bersama sang Mommy di ringankan.


Qiara menatap sedih kearah putra sambungnya seolah meminta petolongan, kali ini entah hukuman apalagi yang akan mereka dapatkan.


"Mommy ngga mau di kurung lagi, Bang." Rengeknya dengan kedua mata sudah berkaca kaca

__ADS_1


"Siapa suruh nakal sih, jadi ketahuan Daddy kan?" cebik Erzhan tidak suka namun setelahnya ia beralih memeluk sayang Mommy nya.


Pasangan ibu dan anak itu saling memberi kekuatan agar nantinya bisa menghadapi hukuman dari Faraz.


Ketiga Tuan muda Rafindra beserta dua anak manusia lainnya hanya bisa melihat dengan tatapan berbeda-beda.


.


.


Berbanding terbalik dengan apa yang di lakukan Faraz ketika sambungan telefon terputus.


Di dalam ruangan yang hanya ia sendiri tanpa adanya orang lain, tampak pria itu memijit pangkal hidungnya sembari membuang nafas kasar.


"Ini nih yang aku ngga suka kalau ninggalin mereka lama-lama, udah pasti Mommy susah di kasih tahu."


"Sengaja minta Abang buat jaga Mommy nya, tetap ajah kecolongan."


Faraz langsung saja mengirim pesan singkat pada Sekertaris Delia, memintanya agar menyelesaikan beberapa dokumen penting dalam waktu kurang lebih satu hari.


Rencananya lusa ia akan pulang, tidak betah jika harus berlama-lama meninggalkan anak dan istrinya.


"Aku harus cepat pulang, ngga baik lama-lama di sini. Bisa hilang istriku nanti di ambil orang."


Pria itu mengetahui kepergian istrinya dengan alasan jalan-jalan beraama Neta dan Tara, pada kenyataannya ingin menemui seseorang.


Dan orang itu jelas Faraz tahu, karena ia sendiri pun sudah pernah bertemu dengan sosok yang membuat istrinya nekat membohongi Erzhan berulang kali.


Tidak selingkuh bukan berarti Faraz akan membiarkan Qiara bebas menemui pria lain di luar sana, meski pria yang ia maksud jelas bukan orang lain bagi sang istri tercinta.


"Perut udah sebesar itu, masih ajah nakal pengen ketemu pria lain."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2