
Setelah Sinta dan Dian selesai mengerjakan pekerjaan mereka, sinta dan dian pun kini masuk ke ruang tv.
"Ka, kata ibu kemarin ada yang datang mau melamar kaka?".
"Oh Ibu sudah cerita ya", jawab ka Sinta.
"Iya ka,, kaka kenapa tidak di menerima lamarannya?". Tanya Dian.
"Kaka tidak terlalu suka sama dia".
"Kaka tidak suka atau kaka masih kepikiran mas Dani".
"Mungkin dua-duanya", jawab sinta.
"Ka tau tidak, rasa cinta dan rasa sayang tidak datang tiba-tiba, tidak seperti yang kaka rasakan pada almarhum mas dani, ada yang karna terbiasa bersama, ada yang awalnya benci terus jadi cinta".
"Bukalah hati kaka, terima salah satu yang terbaik menurut kaka dan coba kaka jalani toh jika yang kaka pilih bukan jodoh kaka di akan lepas dengan sendirinya, tanpa susah payah kita melepaskannya".
"Tapi jika yang kaka pilih adalah jodoh kaka, sekuat apapun kaka menghindar di akan menjadi jodoh kaka".
__ADS_1
Sinta tida membantah apa yang di katakan dian karna memang benar takdir seperti itu.
"Ka, apa kaka tidak merasa kasihan pada Ibu dan Bapa, setiap hari mereka berdo'a agar kaka bisa bangkit dan mendapatkan jodoh, mereka juga takut aku melangkahi kaka, mereka takut kaka semakin terpuruk jika sampai aku melangkahi kaka, mereka hanya ingin melihat kaka bahagia, seperti orang lain mempunyai pasangan dan juga anak, dan apa kaka tidak kasian padaku". Dianpun memasang wajah seperti ingin menangis.
Sinta melihat dian, dengan tatapan yang seolah-olah berkata, "kenapa kaka harus kasian pada mu. batin Sinta.
Dian mengerti akan tatapan itu dan langsung berkata.
Dian manghembukan napas berat, aku juga ingin punya suami aku cape ka, setiap kali pulang kampung pasti mereka nanya kapan nikah, aku jawab belum ada calon,
"mereka jawab lagi mau cari yang seperti apa, di tawarin yang mapan tidak mau, yang tampan tidak mau yang sholeh juga tidak mau, perempuan umur segitu sudah ketuaan, sakit rasanya.
"Kaka ih, oh iya aku sudah ada calon, mungkin pas nanti pulang lagi kesini, aku akan mengenalkan dia pada kalian".
"Ya bawa aja apa susah nya".
"Kaka, Dian meninggikan suaranya, dian itu sayang sama kaka dian tidak mau nyakitin kaka".
"Kaka, tidak apa-apa kamu tenang saja".
__ADS_1
Dianpun bangkit dan pergi meninggalkan kaka nya.
Setelah kepergian Dian, Sinta pun memikirkan apa yang Dian katakan. "Dasar anak itu kalau sudah ngomong cerewetnya mengalahkan ibu.
Dian yang berjalan menuju kamarnya tidak sengaja melihat ke arah jam dinding, ampun sudah jam 03. Dian pun Bergegas ke kamar mandi tidak lupa Dian membawa handuk dan pakayan gantinya, setelah mandi dian pun langsung melaksanakan sholat ashar.
"Bu, bu. Ibupun datang dari belakang, "iya ada apa nak ?".
"Dian mau berangkat Bu, ini sudah sore", Dianpun mencium tangan ibu. "Ka, Dian berangkat, jangan lupa buka hati kaka !. Bu bapa mana?.
"Mungkin Bapa mu, sedang ngobrol sama pak RT".
"Kalau bapa sudah pulang tolong katakan pada Bapa, maaf tidak bisa pamit langsung, soalnya Dian buru-buru takut kemalaman".
"Iya, hati-hati di jalan dan kabari ibu kalau sudah sampai"
"Siap Bu, assalamu'alaikum, ibu dan Sintapun menjawab salam dian,
"Bismillah", Dian pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah Ibu.
__ADS_1