Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Menjadi pelayan


__ADS_3

Fahmi turun dan langsung menuju meja makan, dilihatnya Rika sedang membantu bi Inah mempersiapkan sarapan.


"kalau seperti ini aku seperti punya istri, tapi tidak bisa ku sentuh" ucap Fahmi pelan


Tapi ucapan Fahmi bisa di dengar oleh kedua orang tuanya karena jaraknya yang dekat, dan mereka berkata.


"makanya kamu segera halalkan Rika".


Fahmi melihat orangtuanya dan berkata "Aku mau sih mam, tapi dianya yang tidak mau, coba ya mam dia mau aku pasti bahagia".


"Sabar menurut mamah Rika sudah mulai suka pada mu".


"itu menurut mamah tapi tidak, menurut ku".


Rika dan bi Inah datang membawa sarapan yang akan mereka makan.


Seperti kemarin Rika mengambil makanan untuk Fahmi dan mengambil makanan untuknya, seperti yang diperintahkan Sintia tadi saat Rika akan membantu Bi Inah.


Karena hanya ada 4 kursi di sana jadi Rika duduk di sebelah Fahmi. padahal setau Rika dulu ada 6 kursi di sana.


"Sayang tolong ambilkan minum, punya ku sudah habis dan tempat airnya tepat berada di dekat mu".


Orang tua Fahmi tersedak karena kaget mendengar Fahmi memanggil Rika dengan kata sayang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Apa kalian sudah berpacaran?" tanya tante Sintia, sedang ayahnya Fahmi hanya diam dan menatap mereka.


"Tidak mam, aku hanya suka saja memanggil Rika dengan kata sayang'.


"Oh mamah pikir setelah kejadian semalam kalian langsung jadian".


Rika hanya tersenyum dan mereka melanjutkan sarapan mereka.


Setelah Fahmi dan papahnya berangkat, tante Sintia meminta Rika untuk menemaninya pergi ke butik, dengan senang hati Rika menyetujuinya.


Seperti biasa Tante Sintia melakukan pekerjaannya selama dia berada di butik, di butik tante Sintia memperkerjakan 3orang, satu pelayan, satu penjahit dan satu lagi asisten Tante Sintia, sementara perancang busananya adalah tante Sintia sendiri.


"Tante jika boleh selama tante bekerja aku ingin bekerja jadi pelayan disini" ucap Rika.


"Terima kasih tante" ucap Rika senang.


Sintia merasa kagum melihat Rika, yang tidak malu bekerja sebagai pekerja kelas bawah padahal jika Rika mau dia bisa bekerja di perusahaan keluarga Angga dengan jabatan yang tinggi.


*


Sementara Fahmi yang sudah sampai di kantornya terus tersenyum apa lagi saat melihat Angga.


merekapun sampai diruangn tempat mereka berkerja. Angga yang merasa heran dan penasaran dengan tingkah Fahmi berkata.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila, dari tadi aku lihat kau senyum senyum sendiri".


"Ah kau ini sirik saja, aku sedang bahagia karena sudah merasakan apa yang sudah kamu rasakan"


Angga yang sedang minum tersedak karena mendengar ucapan Fahmi dan berkata.


"Maksud mu merasakan apa? coba kau jelaskan sebelum otak ku berpikir yang tidak tidak".


"Dengan kau berkata seperti itu kau pasti sudah berpikir yang tidak-tidak bukan, dasar pengantin baru".


Angga tersenyum dan berkata, "kamu juga akan sama seperti ku jika sudah menikah, jadi apa yang membuat mu bahagia?".


Fahmi tersenyum dan berkata "kamu tau bukan jika Rika tinggal di Rumah ku".


"Iya aku tau, tapi tidak mungkin bukan jika kamu sebahagia ini hanya karena Rika tunggal di Rumah mu".


"Kau benar, aku bahagia bukan karena itu. tapi karena aku merasa seperti mempunyai istri, walau tidak bisa ku sentuh".


"Aku tidak mengerti apa maksud mu" ucap Angga.


"Kamu tau alasan ku masih tinggal di rumah orang tua ku apa?".


"Aku tau karena kau masih manja, sehingga semua keperluan mu masih di urus oleh mamah mu".

__ADS_1


__ADS_2