
Fahmi hanya diam mematung di tempatnya entah apa yang di pikirkan nya.
Bukan Fahmi tidak ingin mengejar Dian, tapi Dian menyuruhnya untuk tidak mengikutinya.
Setelah Dian mengambil tasnya, Dian melewati Fahmi dan berkata, "Diam dan jangan ikuti aku, jika kau mau ku maafkan".
Fahmi yang tersadar dari lamunannya langsung meninju dinding yang ada di dekatnya, dan berteriak "Sial, kenapa aku bisa lepas kendali",
suara Fahmi melemah, "Padahal ini bukan pelukan pertama ku,, bahkan aku melakukan hal yang lebih dengan orang lain dan kewarasan ku masih bisa ku pertahankan, tapi kenapa dengan Dian, hanya sekedar memeluknya saja aku sudah hilang kendali".
Fahmi terus merutuki perbuatannya, yang hampir saja merengngut kehormatan Dian.
Fahmi bingung harus berbuat apa, bertanya pada temannya pun tidak mungkin itu sama saja dia ingin menunjukan betapa bejatnya dia.
Fahmipun berteriak seperti orang kesetanan.
Sekarang Dian sedang berada di pinggir kali,
Dian sering kesini untuk menenangkan diri melihat air yang mengalir, pohon yang hijau tentunya tanpa sampah.
Dian tidak langsung ke rumah Rika.
__ADS_1
entah apa yang akan terjadi jika ibu Rika melihat dirinya seberantakan ini, dan semenyedihkan ini.
Dian benar benar berpikir langkah mana yang harus dia ambil. Jika dia ingin memutuskan hubungannya percuma, pasti dia akan kembali lagi pada Fahmi.
Dian sudah tidak menangis seperti tadi, tangisan Dian terhenti saat Dian ingat bahwa kejadian tadi terjadi juga atas kesalahannya yang mau dan dengan sukarela memeluk Fahmi.
Berjam jam Dian duduk di sana.
akhirnya dian mutuskan sesuatu lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan.
"Mas, aku memaafkan mu, tapi ku mohon jangan pernah mas temui aku jika mas belum siap menikahi ku!". Namun jika mas keberatan maka pergilah".
Fahmi yang mendengar ponselnya berbunyi tanda pesan masuk langsung melihatnya,
"Baik sayang, sekali lagi aku minta maaf".
Dian pun pulang ke rumah Rika untuk mengambil barang barangnya, sekalian pamit kepada ibu.
Dian sampai di kampungnya malam hari.
Setelah selesai mandi dan solat, dian beristirahat.
__ADS_1
Dian terus merutuki kebodohannya.
"Wahai hati kumohon jangan lagi goyah, aku sudah lelah aku benar benar lelah!".
Hari demi hari Dian lewati dengan tidak bersemangat.
Setiap hari Fahmi selalu mengirim pesan pada Dian di setiap pagi, siang, sore, juga malam hari.
Tapi Dian tidak pernah satukalipun membalasnya, jangankan membalasnya membuka pesan nya saja Dian tidak pernah.
"Biarlah waktu yang menjawab akan seperti apa kisah kita mas".
6 bulan berlalu, Fahmi mulai menyerah dengan kisahnya dan Dian.
karna selama 6 bulan ini Dian tidak pernah mengangkat atau membalas pesan dari Fahmi, karna Dian tidak pernah membukanya.
Dian takut jika mengangkat telpon atau membaca pesan dari Fahmi akan menggoyahkan hatinya lagi seperti yang sudah sudah.
Dian benar benar takut bertemu Fahmi setelah kejadian itu, Dian takut Fahmi mengulangi kesalahannya lagi dan itulah alasan Dian menyuruh Fahmi tidak menemuinya lagi jika dia belum siap menikahinya. Entah Fahmi tidak mengerti apa yang di katakan Dian waktu itu atau ada alasan lain.
Setelah sekian lama akhirnya Dian membalas pesan dari Fahmi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, mas apa kabar?". Dian baik di sini, mas orang tua Dian menanyakan kejelasan hubungan kita".
"Mas aku sudah menunggumu selama 6 bulan, tapi kenapa mas tidak pernah datang menemui aku, apakah mas sudah mendapatkan pengganti ku di sana, yang lebih mengerti mas?'.