
Dian pindah ke kamarnya, Dian merasa dia harus beristirahat karna nanti sore dia akan kembali ke kota seperti yang sudah Dian rencanakan.
Satu jam berlalu kini Dian sudah terbangun, karna ketukan pintu yang sangat keras.
"Nak bangun, makan dulu", ucap ibu di balik pintu, sambil terus mengetuk pintu agar dian bangun.
Ibu memanggil Dian yang berada di kamarnya aga keras, karna Dian sangat susah untuk di bangunkan.
"Iya Bu Dian sudah bangun".
Setelah Ibu mendengar suara dian barulah Ibu berhenti mengetuk pintu. Dian Dian kalau di kota kamu di bangunin siapa.
dian yang sudah keluar kamar tiba tiba menjawab pertanyaan Ibu,,
"Kalau di kota, dian tidur tidak seperti di sini Bu, Dian bangun tidak pernah kesiangan".
"Ko bisa seperti itu".
"Mungkin karna di kota tidak ada yang akan membangunkan dian Bu, jadi secara alami dian terbangun jika sudah subuh".
Mereka pun sampai di meja makan dan di sana sudah ada ka Sinta.
__ADS_1
"ka apa kabar", tanya Dian.
"alhamdulillah kaka baik-baik saja", jawab ka sinta.
"Kaka lama sekali di rumah pak ustad, emang lagi ngerjain apa?.tanya Dian.
"Biasa ngebahas paud, kata ibu sore nanti kamu mau berangkat lagi".
"Iya ka", jawab Dian. "kenapa cuman sebentar?".
"Soalnya besok Dian liburnya cuman hari".
"Tidak bisa ka, takut di kasi amplop sama atasan, Soalnya dalam setaun ini dian sudah sering ijin, Dian masih ingin kerja di sana,, apalagi sudah merasa nyaman".
"Pasti cape keja di pabrik?".
"Kalau cape itu pasti, namanya jga kerja tapi sebanding dengan upahnya".
Ibu dan bapa datang,, tadi setelah ibu mambangunkan Dian Ibu langsung pergi untuk memanggil bapa. "Ayo di makan, jsngan cuman di lihat saja, ngobrol nya dilanjut nanti setelah makan". ucap Ibu.
"Memangnya kita tidak menunggu Deri dulu bu", tanya dian.
__ADS_1
"Tidak usah di tunggu, anak itu kalau main suka lama, kalau kita menunggu dia pulang bisa bisa kita mati kelaparan", ucap bapa.
merekapun makan bersama tanpa si bungsu, selesai makan sinta dan dian pun membereskan meja makan dan jga mencuci piring, mereka berkerja sama sinta membereskan meja makan dan dian mencuci piring.
ibu dari jauh memperhatikan mereka.
"seandainya saja sinta tida di tinggal meninggal calon suaminya, mungkin kita sudah punya cucu, iyakan pa?, dan dian jga pasti sudah menikah sekarang,, ibu berkata dengan mata yang berkaca kaca.
ibu sedih karna sinta tak kunjung membuka hati nya, sudah berbagai cara ibu lakukan agar sinta bangkit dari keterpurukannya dan mau membuka hatinya tapi selalu gagal,,
ibu berpikir mungkin dengan cara Dian membawa calon suami nya, akan menyadarkan kakanya bahwa dia harus segera membuka hati, karna tak mungkin dian bisa menikah jka sinta belum menikah.
"Sabar Bu, mungkin belum waktunya mereka menikah". ucap bapa menenangkan Ibu.
"Tapi ibu sudah jengkel mendengar ucapan mereka pak".
"Kamu ini, kan kamu sering bilang sama anak-anak mu, jika mereka mendengar ucapan Ibu-ibu itu, kamu menyuruh mereka hanya mendengarkannya saja jangan di masukin ke hati, dan mereka menurutinya
nah sekarang Ibu terapkan itu pada diri Ibu".
"Ibu tau itu, tapi bagi ibu itu sangat sulit pak, rasanya Ibu ingin menjambak rambut mereka, jika ibu mendengar mereka membicarakan tentang anak-anak kita".
__ADS_1