
Angga tersenyum setelah melihat pesan yang dikirimkan bundanya untuk Rika lalu Angga melihat Rika dan berkata "Maaf Rika, eh tunggu gaya mu berubah ?".
Rika tersenyum dan berkata "Tentu saja gaya ku ku ubah, masa iya aku mau jadi sekertaris memakai pakayan yang sering aku pakai saat aku bekarja di pabrik, Bagaimana? apa penampilan ku sudah menyakinkan".
"Sangat menyakinkan bahkan mereka yang baru melihat mu pasti tidak akan menyangka jika dulu penampilan mu seperti anak laki-laki". ucap Angga
"Jangan menghina penampilan ku yang dulu kak gitu-gitu banyak suka pada ku". ucap Dian.
"Iya deh kakak setuju, sekarang ayo kita mulai bekerja!".ucap Angga.
"Baik bos kalau begitu saya permisi" ucap Rika membungkuk lalu keluar ruangan Angga.
*
__ADS_1
Sembilan Bulan sudah Rika Dan Angga menikmati pekerjaan baru mereka, Baru 9bulan mereka bekerja perusahaan ayah Angga semakin berkembang.
Angga senang dengan pencapayan yang dia dapatnya dan Rika merasa dia menemukan kelebihannya yang terpendam dia sekarang menjadi seorang sekertaris yang handal.
Lalu Dian yang kandungannya sekarang menginjak 9Bulan, merasa tidak senang karena setelah Angga menjadi pemilik perusahaan Ayahnya Angga semakin jarang ada waktu untuknya. sebagian besar waktu yang di miliki Angga ya untuk mengurus perusahaannya.
Pernah sekali Dian mengatakan kekesalannya, tapi Angga hanya berkata "maaf" padanya karena mau bagai manalagi Angga seorang anak tunggal dan mau tidak mau dia yang harus meneruskan perusahaan Ayahnya.
Dian tidak terlalu memikirkan Angga yang sudah tidak mempunyai waktu banyak untuknya, karena setiap hari yang Dian lewati selalu Dian isi dengan membantu bunda mengurus kebun sayurnya.
Seperti saat ini Dian akan membantu bunda menyortir sayuran, Dian melangkah dengan langkah yang pelan karena kandungannya yang sudah membesar dan membuat langkahnya semakin sulit
Bunda yang membantu Dian berjalan menghentikan langkahnya lalu berkata "sayang sebaiknya kamu diam saja di rumah tidak perlu membantu bunda toh di sini banyak yang membantu bunda.
__ADS_1
"Iya Dian juga tau bun, tapi jika Dian hanya duduk dan berbaring saja Dian merasa bosan dan pikiran Dian sering kemana-mana dan bukankah itu tidak baik untuk kandungan Dian". ucap Dian panjang lebar dengan sesekali mengatur napasnya karena Dian mulai merasakan sakit pada perutnya dan itu tidak terlepas dari penglihatan Bunda.
Setelah Bunda mendengarkan alasan Dian, Bunda mengajak Dian untuk melanjutkan langkahnya, mereka sampai dan Dian langsung duduk di kursi yang biasa iya tempati saat membantu menyortir.
Sepeti biasa Dian Fokus menyortir sayurannya walau sesekali Dian mengatur napasnya karena rasa sakit diperutnya.
Berbeda dengan Dian yang tetap fokus, Bunda justru mulai merasa cemas saat melihat Dian yang seperti menahan rasa sakit, namun Bunda bersikap biasa saja agar tidak membuat Dian ikut-ikutan cemas seperti dia.
Setelah selesai Dian di ajak bunda untuk melihat lihat tanaman sayurnya, Bunda melakukannya agar Dian tidak terlalu fokus merasakan rasa sakitnya.
Bunda yang melihat Dian semakin sering merasakan rasa sakitnya mengajak Dian untuk kembali kedalam rumahnya, Dengan susah payah Dian sampai di dalam rumah dan masuk ke kamarnya.
Sementara Dian membersihkan dirinya, Bunda melakukan hal yang sama dengan Dian namun sebelumnya Bunda menyuruh pelayan mempersiapkan segala keperluan Dian untuk melahirkan, dan Bunda juga menyuruh supir agar bersiap untuk mengantar mereka ke rumah sakit,
__ADS_1