
"Selain kamu pemarah ternyata kamu pelupa alias pikun juga ternyata, bukankah semalam kamu tidak mau jika kita berjalan berdampingan".
"Terus.. terus.. ledek aku sampai puas".
Fahmi pun tertawa karena merasa menang.
Rika yang kesal melanjutkan langkahnya, dia tidak memperdulikan lagi Fahmi yang masih tertawa.
"Tante" ucap Rika yang sudah sampai di hadapan tante Sintia.
"Duduk nak!".
Rikapun duduk di depan tante Sintia. "Tante aku mau tanya, apa pekerjaan ku selama aku tinggal di sini?".
tante Sintia pun berkata. "pekerjaan kamu selama di sini cuman membantu tante dan membantu menyiapkan keperluan Fahmi saja".
"Oh baiklah tante, tapi kenapa aku juga harus membantu Fahmi?".
"Karena selama tante sakit tante tidak bisa membantu menyiapkan keperluannya".
Fahmi yang sudah duduk bergabung dengan mereka pun merasa heran mendengarkan permintaan mamahnya pada Rika, pasalnya mamahnya itu tidak pernah membantunya mempersiapkan keperluannya.
__ADS_1
"Orang kaya, sudah sebesar ini masih di bantu mamahnya, aku baru tau kalau kamu semanja ini", ucap Rika menyindir Fahmi.
Fahmi yang tidak terima dengan sindiran Rika ingin angkat bicara, namun tatapan mamahnya sudah menyuruhnya diam. alhasil Fahmi hanya bisa menerima sindiran tersebut dengan hati dongkol.
"Nak sebentar lagi waktunya makan siang kamu bisa bantu bi inah memasak!".
"Baik tante, kalau begitu saya permisi dulu".
*
Sementara Dian yang berada di rumah mertuanya merasa bosan karena hanya duduk dan memainkan ponselnya, sementara Angga sudah pergi bersama ayahnya untuk memeriksa restoran mereka.
Bunda pun sudah pergi entah kemana.
Bunda tiba-tiba datang dari belakang Dian dan berkata "Ada jika kamu mau".
"Eh bunda ngagetin saja, memang apa yang bisa aku lakukan Bun selain bengong disini".
"Kamu bisa bantu bunda menanam sayuran ini" ucap bunda sambil memperlihatkan benih sayuran yang baru dia beli.
Dian pun merasa senang karena di ajak bercocok tanam, "kalau begitu ayo Bun".
__ADS_1
"Ayo" ucap bunda.
merekapun pergi ke kebun belakang rumah, sampai di sana Dian kaget melihat luasnya kebun sayur yang mertuanya miliki, dan Dian pun bertanya.
"Bun sayuran sebanyak ini di jual kemana?"
"Bunda tidak menjualnya sayang".
"Terus bunda apakan sayuran sebanyak ini".
"Bunda menanamnya untuk di pakai di restoran kita, Dulu kami selalu memasok sayuran dari petani, tapi karena bunda tidak ada kegiatan setelah Angga besar jadi bunda berinisiatif untuk memanfaatkan lahan kosong ini jadi kebun sayuran.".
" Bunda hebat tapi kasian para petani sayurannya". ucap Dian prihatin.
" Kamu ini, tenang para petani sayurannya Bunda pekerjakan di sini kok jadi mereka tidak kehilangan mata pencaharian mereka. Sudah ayo kita mulai menanam sebelum tengah hari".
Mereka pun menanam benih sayurannya, di kebun bunda ada banyak jenis sayuran dan semua sayurannya ada beberapa tahap, agar masa panennya tidak berhenti setelah mereka menanam benih sayuran mereka pun ikut memanen sayuran yang sudah siap panen untuk mereka pakai.
"Bun kalau seperti ini rasanya Dian mau tinggal di sini saja" ucap Dian.
"Tidak bisa sayang" ucap Angga yang baru datang.
__ADS_1
Dianpun melihat Angga dan berkata "kenapa mas".
"karena tempat kerja mas jauh dari sini, kalau mas terlalu cape bisa bisa bibit mas tidak berkualitas dan mereka akan lama punya cucu". ucap Angga tersenyum sambil melihat orang tuanya.