
"Suadah mas jangan bahas itu terus, Mas aku kesini mau pamit pulang".
Dian berbicara sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa harus pulang?". Tanya Fahmi.
"Karna aku ijin sama ibu tinggal disini hanya sampai mas sembuh, dan sekarang mas sudah sembuh".
"Oh, tadinya mas ingin melarang mu pulang, tapi percuma kamu tidak akan menuruti mas".
"Mas berbicara sama seperti Rika".
"Pasti lah karna kami sudah hapal dengan sifat mu sayang".
"Sayang".
"Apa" jawab Dian masih dengan kepala yang menunduk.
"Apa kamu baru pertama kali melihat terong,
Dian mengangkat kepalanya, "terong apa?".
"Itu yang tadi kamu lihat di kamarku".
Dian langsung menundukan kepalanya lagi.
"Iya". jawab dian.
Fahmi tersenyum "Berarti kamu juga tidak pernah melihat pidio **** ,, Dian menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Oh pantas saja kamu seperti ini".
"Sayang, sebelum kamu pulang boleh kah mas minta sesuatu?".
"Apa? ucap Dian.
"Apa mas boleh memeluk mu, sekali ini... saja".
Dian terdiam, dan setelah lama berpikir Dian pun menganggukan kepalanya.
"Yes akhirnya", "setelah sekian lama". batin Fahmi.
Fahmi berdiri dan menuntun Dian.
Fahmi sudah merentangkan tangannya.
"Mas aku takut ada yang melihat".
Dengan ragu-ragu Dian memeluk Fahmi.
"Ya Rabb, maafkan hamba Mu ini, untuk kali ini saja". Ucap Dian dalam hati.
Dian pun meluk Fahmi dan Fahmi mengeratkan pelukannya nya.
"Bagai mana rasanya sayang?", tanya Fahmi.
Dian mendongak dan berkata "hangat dan menenangkan".
Deg.. Fahmi yang melihat bibir dian terus menelan ludahnya, "Ah, bibir itu sungguh menggoda ku dan Fahmi pun sudah merasakan sesuatu yang sudah terbangun dan ingin keluar dari sarangnya.
__ADS_1
Fahmi langsung menarik tengkuk Dian, dia benar-benar ingin merasakan manisnya bibir dian. Fahmi sering melakukan hal seperti itu dengan mantan mantannya tapi dengan dian Fahmi belum pernah melakukannya, "ini kesempatan bagus", pikir Fahmi. Fahmi pun mendekatkan wajahnya pada Dian. semakin dekat dan semakin dekat hap.
Dian langsung membekap mulutnya, dan hasilnya Fahmi gagal mencium Dian.
Fahmi kecewa?, tentu, sudah sejak lama Fahmi menantikan momen ini.
Dian langsung melepaskan pelukan nya, namun tidak di sangka dan tidak di duga, Fahmi malah mendorongnya sampai Dian terjatuh.
"AW" Dian mengusap pantat nya yang mencium lantai "Mas kamu ken... belum sempat Dian menyelesaikan kalimat nya Fahmi sudah mendorongnya lagi, hingga Dian terlentang di lantai, Fahmi langsung membekap mulut Dian dengan tangannya dan seketika Dian sudah berada di bawah kungkungan Fahmi
Dian menjerit tentu saja tidak bisa, mulutnya sudah di bekap Fahmi. Dian meronta-ronta berharap bisa menyadarkan fahmi yang sudah di kuasai oleh nafsu.
gerakan yang Dian lakukan bukan menyadarkan Fahmi malah membuat Fahmi semakin di kuasai nafsunya.
"Ya Rabb, tolong aku tolong sadarkan dia, tolong datangkan seseorang kesini , kemapa bi inah lama sekali, Ibu tolong aku.
"Mas sadar, mas.. Dian menjerit didalam hati, "Ibu tolong, bapa tong aku".
Dian benar-benar ketakutan, dia menangis dengan air mata yang sangat banyak entah kenapa air matanya kali ini sangat banyak, dan air mata itu membasahi tangan Fahmi dan menyadarkannya, Dengan kuasa Allah Fahmi pun tersadar dan langsung berdiri.
Dian langsung duduk dan memeluk kedua kakinya.
Dian menggigil ketakutan dan menangis tanpa mengeluarkan suara, Dian benar benar ketakutan.
Fahmi yang sadar akan perilakunya,, menghampiri Dian. "maaf sayang, aku hilap, fahmi mengulurkan tangannya ingin menyentuh bahu Dian.
Tapi Dian langsung menahan nya, lalu berkata
"Jangan sentuh aku!".
__ADS_1
Dian berdiri dan langsung mengambil tasnya, lalu pergi, dengan air mata yang tidak berhenti.