
Keesokan harinya Dian melihat Angga seperti sedang memikirkan sesuatu, Dianpun bertanya.
"Mas kenapa melamun, apa yang mas cemaskan".
Angga menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Mas tidak apa-apa sayang".
"Bohongnya kelihatan mas, jika mas tidak memberi tahu aku apa yang mas pikirkan aku tidak mau menuruti keinginan mas yang itu lagi". ancam Dian.
"Ih sayang ancamannya bagus meresahkan batin mas",
Dian tersenyum "Jadi kenapa mas melamun?".
Anggapun mencubit hidung Dian, "Mas cuman khawatir dengan tanggapan orang-orang di kantor sayang pasti mereka marah karna mas nikah tidak bilang bilang".
"Oh jadi itu masalahnya, sebentar mas", Dianpun mengambil sebuah tas besar yang baru saja sampai di kosannya.
"Ini apa sayang?".
"ini untuk teman-teman mas di kantor, sebagai permintaan maaf karna tidak memberi tahu mereka".
"Kapan kamu belinya?".
"sebelum kita menikah, aku menyuruh Rika untuk membeli ini, untuk mas bagikan ke teman-teman mas, karena mas pernah bilang tidak memberi tahu teman-teman mas jika mas akan menikah".
__ADS_1
"Terima kasih sayang, ternyata memang benar kamu pintar",
"Terima kasih mas atas pujiannya, tapi ini tidak geratis aku menghabiskan banyak uang untuk ini".
"Ih ternyata selain kamu pintar kamu juga pelit sayang", Angga pun tertawa sementara Dian cemberut karena di bilang pelit.
"Jangan manyun, mas suka pengen gigit kalau melihat kamu lagi manyun seperti itu".
"Tapi sebel sama mas sudah di tolongin juga".
"Memang ini semua berapa?". tanya Angga.
Dian pun menyebutkan nominal uang yang telah dia habiskan untuk membeli bingkisan tersebut.
"Jadi menurut mas ini murah?"
"Iya sayang, sini mana no rekening mu",
Dian pun memberikan ponselnya pada Angga, setelah selesai Angga mengembalikan ponsel Dian. Alangkah terkejutnya Dian saat melihat nominal uang yang di berikan Angga.
"Mas ini kebanyakan",
"Tidak apa-apa, sengaja mas lebihin untuk biyaya hidup kamu sehari-hari, oh iya untuk satu bulan". Angga pun tersenyum.
"Mas, memang gaji mas berapa?". Tanya Dian
__ADS_1
"Gaji mas ya sama seperti gaji orang orang yang bekerja di bagian keuangan".
"Kalau sama dengan yang lain kenapa mas memberi aku uang bulanan sebanyak ini, terus kalau mas ada kebutuhan yang lain bagai mana?".
"Ya mas tinggal minta sama kamu sayang".
"Ribet kalau seperti itu mas, aku pikir lebih baik mas menyimpan uang untuk keperluan mas dulu terus sisanya biar aku yang kelola.
"Bercanda sayang, yang mas berikan adalah gajih mas perbulan, nah kalau untuk keperluan mas, tenang mas masih punya uang dari hasil menyewakan tempat kos ini".
Dian kaget mendengar Angga yang mengatakan bahwa tempat kosan yang mereka tempati adalah milik Angga.
"Jadi tempat ini milik mas?".
" Iya sayang, mas pemilik kosan ini tapi mas menyuruh pak Diman untuk mengelola kosan ini, dan rumahnya pak Diman itu juga rumah mas, mas membangunnya untuk orang yang mau mengelola tempat ini".
"keren", ucap Dian "Tinggu jika tempat ini milik mas lantas untuk apa mas mencari rumah lagi".
"Mas pikir kita akan lebih nyaman jika tinggal di rumah seperti Rumah Rika".
Dianpun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah mas berangkat dulu".
Anggapun mengulurkan tangannya saat mengucapkan salam pada Dian, Dian pun menyambutnya dan membalas salam Angga.
__ADS_1