
Pulang kerja Angga mengajak Dian pergi ke rumah orang tuanya, karena besok adalah hari libur, Angga libur tidak tentu kadang 2hari kadang hanya 1hari, tergantung banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan.
mereka sampai di rumah orang tua Angga pada malam hari. Dian tidak menyangka jika Rumah orang tua Angga seperti rumah sultan, "atau jangan jangan mereka memang golongan sultan, ah tapi itu tidak mungkin, mana mungkin golongan sultan mau menerima menantu seperti aku". batin Dian.
"Ayo sayang kita masuk", Ajak Angga.
Dian mengangguk, lalu mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
Dian benar-benar tegang saat memasuki rumah orangtua Angga.
Pintu pun terbuka dan betapa terkejutnya Dian saat melihat orang-orang yang berseragam pelayan berjejer rapih. Angga memperkenalkan mereka dan menjelaskan tugas mereka, 2 orang supir, 2 orang yang bertugas di taman dan kebun di belakang, 2 orang yang bekerja di dapur dan 4 orang yang bertugas membersihkan rumah, dan 2 satpam, total ada 12 orang pekerja di rumah itu.
Rumah orangtua Angga ada dua lantai, di lantai bawah ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan 2 kamar yang sangat besar.
Anggapun mengajak Dian naik ke lantai atas untuk menunjukan kamar mereka, yang letaknya di paling ujung, Dian berjalan sambil melihat kamar yang lain ada 5 kamar di atas, namun yang paling besar adalah kamar Angga, sebelum mereka masuk kamar pelayan sudah memangil mereka karena orang tua Angga sudah pulang.
Mereka kembali ke lantai bawah, untuk bertemu dengan orangtua Angga di meja makan, setelah mereka selesai makan malam.
__ADS_1
Angga berbicara dengan kedua orangtuanya sedangkan Dian sibuk dengan semua pemikirannya.
"Jika keluarga Angga adalah golongan sultan, terus kenapa mas Angga cape cape kerja di perusahaan orang lain dan tidak membantu ayah Burhan saja pasti beliau memiliki sebuah perusahaan, dan jangan lupakan keluarga Rika yang biasa biasa saja, aku harus bertanya pada Rika nanti". batin Dian.
Angga yang melihat Dian diam saja langsung bertanya.
"Sayang kamu kenapa, dari tadi mas melihat kamu terus melamun".
"Maaf mas aku benar-benar merasa seperti berada di dalam mimpi".
Angga tersenyum dan bertanya "Kenapa seperti dalam mimpi?" tanya Angga lagi.
"Apa mas harus mencubit mu agar kamu tau ini mimpi atau bukan?". ucap Angga.
Dian mengangguk.
Bukannya mencubit Angga malah mencium Dian dan sedikit menggigit pipi Dian karena Angga merasa gemas melihat wajah Dian yang kebingungan.
__ADS_1
Dian kaget dan berteriak " Mas ". ucapan Dian terhenti saat melihat orangtua Angga tersenyum.
"Apa sayang?" tanya Angga.
Dianpun berbisik "kenapa di cium, kan tadi mas bilang ingin mencubit ku, aku malu".
Angga tersenyum dan berkata "Malu pada siapa sayang".
"Mas, ih".
Sementara orangtua Angga terus tersenyum melihat tingkah anaknya dan berkata, "Angga sebaiknya kamu bawa Dian ke kamar, ayah rasa Dian sudah ingin beristirahat, mengingat kalian datang kemari menggunakan motor".
"Baik Ayah, ternyata Ayah ku ini pengertian sekali". ucap Angga pada Ayahnya.
lalu Ayah menyuruh Angga mendekat dan dia berbisik
"Ayah juga pernah berada di posisimu saat ini, jadi Ayah tau yang kamu inginkan saat ini apa".
__ADS_1
Angga tersenyum, lalu mengajak Dian ke kamar mereka.