Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Hari pernikahan


__ADS_3

Angga beserta keluarga pun berangkat menuju kediaman Dian. Saat di tengah jalan Rika menghubungi Dian.


"Assalamu'alaikum Dian".


"Wa'alaikummussalam", jawab Dian.


"Kamu cantik sekali, aku sampai pangling melihat mu".


"Masa sih, rasanya biasa saja".


"Beneran, kamu seperti orang India".


"Wah berarti kamu bohong dong".


"Ko bohong, kamu memang cantik".


"Iya, aku percaya memang aku ini cantik, tidak mungkin bukan jika aku tampan?. Dian tersenyum dan berkata lagi,


"Aku bilang kamu bohong soal aku yang seperti orang India".


"Memang sekarang kamu seperti itu".


"Ya, tidak mungkinlah, soalnya di keluarga Ku tidak ada keturunan orang sana".


"Ih, tidak percaya, sebentar aku tanya sama bunda".


"Memangnya kamu satu mobil dengan siapa?".


"Sama Ibu, Adik ku, Ayah Burhan, bunda Nadia, dan tentunya calon suami mu. Bunda lihat Dian, dia seperti orang India bukan?".

__ADS_1


"Iya, kamu sangat cantik nak seperti yang di katakan Rika, ibu sampai pangling".


"Tuh kan apa aku bilang".


"Hey, yang di depan sana mau lihat calon istri mu tidak".


"Mau", jawab Angga.


"Jangan dulu, kamu tidak boleh melihatnya sekarang", ucap bunda.


"Kasihan sekali yang tidak bisa melihat calon istri". Ucap Rika sambil tertawa.


"Dian sudah dulu, kita lanjut ngobrolnya kalau sudah betemu".


"Iya, Assalamu'Alaikum".


"Wa'alaikummussalam", jawab Rika.


Rombongan calon pengantin Peria pun sudah datang, mereka di arahkan ketempat acara ijab qobul akan dilaksanakan. setelah mereka duduk di tempat yang telah di sediakan, mereka pun menjadi saksi sahnya Dian dan Angga menjadi sepasang suami istri, setelah berdo'a, kini Dian di panggil ketempat tersebut.


"Dian, ayo, kamu sudah di panggil ke depan untuk menanda tangani berkas pernikahan mu!", ucap ka Sinta.


"Lo Ka bukannya berkas pernikahan ku jadinya 3 Minggu lagi?".


"Kaka tidak tau, mas Agus yang mengurus berkas berkas itu, dan entah apa yang dia lakukan sampai berkas-berkas itu sudah siap pada hari ini".


"Oh, pantas saja".


Dian melangkah begitu anggun di dampingi ka Sinta, saat Dian keluar dari Rumah semua orang memandangnya takjub, riasan Dian menjadikannya sangat cantik, dan Angga yang melihatnya pun sampai berulang kali menelan ludahnya dan berkata.

__ADS_1


"Subhanallah, kamu cantik sekali, apa aku tidak bermimpi".


Rika yang melihat ekspresi Angga langsung mendekati Angga lalu mencubit pinggangnya dan berkata.


"ini bukan mimpi, berkediplah sebelum mata kaka keluar".


Anggapun berkedip dan berkata dalam hati.


"Aku benar benar tidak menyangka jika Dian seperti bidadari".


Rika kembali pada tempatnya, Dianpun sampai, dan duduk di sebelah Angga.


Dian dan Angga menandatangani berkas berkas pernikahan mereka, setelah selesai Dian disuruh untuk mencium tangan Angga.


Dian benar benar tegang, sampai tangannya bergetar, setelah Dian kini giliran Angga yang mencium kening Dian, Jantung Angga berdegup dengan kencang karena untuk pertama kalinya dia mencium seorang wanita. Anggapun mencium Dian, "Sekarang aku sudah mempunyai seorang istri dan istri ku adalah Dian", tiba tiba saja air mata Angga menetes.


Dian pun melihat Angga.


Deg.


Mereka saling pandang, tidak terdengar suara apapun saat mereka saling pandang dunia serasa milik berdua, entah apa yang mereka pikirkan,


Padahal semua orang menyoraki mereka.


kesadaran merekapun kembali saat Rika berteriak "cium, cium".


mereka langsung melihat Rika dan tersenyum penuh arti.


mereka pun di persilahkan menempati kursi pelaminan untuk menunggu acara selanjutnya.

__ADS_1


acara demi acara mereka lewati dengan suka cita.


__ADS_2