
"Ka aku ke toilet dulu".
"Bukan nya tadi kamu sudah ke toilet?". tanya rika
Dian tersenyum, "Tidak tau, aku juga bingung tidak biasanya aku seperti ini". Dian pun pergi ke toilet.
Saat sedang berjalan menuju mejanya Dian tiba tiba menghentikan langkahnya, Dian menatap sepasang kekasih yang sedang bermesraan, lalu Dian berjalan menghampiri meja mereka, dan tanpa aba aba Dian menyiram seseorang.
Fahmi yang marah karena seseorang menyiramnya, tanpa melihat si pelaku langsung menggebrak meja,
sapai orang-orang melihat padanya, begitupun Rika.
"Kau". ucap Fahmi dengan amarahnya, namun saat melihat orang yang menyiramnya Fahmi diam mematung, dan perempuan yang tadi bersamanya berkata.
"Sayang kenapa kamu diam?". dia menggoyangkan tangan Fahmi.
Sementara Dian merasa hatinya tertusuk sangat dalam saat mendengar wanita itu memanggil Fahmi dengan kata sayang. dengan mata yang berbembun Dian berkata. "Kamu bilang sayang".
"Iya sayang, karna dia pacar saya". ucap perempuan itu.
Dian menarik napasnya dalam, "Baiklah mas, ini terakhir kita bertemu!". lalu dian melepas cincin pertunangannya. Dian menaruh cincinnya di atas meja dengan sangat keras. "dan ini aku kembalikan kita putus". Dian pergi dan di susul Rika.
Fahmi diam tak mengeluarkan satu katapun, dia benar benar seperti patung, mungkin dia kaget dengan apa yang terjadi.
"Sayang apa maksudnya ini, apa kamu sudah bertunangan. Sayang". bentak wanita itu. Fahmi pun menoleh dan mengangguk.
__ADS_1
"Kita putus!". ucap wanita itu dan pergi meninggalkan Fahmi sang masih diam.
Fahmi pun tersadar saat pelayan meng hapirinya. Dia langsung berlari setelah memberikan uang pada pelayan tersebut.
Fahmi mencari Dian di kosan nya dan nihil, Dian tidak ada, fahmi terus mencoba menghubungi Dian tapi tetap saja tidak aktif, "Dian kamu kemana?" Ucap Fahmi prustasi, Fahmi terus berpikir tempat mana yang mungkin di datangi Dian jika sedang bersedih.
Fahmi teringat pada suatu tempat yang Dian bilang itu adalah tempat yang sering Dian datangi jika dia merasa sedih.
Setelah satu jam berkendara Fahmi sampai di tempat itu, Fahmi juga tidak menemukan Dian. "Dimana kamu sayang, tidak mungkin bukan jika kamu pulang kerumah orangtua mu".
Saat di restoran, Fahmi tidak melihat Rika, jadi dia tidak berpikir jika Dian bersama Rika saat ini.
Sementara di sebuah kamar, Dian sedang menangis, di temani Rika yang terus mengusap ngusap punggung Dian.
"Rika aku mau pulang, aku lelah, mungkin aku juga akan keluar dari pekerjaan ku".
"Apa kamu yakin?". tanya rika
"Aku yakin, aku benar benar lelah Ka, Ka boleh aku minta tolong?".
Rika menganggukan kepalanya.
"Pinjami aku buku dan pulpen". Dian pun membuat surat pengunduran dirinya. "Ka ini surat pengunduran diri, aku nitip sama kamu".
Rika mengangguk, "Dian Apa kamu benar-benar yakin, apa kamu tidak mau memikirkan nya lagi?".
__ADS_1
"Tidak ka ini sudah menjadi keputusan ku,
ka boleh aku pinjam ponsel mu?".
"Tentu saja". Rika mengambil ponselnya dan memberikannya pada Dian, Dian pun menerimanya dan menelpon seseorang.
"Assalamu'alaikum bu ini Dian".
"Wa'alaikummussalam, iya ada apa nak, nak kamu kenapa?". ibu kos merasa cemas karna mendengar suara dian seperti habis menangis.
"Tidak apa apa Bu". jawab Dian.
"Bu apa tadi ada mas Fahmi datang ke sana?".
"Ada". jawab ibu.
"Apa dia masih ada di sana?".
"Tidak nak, baru saja dia pergi".
" terimakasih bu inpormasinya, assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam jawab Ibu kos, panggilan pun berakhir.
"Ka, antar aku ke kosan, aku mau mengambil barang barang ku mumpung dia baru pergi, kalau nanti takutnya dia balik lagi ke sana".
__ADS_1