Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Hari pernikahan


__ADS_3

Tiga minggu berlalu kini tiba saatnya Sinta akan melaksanakan pernikahannya.


Acara pernikahan Sinta di gelar sederhana karna permintaan Sinta.


Dian datang malam hari sebelum Kakanya menikah.


Dian sampai di halaman rumahnya, Dian sangat senang melihat rumahnya yang sudah di hias dengan berbagai macam pernak pernik hiasan pernikahan. "Assalamu'alaikum", dian masuk tanpa menunggu jawaban salam dari dalam rumah.


"Kaka" Dian memeluk ka Sinta, "Akhirnya Kaka akan menikah". mata dian berkaca kaca


"Hei kenapa menangis?".


"Aku bahagia karna besok Kaka akan menikah, itu tandanya aku tidak akan melangkahi Kaka".


"Apa kamu sangat takut jika melangkahi kaka?".


"Iya, aku takut Ka, karna banyak kabar yang mengatakan jika seorang perempuan melangahi kaka perempuannya, hal buruk sering terjadi pada si kaka yang dilangkahi".


"Itu mitos Dian".


"Aku hanya tidak mau Kaka kenapa-kenapa, jadi aku selalu berusaha agar aku bisa menjaga hati ku, agar aku tidak jatuh cinta sebelum kaka menikah".


"bohong". ucap Sinta


"Beneran ka, masa kaka tidak percaya pada ku".


"Tidak". ucap Sinta sambil menggelengkan kepalanya, "Buktinya kamu sudah pacaran sebelum kaka menikah malah kamu sudah bertunangan".


"Oh itu", Dian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kalau itu di suruh ibu". Jawab Dian.


"Di isuruh ibu maksud kamu?".


"Iya, di suruh ibu pacaran, terus di bawa ke rumah biar bisa manas-manasin Kaka, dan berhasil". Dian pun tersenyum.


Ibu datang, "Ada apa ini, ko ibu di sebut-sebut".


"Bu, apa benar, yang di bilang Dian".


"Memangnya apa yang di bilang Dian?". tanya Ibu


"Dian bilang, ibu menyuruh Dian untuk memanas-manasi aku".Sinta pun cemberut karna dia kesal.


Ibu pun tersenyum, "Demi kebaikan mu Ka", dan "Alhamdulillah rencana Ibu Bapa dan Dian berhasil".


"Iyalah malah Bapa yang memberikan ide itu". Ucap Ibu, lalu Ibu menyuruh Dian untuk mandi dan setelah mandi Dian harus membantu Ibu.


"Ibu ini kebiasaan kalau Dian baru datang tidak pernah di suruh istirahat".


"Ibu pikir kamu tidak lelah". Ibu tesenyum dan berkata "Ibu hanya bercanda sayang, cepat sana mandi terus istirahat, kamu bantu-bantunya besok saja".


"Siap", Dian pun mencium ibu dan pergi ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum, mas".


"Wa'alaikummussalam", jawab Fahmi, "Sudah sampai sayang?".


"Sudah mas, ini baru masuk kamar, mau mandi tapi malas".

__ADS_1


"Ih kamu jorok sayang belum mandi, pantas saja baunya sampai ke sini".


"Dian tersenyum, mas ini ada-ada saja, mana mungkin baunya sampai ke sana,".


"Udah sana cepetan mandi, bau".


"Males ih, dingin".


"Apa mau mas mandiin?".


"Boleh mas asal dalam waktu 5 detik mas sudah ada di hadapan ku"


"Apa tidak bisa di ganti, waktunya jadi 5 jam".


"Tidak bisa, peraturan tidak bisa di ganggu gugat".


"Itu sih nolak, tapi secara halus".


"Ya sudah mas, Dian mandi dulu, sampai jumpa besok emmuah".


"Coba sekali-kali ciumannya beneran sayang".


"Sudah dulu mas, assalamu'alaikum".


Alhamdulillah sampai saat ini Dian masih bertahan dengan pendiriannya untuk tida berciuman atau berpelukan.


Pagi mulai menyapa, pengantin sudah di rias sejak subuh, kini tinggal Dian ibu dan para pagar ayu, Dian meminta perias agar mendandaninya tidak terlalu menor. "Yang natural saja ya Bu".


Dian memilih riasan yang natural karna Dian takut perhatian orang-orang akan tertuju padanya, bukan pada pengantin itu sendiri, ini bukan pertamakali dian jadi pagar ayu, Dian sering jadi pagar ayu, jika sodara-sodara dari ibu atau dari bapa ada yang menikah, seperti yang Dian pikirkan, Dian selalu menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


__ADS_2