Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Pilihan yang tidak salah


__ADS_3

Sementara Dian yang berada di kosannya merasa penasaran tentang usaha kosan suaminya.


Dia ingin bertanya pada Pak Diman.


Dian keluar kamarnya lalu berjalan menuju rumah pak Diman, saat sudah sampai di depan pintu pak Diman, Dian mengucap salam.


Pak Diman menjawab salam Dian dan membuka pintu rumahnya, "Eh neng silahkan masuk".


"Iya pak", Dianpun masuk dan duduk di dalam.


"Tunggu sebentar bapak buatkan minum dulu".


"Iya pak", jawab Dian.


Tidak berselang lama pak Diman pun datang membawa minuman dan cemilan untuk Dian.


"Silahkan di minum neng!".


"Iya pak, terimakasih". Dian pun meminum minuman yang di suguhkan pak Diman untuknya.


"pak kedatangan saya kemari untuk menanyakan sesuatu".


"Memang apa yang ingin neng Dian ketahui?".

__ADS_1


"Tadi pagi mas Angga bilang katanya kosan ini miliknya, apa benar begitu?".


"Oh, iya neng memang kosan ini milik den Angga".


"ko bisa ya pak, mas Angga tertarik dengan usaha kosan, padahal kalau di umur mas Angga sekarang rasanya sangat sulit di percaya, karena umur segitu biasanya tertarik dengan usaha kuliner atau usaha distro".


Pak Diman tersenyum dan berkata. " Apa yang neng Dian katakan memang benar, den Angga memang tidak sengaja memilih usaha kosan".


"Kenapa tidak sengaja pak?". Tanya Dian


"Iya, awalnya kosan ini milik bapak, karena dulu bapa butuh uang untuk biyaya ofprasi istri bapak jadi bapak menjual kosan ini pada den Angga".


"Kenapa bapak menjualnya pada mas Angga?".


"Ternyata mas Angga sangat baik, tidak salah aku memilihnya" ucap Dian dalam hati.


"Oh iya pak kalau ibu sekarang dimana?". tanya Dian.


Tiba - tiba Pak Diman menghembuskan napasnya kasar, dan berkata "Ibu sudah meninggal setaun setelah dia di ofprasi".


"Maaf pak, saya tidak tau".


"Tidak apa-apa neng, bapak mengerti".

__ADS_1


Setelah rasa penasarannya hilang Dian pun kembali ke kamarnya, Dian merasa lapar karena sudah memasuki jam makan siang. Dian pun keluar untuk mencari warung atau tempat makan.


Bukan Dian malas untuk memasak tapi di tempat kosan Angga tidak ada alat-alat untuk memasak karena penghuni rumah kosan Angga adalah laki-laki.


Sore hari pun tiba, Angga yang melihat Dian baru pulang dari warteg pun terdiam, dia melihat para penghuni kos yang lain terus memandang Dian dengan rasa kagum dan itu membuat Angga cemburu , dia tidak rela jika Dian menjadi pusat perhatian mereka.


"Aku harus secepatnya mendapatkan rumah, aku tidak rela jika istri ku dipandang terus oleh mereka setiap waktu".


Dian masuk ke kamarnya tidak berselang lama Anggapun masuk setelah mengucap salam.


Angga langsung memeluk Dian,


Dian merasa heran dengan tingkah Angga. "mas ada apa?".


"Tidak ada apa-apa, mas hanya merindukan mu sayang".


"Mas ini ada-ada saja", ucap Dian sambil tersenyum dan mengelus punggung Angga.


"Sayang jangan seperti ini kamu bisa membuatnya terbangun dan kita akan berakhir di sana tunjuk Angga pada kasur mereka".


Dian langsung berhenti.


"Kamu terlambat sayang dia sudah bangun jadi kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali". ucap Angga tesenyum karena rencananya berhasil.

__ADS_1


__ADS_2