
Ceklek.
Fahmi yang mendengar pintu kamarnya akan di buka langsung berlari menuju pintu dan langsung menahan pintu agar tidak terbuka.
"Sayang jangan dulu masuk" ucap Fahmi lalu membuka sedikit pintu kamarnya agar dia bisa keluar dan Rika tidak melihat kamarnya dulu sampai waktu yang pas.
"Eh mas kenapa?" tanya Rika
"Tidak apa-apa, sayang kamu mau sholat".
"Iya".
"Kalau begitu kamu sholatnya di kamar sebelah saja".
Rika merasa heran dengan sikap Fahmi yang menurutnya aneh "ada apa dengan kamar dia, kenapa aku tidak boleh masuk" ucap Rika dalam hati.
"kenapa tidak boleh mas bukankah ini akan jadi kamar kita juga" ucap Rika sambil mencoba masuk namun gagal.
"Sudah menyerah saja sayang, mas tidak akan biarkan kamu masuk sekarang".
Rika melihat jamnya dan langsung berlari ke kamar sebelah untuk melaksanakan kewajibannya.
Karena tadi magribnya mepet ke isya jadi Rika diam di kamar sampai isya.
setelah selesai dia keluar kamar berbarengan dengan suaminya yang juga baru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Rika dan Fahmi tersenyum saat mengingat saat dulu Rika menjadi pembantunya. "aku jadi ingat saat-saat manis itu" ucap Fahmi
"Benar saat itu aku sengaja untuk menggoda mu, dengan memperlihatkan leher ku agar kamu merasa tersiksa".
Fahmi tersenyum lalu berkata " Apa waktu itu kamu tidak takut sayang?". ucapnya sambil mendekati Rika dan memeluk Rika.
"Tentu saja tidak karena waktu itu aku berpikir jika mas membenci ku".
"Kamu tau sayang saat kamu memperlihatkan leher mu mas benar-benar ingin menyesapnya " ucap Fahmi sambil menyibakkan rambut Rika yang menutupi leher Rika dan langsung mengngecup leher Rika.
"Mas ehh ini kita di luar kamar bagai mana jika ada yang lihat".
"biarkan saja toh kamu istri ku sekarang".
Bi Inah datang menghampiri mereka yang sedang bermesraan di luar kamar, "ehem... den neng di tunggu tuan dan nyonya di bawah.
merekapun menghentikan kemesraan mereka dan Rika berkata "Maaf ya bi jadi melihat kami seperti tadi".
"Tidak masalah neng, kalau begitu ayo kita turun" ajak Bi Inah.
Rika dan Fahmi turun mengikuti bi Inah, dan sampailah mereka di depan meja makan.
"Ayo duduk" ucap mamah Sintia yang melihat menantunya hanya diam.
"Oh iya mah", ucap Rika sambil menyodorkan tangannya pada sang ayah mertua, lalu Rika duduk .
__ADS_1
"Mamah masih tidak menyangka jika kalian beneran sudah nikah, sekarang judulnya pembantu ku jadi istri ku bukan istri yang haram ku sentuh" ucap mamah Sintia sambil melihat sepasang pengantin baru dan tertawa.
"Mamah bisa saja" ucap Rika
"Itu bukan mamah yang bilang tapi suami mu".
"mas Fahmi bilang seperti itu".
"Iya dia bilang waktu itu sambil menangis karena kamu sudah tidak tinggal di rumah ini lagi".
"Apa benar begitu mas" tanya Rika antusias.
"Iya, pah mah ayo kita mulai makan malamnya, ngobrol nya di lanjut besok saja". ucap Fahmi agar mamahnya berhenti membuka kartunya.
Mamah Sintia yang merasa ada yang salah dengan ucapan anaknya langsung bertanya "maksud kamu besok apa?".
"Ya besok ngobrolnya karena setelah makan aku akan langsung membawanya ke kamar".
Mamah Sintia merasa tidak suka dengan rencana Fahmi dan itu di sadari oleh suaminya dan suaminya berkata " sayang kamu jangan kesal dengan ucapan Fahmi" ucapnya sambil mengelus pundak mamah Sintia.
"Fahmi apa kamu tidak kasian pada mamah mu ini yang ingin bercerita dengan Rika banyak hal".
"Mamah cuman ingin bercerita bukan, nah aku dari pagi menahan hasrat ku mamah".
hok hok hok Rika tersedak air karena mendengar perkataan suaminya pada mertuanya.
__ADS_1