
Keesokan harinya, Angga masih bekerja, alasannya tidak dapat ijin, padahal Angga sengaja masih bekerja agar Fahmi tidak curiga, jika besok dia dan Dian akan menikah, minimal sampai Dian sah jadi istrinya.
Hari ini Angga melihat Fahmi jauh lebih tenang, tidak seperti hari-hari sebelumnya, yang selalu marah-marah tidak jelas.
"Nah kalau seperti ini kan enak, tenang". ucap Angga.
"Alhamdulillah, sekarang mungkin aku sudah ikhlas melepasnya. Mau aku marah-marah sampai suara ku habis juga, tidak akan merubah apapun, dia sudah jadi milik orang dan besok dia akan menikah".
Angga menghela napasnya berat.
"Angga kenapa kamu beberapa hari kebelakang sering terlihat tegang, apa lagi saat melihat ku".
"Apa sangat terlihat".
"Iya, sangat terlihat jelas, kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari ku".
"Mungkin itu hanya perasaan mu saja".
Fahmi menganggukan kepalanya, karna setuju dengan ucapan Angga. Merekapun keluar untuk makan siang..
Sementara di ke diaman Angga sudah berkumpul keluarga besar orangtua Angga, mereka di sibukan dengan persiapan pernikahan angga besok.
Ibu Rika baru datang dengan adik nya tengah hari, sementara Rika belum bisa datang karna masih bekerja.
Ibu menekan bel rumah Angga beberapa kali, namun tidak terlihat siapapun keluar dari rumah. saat mereka akan masuk tiba-tiba saja pintu terbuka.
"Kenapa tidak langsung masuk?". Tanya Ibu Nadia.
"Karena yang punya rumah belum menyuruh aku masuk". jawab ibu Mila.
__ADS_1
"Kamu ini seperti siapa saja, untung aku melihat mu, jika tidak, mungkin kamu akan menunggu di sini sampai Angga pulang".
"Kenapa seperti itu?".
"Karena bel rumah ku sedang rusak, dan orang-orang yang ada di dalam sedang sibuk semua".
"Memangnya mereka sedang apa? sampai-sampai tidak bisa keluar rumah".
"Mereka sedang mempersiapkan acara pengajian untuk nanti malam".
"Oh, pantas saja, aku pikir acaranya tidak jadi?".
"Jadi, hanya saja aku tidak mengundang orang terlalu banyak, hanya tetangga dan keluarga besar kami saja". Mereka berbicara sambil masuk kedalam rumah.
Jam sudah menunjukan waktunya pulang untuk para pekerja kantor. Saat Fahmi akan pulang, Angga memanggilnya.
"Fahmi tunggu!".
"Ada apa?, apa motor mu rusak lalu meminta ku mengantar mu".
"Bukan itu".
"Terus apa?".
lalu Angga mengulurkan tangannya, Fahmi mengerutkan dahinya, merasa heran dengan sikap Angga. Tapi dia tetap menyambut uluran tangan Angga. Angga pun berkata.
"Fami, maafkan aku, maafkan semua kesalahan ku".
"Hei, apa kau ini sedang sakit, atau ini pertanda jika kau akan pergi ke alam lain". ledek Fahmi.
__ADS_1
"Kau ini mendoakan aku cepat mati!,?
"Bukan mendoakan mu, hanya saja aku heran, tidak ada angin tidak ada hujan, kau meminta maaf padaku".
"Jadi apa kau memaafkan semua kesalahan ku?".
"Iya, aku memaafkan mu, apapun kesalahan mu".
"Terimakasih karna kau mau memaafkan ku, kamu harus berjanji untuk memegang ucapan mu".
"Iya". jawab Fahmi.
Fahmi berpikir, kesalahan apa yang Angga perbuat sampai-sampai menyuruhnya berjanji untuk memaafkannya.
Angga pun sampai di halaman rumahnya, tidak berselang lama Rika pun datang.
"Tumben sekali kamu jam segini sudah pulang". tanya Angga sambil melihat jam nya.
Rika tersenyum dan berkata
"Biasanya juga aku pulang jam segini".
"Biasa apanya, setiap kaka datang ke rumah mu kamu pasti belum pulang di jam seperti ini".
"Oh, Itu karna aku jalan-jalan terlebih dulu".
"Sama pacar kamu".
Rika menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Oh. Pantas saja, ya sudah ayo kita masuk!".