
Keluarga Dian telah pulang dengan mobil orangtua Angga, mereka di antar seorang supir karena Angga ada keperluan yang mendadak.
Dian menatap jalan yang telah di lewati keluarganya, ada rasa sakit di hatinya saat melihat mereka pergi, rasanya Dian ingin ikut bersama mereka tapi apalah daya kini dia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
Angga yang menemani Dian berkata, "sudah jangan terus memikirkan mereka sayang, ini sudah menjadi suratan takdir di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan".
Dian menjawab Angga sambil menangis "Aku tau mas tapi kenapa rasanya sesakit ini padahal dulu saat mereka mengunjungi ku di kota dan mereka pulang tidak sesakit ini, atau karena aku sedang hamil ya mas"
" Mungkin saat mereka pulang dulu, kamu berpikir pasti kamu akan pulang ke rumah mereka, jadi kamu tidak terlalu sedih, tapi sekarang kamu merasa bahwa kamu sudah tidak akan tinggal lagi dengan mereka.
Dian memeluk suaminya berharap bisa menenangkan hatinya, "Sabar semua wanita pasti mengalaminya", ucap Angga sambil mengelus punggung istrinya.
Setelah Dian merasa tenang Angga berkata
"sayang karena kita sudah ada di sini bunda dan ayah menyuruh kita untuk tinggal di sini, mereka ingin merasakan rasanya mempunyai menantu apa lagi mas anak tunggal".
__ADS_1
Dian menyetujui keinginan mertuanya karena dia memang ingin tinggal di sana karena di sana dia bisa ikut berkebun dengan mertuanya.
"Kalau begitu ayo kita masuk" ajak Angga, saat mereka berjalan Dian bertanya "Mas kamu bilang tadi ada keperluan memangnya mas mau kemana ?".
"Mas juga tidak tau sayang ayah hanya menyuruh mas agar menyusulnya ke salah satu lestoran miliknya". ucap Angga.
Meraka sampai di kamar, "Sayang mas berangkat sekarang dan kamu sebaiknya beristirahat dan jangan memikirkan hal yang aneh-aneh". ucap Angga lalu mencium Dian "kabari mas jika kamu membutuhkan sesuatu.
"Iya mas" jawab Dian
karena merasa bosan Dian pergi ke balkon kamarnya untuk menghirup udara di sore hari, setelah sampai di balkon Dian melihat para pekerja sedang menyiram tanaman sayur bunda dan terlintas di benaknya untuk ikut bergabung.
Dian keluar dari kamarnya lalu turun kebawah setelah itu Dian pergi ke kebun sayur yang ada di belakang rumah.
Saat Dian ingin membantu para pekerja tiba-tiba Angga datang dan melarangnya. Dian marah pada Angga karena suaminya itu mengganggu kesenangannya.
__ADS_1
Dian terus mengoceh seperti anak kecil.
"kenapa mas Angga sudah pulang sih perasaan dia baru sebentar pergi kenapa dia Sudah kembali" lalu Dian melihat jam yang ada di ponselnya "pantas saja dia sudah pulang ternyata sudah jam 5 sore".
Dian berjalan dengan kaki yang di hentak-hentakkan,
Angga yang melihatnya merasa ngilu mengingat Dian sedang mengandung buah hatinya.
Angga menyusul Dian dengan langkah yang lebar setelah sampai Angga langsung menggendong Dian, "Mas turunin aku, aku tuh marah sama mas". ucap Dian
"Sayang kenapa kamu jadi mudah marah sekarang?".
tanya Angga.
"Aku tidak tau pokonya aku marah sama mas" ucap Dian cemberut.
__ADS_1
"Sayang itu bibir mu tolong di kondisikan karena ini masih sore" ucap Angga. Dian tidak mendengarkan Angga karena dia masih kesal karena Angga melarangnya menyiram tanaman sayur bunda.