Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
menemui dian


__ADS_3

Angga sudah sampai di rumah Rika.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikummussalam,, tunggu di dalam saja, ika belum pulang",


"baik bi" jawab Angga.


Tidak berselang lama Rika pun pulang, memberi salam, lalu masuk rumah


"Ehh kaka ku sudah datang, sudah tidak sabar kah kaka ku ini bertemu pujaan hatinya", ledek Rika.


Sebuah bantal melayang dan mendarat di muka Rika


Rika pun cemberut.


"Sudah cepat keburu malam!".


Rika pun pergi dengan kaki yang di hentak-hentakan,


apa-apaan dia itu main timpuk saja.


Rika sudah naik ke atas motor Angga.


"Rika kita naik bus bukan naik itu".


"Kenapa? tanya Rika.


"Aku cape".


"Oh".


Merekapun berangkat menggunakan bus,


saat di tengah perjalanan Rika bertanya.


"Ka aku boleh bertanya soal Fahmi tidak?".


"Boleh memangnya ada apa?"


"Aku penasaran dengan sifat nya dan aku juga ingin tau apakah dia benar benar mencintai Dian atau hanya mempermainkannya".

__ADS_1


"Sebenarnya dia tidak seburuk itu tapi waktu nya tidak tepat".


"Maksudnya apa?", tanya Rika.


"Sebenarnya dia seperti kamu ka, punya pacar bosen putus cari yang baru, tidak pernah mendua".


"Tapi setelah dia berpacaran dengan Dian dia berubah, di satu sisi dia masih belum siap untuk menikah masih ingin bermain main dengan cinta, seperti kamu tapi di sisi lain dia juga tidak mau kehilangan Dian, Jadi hasilnya ya kamu tau sendiri hubungan mereka seperti apa".


"Jadi ceritanya, cinta tidak datang di waktu yang tepat".


"Mungkin" jawab Angga, "hati manusia siapa yang tau ka".


"Apa dia sering curhat sama kaka?". Angga mengangguk. "curhat apa saja?".


"Ih kepo,, jangan-jangan, Angga tersenyum jahil.


"Bukan seperti itu, Ika hanya ingin tau dia bicara apa saja tentang Dian ke kaka".


"Mungkin hampir semuanya dia katakan tentang Dian.


"Hah,, kaget Rika.


"Kalau kaget itu mulut tidak usah mangap".


"Tadinya kaka pikir dian itu cantik persi fahmi saja, eh ternyata pas kaka lihat dia pas di rumah sakit waktu itu, ternyata di mata kaka juga sama" ucap Angga tersenyum.


"Ingat dia tunangan orang".


"Iya tau, kaka juga masih ingat, ga usah kamu ingetin terus".


"Kali aja kaka lupa, emang kaka Tidak pernah lihat foto Dian".


"Engga lah ngapain liat foto pacar orang".


"Memang apa saja yang di ceritakan Fahmi tentang Dian?".


"Kepolosan Dian, sabarnya Dian, pemaafnya Dian, kepintaran Dian dan kecantikannya".


"Wah berarti kaka sudah tidak perlu lagi melewati pase pengenalan dong".


"Mungkin jawab Angga".

__ADS_1


"Bagus kalau begitu ucap Rika".,


"Bagus apa nya?".


"Ya kaka sudah tau baik buruknya Dian juga kelebihan dan kekurangannya".


Angga hanya mengangguk.


Mereka pun sampai di gapura kampung.


"yu ka jalan".


"Memang nya sudah dekat?".


"Masih jauh".


"Tapi kenapa kita jalan tidak cari ojeg saja".


Di sini ojeg tidak ada".


"Ohh pantas aku pernah dengar dari Fahmi kalau Dian suka ngeluh kalau pulang kampung ternyata ini".


Rika hanya menganggukankan kepalanya.


Kini mereka sampai di rumah Dian.


"Assalamu'alaikum".


Dari dalam terdengar Dian menjawab salam.


Dian pun membuka pintu.


"Lo ko Mas Angga juga ikut".


"Iya maaf lupa ngasih tau, habisnya aku ga berani datang kesini sendirian".


"Iya tidak apa-apa, ayo masuk" ucap Dian.


Sementara Angga masih mematung melihat penampilan Dian.


Dian yang tau jika Angga memperhatikannya berkata,,

__ADS_1


"Mas ihh jangan liatin Dian kaya gitu, malu tau".


__ADS_2