Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Ceroboh


__ADS_3

Ibu menghampiri dian dan memberikan uang yang tadi dia ambil.


"Ini uang kamu ibu kembalikan".


"Lo bu, kenapa di kembalikan, ini buat ibu". "Sepertinya aku salah bicara". batin Dian


"Ambil saja," ucap ibu.


"Tapi bu, bukan karna masalah uang saja Dian akan pulang, tapi juga karna Dian ijin sama ibu Dian kalau Dian tinggal disini sampai mas Fahmi sembuh.


Iya Dian memang butuh uang bu, tapi bukan berarti Dian akan menerima uang ini lagi, uang ini Dian berikan kepada ibu untuk biyaya makan Dian selama dian tinggal di sini".


"Sudah bu, terima saja", ucap Rika yang baru datang, "Dian tidak akan mau nerima uang itu lagi apa pun alasannya, tapi jika ibu tidak mau buat Rika saja". Ucap Rika sambil tersenyum.


Dian juga tersenyum, "untung kamu datang Rika", batin Dian,


Rika pun mengajak Dian masuk,


"Dian bagaimana kabar si egois itu".


"Alhamdulillah, dia sudah pulang"


"Syukurlah dia sudah tidak menyusahkan kamu lagi".


Dian hanya tersenyum menanggapi ucapan Rika.


"Ka, sepertinya besok aku akan pulang".


"Kenapa?", tanya Rika.


"Karna aku ijin sama ibu tinggal di sini hanya sampai mas Fahmi sembuh, dan sekarang dia sudah sembuh".


"Oh, baik lah kalau begitu, aku melarang mu pulang juga percuma".

__ADS_1


Pagi hari Dian sudah mengemas barang barangnya.


"Dian kamu yakin mau pulang hari ini?".


"Iya nanti siangan, setelah aku ke rumah mas Fahmi".


"Maaf ya, aku tidak bisa mengantar".


"Tidak apa apa".


"Eh ini buat ongkos"


"Tidak usah, aku masih ada uang ko, walau sedikit".


"Di terima aja, lumayan buat jajan di jalan".


"Ya sudah aku terima, terimakasih". Ucap Dian sambil tersenyum.


Ibu datang, "kemarin ibu ngasih kamu uang tidak di terima". Dian tersenyum, dan berkata "Ya karna itu dari ibu, nah kalau ini dari rika bu, wajib di terima" ucap Dian sambil tersenyum.


Ibu dan Dian pun menjawab salam.


"Bu, Dian juga pamit, mau ke rumah mas Fahmi dulu, asalamu'alaikum", ibu pun menjawab salam Dian.


Sampailah Dian di rumah Fahmi.


"Asalamu'alaikum bi".


"Wa'alaikummussalam" jawab bi Inah.


"Bi, apa mas Fahmi nya ada?".


"Ada neng di kamarnya mau bibi panggilkan".

__ADS_1


"Tidak usah bi, bibi lanjutkan saja pekerjaannya, kalau begitu saya masuk dulu ya bi".


"Iya neng masuk saja", jawab bi Inah.


Dian pun masuk dan lansung menuju kamar Fahmi,


Dian lupa jika Fahmi sekarang sudah sembuh,


Dian membuka pintu kamar Fahmi.


Dian menjerit, dan langsung menutup pintunya.


"Astagpirullah, kenapa aku lupa kalau dia sudah sembuh".


Fahmi hanya diam mendengar teriakan Dian, "kanapa dengan Dia".


Fahmi tidak sadar jika dia tidak menggunakan apa pun. Saat dia ingat tujuan nya keluar kamar mandi untuk mengambil handuk, Fahmi baru sadar bahwa dia tidak memakai apa pun.


"Oh, pantas saja dia menjerit". Ucap Fahmi sambil mengelus sesuatu dan tersenyum.


Bi Inah yang mendengar teriakan Dian langsung menghampiri Dian "Ada apa neng?".


"Tidak ada apa apa bi", jawab Dian.


Dian pun menunggu Fahmi di ruang tamu, Dian menunggu sambil merutuki kecerobohannya. "Kenapa juga aku langsung membuka pintu".


Fahmi pun datang, "Bagaimana pendapat mu?".


"Bagai mana apanya mas", ucap Dian sambil menunduk tidak mau melihat wajah Fahmi. Dian benar benar malu.


"Itu, yang kamu lihat tadi"?


Dian tidak menjawab pertanyaan Fahmi "Sayang angkat wajahmu!".

__ADS_1


"Tidak mau mas, aku malu".


"Kenapa harus malu, nanti juga kamu akan sering melihatnya", ucap Fahmi.


__ADS_2