Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
kemarahan Fahmi


__ADS_3

Keesokan harinya, Rika, Angga dan Ayah Burhan, berangkat untuk bekerja di tempat kerja mereka masing-masing.


Rika dan Ayah Burhan bekerja seperti biasanya. Berbeda dengan Angga, hari ini angga sedikit merasa was-was.


Kini Angga sampai di kantornya, belum juga Angga masuk ke dalam kantor, dia sudah di kejutkan dengan kedatangan Fahmi, tentunya dengan wajah Fahmi yang tidak bersahabat.


Seketika Angga terdiam dan larut dalam pemikirannya, "kenapa dengan wajahnya, dia seperti sedang menahan amarah, apakah mungkin dia marah pada ku, karna aku telah melamar Dian". berbagai macam pertanyaan berputar di kepalanya sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Fahmi sudah berada di dekatnya.


Fahmi menepuk pundak Angga, karna sudah dari tadi Fahmi memanggil Angga tapi dia tidak merespon. "Angga kenapa kau melamun seperti ini, kau sudah mirip dengan patung".


Angga yang telah sadar karna tepukan Fahmi, langasung mengucap syukur. "Alhamdulillah ternyata dia bukan marah pada ku". batin Angga.


"Hei, kau ini kenapa?, dari tadi melamun terus, apa ada masalah?".


"Tidak ada". jawab Angga


"mana mungkin tidak ada dari tadi kau melamun, tapi ya sudahlah jika kau tidak mau bercerita padaku".


mereka berbicara sambil berjalan menuju ruang kerja mereka. "Angga apa kau tau, jika Dian sudah ada yang melamar lagi". Seketika Angga berhenti berjalan dan membuat Fahmi menabrak tubuh Angga, "kenapa kau mendadak berhenti", gerutu Fahmi, "apa kau kaget mendengar jika dian sudah ada yang melamar?, tanya Fahmi.

__ADS_1


Angga tidak menjawab pertanyaan Fahmi.


"Ada apa dengan mu hari ini, kau sangat aneh tidak biasanya kau seperti ini?". Tanya Fahmi heran.


Walau Angga tidak menjawab pertanyaan Fahmi, tapi pahmi terus melanjutkan ceeitanya.


"Apa kau tau, dian juga akan menikah minggu depan".


"Apa kau tau siapa calon suaminya". Tanya Angga.


"akhirnya kau bersuara juga. Aku tidak tau karna kakek juga belum tau, dengan siapa dian akan menikah".


Angga dan Fahmi telah sampai di ruangan kerja mereka. Angga sudah duduk di kursinya.


"Maaf, bukan aku tidak mau jujur, tapi aku takut kau akan marah pada ku, jika saja kau musuh ku mungkin sudah dari kemarin aku memberitahu mu".


Setiap hari Fahmi selalu uring-uringan, Angga yang melihatnya sangat merasa bersalah, karna dia yakin jika Fahmi marah karna masalah Dian.


"Fahmi, apa kau baik-baik saja?, aku selalu melihat mu marah-marah tidak jelas ?".

__ADS_1


"Entahlah, mungkin karna masalah Dian".


"Bukankah kau yang melepaskannya?".


"Iya, aku memang yang melepaskannya, tapi tujuan ku melepaskannya hanya sementara".


"Maksud mu sementara apa?". Tanya Angga


"berpisah sementara, sampai aku siap menikahinya nanti, aku berpikir jika Dian tidak akan menerima lamaran orang lain, karna aku sangat yakin jika Dian sangat mencintai ku, tapi ternyata aku salah dan sekarang aku menyesali keputusan ku".


"Terus apa kau akan menggagalkan rencana pernikahan Dian".


"Apa kau gila, aku tidak sekejam itu, aku memang belum mengiklaskannya, tapi aku juga tidak mungkin merusak kebahagiannya".


"Syukurlah", batin Angga.


"Aku penasaran siapakah laki-laki yang beruntung, menjadi suami Dian". ucap Fahmi.


"Semoga kau tidak membenci ku, saat mengetahui bahwa akulah laki-laki beruntung itu", Batin angga.

__ADS_1


"Angga, kenapa kau terus melamun".


Angga hanya tersenyum mendengar pertanyaan Fahmi.


__ADS_2