Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Pilihan Dian


__ADS_3

"Sayang aku ini ingin makan di temani sama kamu, masa sudah punya istri makannya sendiri".


"Maaf mas Dian kira mas mau makan sendiri, kalau begitu tunggu sebentar aku bereskan ini dulu setelah ini kita makan sama-sama".


Setelah Dian membereskan pekerjaannya Mereka pun kini sedang menikmati makanan mereka, Angga tidak mau makan dengan piring terpisah karena menurutnya tidak nikmat dan jika sepiring berdua rsanya sangat romantis menurut Angga. sementara Dian menurut saja.


Dian berkata dalam hati "Begini ternyata rasanya sepiring berdua, rasanya seperti ada bunga yang bermekaran". saat Dian memikirkan hal tersebut Dian tersenyum sangat manis, manisnya mengalahkan gula menurut Angga.


Mereka makan tanpa bersuara. Angga melihat nasi di pipi Dian dia ingin membersihkan nasi tersebut tapi di salah artikan oleh Dian.


Dian pikir Angga ingin menciumnya karna Angga mendekatkan wajahnya sangat dekat, Dian pun langsung menutup mata.


Angga tersenyum karna melihat reaksi Dian, Angga terus mendekat sampai hembusan napasnya terasa di wajah Dian.


Jantung Dian sudah berdetak dengan kencang, hap.


lalu Angga berkata.


"Ada nasi di pipi kamu sayang".


Dian replek memukul Dada Angga karena kesal dengan tingkah suaminya yang selalu mengerjainya.

__ADS_1


"Sayang sudah jangan pukul mas terus!".


Dian langsung menghentikan pukulannya dan Dian berkata.


"Kenapa sakit mas?". Angga mengangkat dagu Dian dan berkata.


"Tidak sakit sayang mau sampai pagi juga kamu mukulin mas tidak akan terasa sakit, karna pukulan mu terasa seperti sedang mengelus dada mas".


Angga mengambil satu tangan Dian dan meletakkannya di bawah perutnya.


"Mas ih", Dian mencoba melepaskan genggaman tangan Angga, bukannya melepaskan genggamannya Angga justru membuat tangan Dian seperti sedang mengelus juniornya, Dian pasrah dan cemberut. Angga yang melihatnya semakin tidak sabar untuk masuk ke kamar.


"Sayang mas sudah kenyang". Dian menganggukan kepalanya dan berkata, "Kalau begitu mas lepaskan tangan Dian dulu!, karena Dian mau membereskan bekas makan kita".


Setelah selesai Angga menyuruh Dian duduk, untuk menanyakan di mana mereka akan tinggal setelah ke kota.


"Sayang boleh mas bertanya?".


"Tentu saja boleh mas, memangnya apa yang mas mau tanyakan".


"Bolehkah mad menyentuh kamu lagi?".

__ADS_1


"Mas ini apa tidak bosan", ucap Dian ketus.


"Tidak akan bosan sayang, jadi bolehkan?".


Dian tidak langsung menjawab Dian berpikir sebentar lalu mengangguk. Mau menolak juga percuma karna Angga pasti mengingatkan kewajibanya sebagai seorang istri.


Angga tersenyum penuh kemenangan karna sekarang tidak harus berdebat dulu jika ingin menyentuh Dian.


"Sebenarnya tadi mas hanya mengoda mu saja tapi karena kamu mau ya sudah kita ke kamar sekarang mumpung lagi sepi".


"Tunggu mas bukannya tadi mas mau menanyakan sesuatu?".


"Iya lupa saking asiknya menggoda kamu sayang mas jadi lupa". Dian hanya tersenyum mendengar ucapan Angga.


"Kamu mau tinggal di mana jika kita sudah sampai di kota, apa kamu mau tinggal di kosan mas yang sempit, atau di rumah Rika?".


"ko di rumah Rika bukan di rumah bunda?".


"karena rumah bunda jauh dari kantor mas, hanya sementara sebelum kita punya rumah sendiri".


"Di kosan mas saja".

__ADS_1


"Pilihan yang bagus, mas kira kamu akan memilih tinggal di rumah Rika".


"Mas ini, ya tidak mungkin Dian memilih tinggal di sana, apa lagi melihat mas yang sepeti ini".


__ADS_2