
Mereka pun masuk ke kamar Angga, Dian benar-benar terkejut saat melihat kamar Angga yang sangat luas.
Bunga bunga bertaburan di mana - mana, sampai di atas kasur pun banyak kelopak mawar merah dan di tengahnya berbentuk love dan ada dua handuk yang di bentuk seperti dua angsa.
Angga menelan ludahnya berkali-kali saat melihat dekorasi kamarnya saat ini, sangat indah dan rasanya dia sudah tidak sabar untuk merusak semua mawar indah itu.
Dian buru-buru mengabadikan semua yang ada di sana dengan ponselnya karena Dian sudah merasakan aura yang tidak menyenangkan dari suaminya yang akan berakibat rusaknya hiasan tersebut.
Saat Dian sedang asik memotret, Dian tidak sengaja melihat banyaknya makanan ringan dan air kemasan dia atas meja dan Dian pun bertanya pada suaminya
"Mas untuk apa makanan sebanyak itu ada di kamar, bukan kah jika kita lapar tinggal turun kebawah untuk mengambilnya".
"Mas tidak tau, karena semua ini bukan mas yang merencanakan tapi ayah dan bunda"
"Tunggu mas aku seperti melihat botol obat di sana dan juga sebuah surat", ucap Dian.
Mereka menghampiri meja tersebut dan mengambil obat beserta suratnya, di sana tertulis "Obat ini untuk Angga, Semoga kamu menyukainya, Ayah dan bunda".
__ADS_1
Dian tidak mengerti dengan isi surat itu, berbeda dengan Angga dia sangat mengerti dan langsung memeluk Dian.
Namun sayang Dian melepaskan pelukan Angga dan berkata "solat dulu mas!". Anggapun mengangguk dan tersenyum.
Setelah sholat merekapun menjalankan ritual malam mereka, namun sebelum itu Angga meminum obat yang orangtuanya berikan alhasil Angga benar-benar kecapean dan langsung tertidur.
Dianpun merasakan hal yang sama seperti Angga,tapi Dian tidak bisa menutup matanya karena terus kepikiran dengan keluarga Angga yang tergolong keluarga sultan namun berbe dengan keluarga Rika, Dian pun melihat jam
"baru jam segini Rika pasti belum tidur", Dian pun mengirim pesan pada Rika, karena tidak mungkin jika dia menelpon Rika bisa bisa suaminya terbangun.
" belum memangnya kenapa?".
"aku ingin bertanya tentang keluarga mas Angga".
"Kamu sudah berada di rumah bunda?"
"Iya, kenapa kamu tidak bilang kalau mas Angga dari golongan sultan?".
__ADS_1
Rika membaca pesan Dian sambil tersenyum
"Ya maaf aku memang sengaja tidak memberi tahu mu karena aku takut kamu tidak mau menerima ka Angga karena dia anak dari keluarga kaya, jadi bagai mana rasanya jadi menantu sultan?".
"Rasanya biasa saja, Kamu tau tidak aku kaget melihat rumah ini, aku pikir mereka hanya menyukai rumah yang bergaya seperti ini, dan berfikir jika mereka bukanlah dari golongn sultan mengingat pekerjaan mas Angga dan juga dirimu, tapi semua pemikiran ku musnah seketika saat semua pelayan berbaris menyambut kami, rasanya seperti mimpi aku di sambut bak putri".
Rika pun tertawa lagi saat membaca pesan dari Dian
"Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana wajah mu saat itu pasti sangat lucu". ucap Rika.
"Kau, oh iya kenapa keluarga mu tidak kaya seperti mas Angga?".
"Akhirnya pertanyaan itu mumcul juga, kamu tau bukan jika yang bersaudara adalah ibu ku dan bunda ka Angga".
"Iya aku tau itu".
"Nah karena itu kami berbeda, karena yang kaya itu ayah ka Angga, sedangkan keluarga ibu dan bunda dari kalangan biasa".
__ADS_1