
"Jika itu yang jadi masalahnya,, kakek punya solusinya". Kakek masuk ke kamar dan mengambil sebuah kotak.
"Ini", kake menyerahkan kotak itu pada Fahmi, pilih yang cocok buat dian!".
fahmi membuka kotak itu dan alangkah terkejutnya fahmi saat melihat isi kotak tersebut.
"Kakek ini punya siapa banyak sekali".
"Itu punya almarhumah nenek mu". jawab Kakek
"Oh, pantas saja banyak". Fahmi terus memilih perhiasan mana yang cocok untuk Dian.
"Yang ini kek, ini cocok dengan dian".
"Ya sudah kamu simpan itu buat besok!".
"Kakek, kenapa Kakek bersemangat sekali ingin melamar dian untuk ku?".
"Karna Kake ingin dian jadi cucu menantu Kakek,
Kakek sudah suka sama Dian bahkan rencananya kake mau menjodohkan mu dengan Dian".
"Pantas saja kake bersemangat sekali".
Fahmi pamit masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
didalam kamar, fahmi sedang mengirim pesan pada Dian.
"sayang coba kamu lihat ke luar!".
Dianpun melihat keluar dari jendela kamarnya. "sudah mas".
"Bulannya indah ya".
"Iya sangat indah dan terang".
__ADS_1
"Seperti dirimu indah dan selalu menerangi hatiku yang gelap".
"Mas bisa aja".
"Kamu lagi apa sayang?".
"kan sedang melihat bulan".
"Sudah jangan dilihat terus, nanti bulan nya sembunyi".
"kok sembunyi, memang nya kenapa?".
"Ya karna dia malu di lihatin sama orang cantik".
"Mas, ih. Gombal terus jadi pengen mukul".
"Sini pukul mas kalau berani!".
"Mas belum mau tidur?".
"Belum, memangnya kenapa?".
"Cape sih tapi tidak bisa tidur".
"Kenapa?".
"Karna kamu gak mau peluk mas".
"Sudah cepetan tidur, ini sudah malam takutnya mas semakin ngelantur kemana-mana".
Fahmi tersenyum setelah membaca pesan dari Dian, "Ya sudah mas akan tidur, mimpi indah sayang muah".
Keesokan harinya, Fahmi datang ke rumah Dian bersama kakeknya, alangkah terkejutnya keluarga Dian karna tiba-tiba saja Fahmi melamar Dian.
Dian pun menerima lamaran Fahmi.
__ADS_1
Pada sore hari, Dian dan Fahmi kembali ke kota, karna besok mereka harus bekerja.
Di rumah Dian Ibu sedang berbicara dengan Sinta. Bertanya apakah Sinta baik-baik saja, karna Ibu tadi melihat Sinta menangis.
"Aku baik baik saja Bu, aku tidak apa-apa".
Lalu Ibu berkata. "Menurut ibu kamu lebih baik menerima lamaran nak Agus".
"tapi Bu".
"Nak cinta akan datang karna terbiasa, cobalah untuk membuka hati mu".
Sinta terdiam sangat lama entah apa yang di pikirkannya. "Baiklah bu kaka akan memikirkan saran Ibu".
"Ya sudah kaka cepat istirahat ini sudah malam!".
Malam sudah berganti pagi, dan di sebuah dapur, Ibu dan anak sedang berbicara.
"Bu, sepertinya kaka mau menerima mas Agus".
"kamu yakin?" tanya ibu.
"Insyaallah Bu, mudah mudahan dia jodoh kakak".
Ibu tidak bertanya apa alasan Sinta menerima lamaran mas Agus, karna yang penting buat ibu sinta mau menerima lamaran mas Agus.
Ibu langsung menghubungi mas Agus, dan malam hari ya, keluarga mas Agus dan keluarga Sinta bertemu, untuk menentukan tanggal pernikahan, karna beberapa alasan orangtua Sinta ingin secepat mungkin menikahkan Sinta, keluarga mas Aguspun setuju dan di putuskan bahwa pernikahan Sinta akan di laksanakan satu bulan lagi.
Di kantin Dian dan Rika sedang berbicara, "Dian kamu beneran sudah tunangan sama Fahmi?".
Dian tidak menjawab, tapi Dian mengangkat tangan dan menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya, sambil tersenyum.
"Dian kamu yakin sama Fahmi?".
"Yakin lah", jawab Dian, "memang nya kenapa?", sepertinya kamu tidak rela jika aku bertunangan dengannya".
__ADS_1
"Dian dia tidak sebaik yang kamu pikir".
"Kok, kamu ngomongnya kaya gitu".