
"Hey, melamun saja, apa kamu sudah melihat sahabat ka Angga?", tanya Rika.
"Belum, karena mereka sudah pergi".
"Oh, kira kira mereka akan pergi kemana?". Tanya Rika.
" Sepertinya mereka akan melihat-lihat daerah sini". Jawab Dian.
"Untuk apa?".
"Mencari tanah kosong atau rumah yang akan di jual".
"Untuk apa?, apa ka Angga mau membuat kosan lagi?".
Dian tersenyum mendengar Rika berbicara seperti itu karena Rika memberinya sebuah ide.
"Tadinya kami ingin membeli rumah atau tanah untuk kami tinggali, tapi ucapan mu barusan memberi ku sebuah ide".
Rika tertawa mendengar ucapan Dian dan berkata "Parah kau mau jadi yoya kosa, eh iya apa kamu tidak penasaran dengan sahabat ka Angga?".
"Aku memang penasaran dengannya, sangat penasaran, tapi jika mas Angga belum mau memperkenalkannya pada ku jadi ya sudahlah mungkin itu untuk kebaikan ku, dan jika itu bukan untuk kebaikan ku mungkin kamu juga sudah memberi tahu ku dari kemarin-kemarin dia itu siapa?, secara mulut mu kan ember".
__ADS_1
"Syukurlah jika kamu mengerti, tapi sepertinya dalam waktu dekat kamu akan mengetahuinya".
"Kenapa?, apa kamu akan menikah dengannya dalam waktu dekat". goda Dian.
"Kau ini, sepertinya kau sudah ketularan ka Angga, bukankah tadi kamu bilang kamu mau tinggal di daerah sini dan menjadi nyonya kosan, itu tandanya kamu akan segera bertemu dengannya".
"Iya juga".
"ayo masuk sudah mau magrib dan setelah sholat, aku ingin bertanya banyak hal pada mu?".
"Iya baiklah", merekapun masuk dan melaksanakan sholat magrib.
setelah sholat Dian dan rika pun kembali keruang tamu, Rika bertanya banyak hal sampai Dian benar benar kewalahan menjawab pertanyaan Rika, kadang Rika bertanya sambil menggodanya, tapi Dian menjawabnya hanya dengan senyuman.
Ibu yang sudah beres berjualan pun masuk dan berkata "Kalau kamu penasaran sebaiknya kamu cepat cari calon suami!", ucap Ibu setelah dia duduk.
"Aku sudah memperkenalkan nya sama ibu, tapi ibu malah menolaknya".
"Tentu saja ibu menolaknya, Ibu tidak rela jika kamu harus menikah dengannya, ibu lebih setuju dengan sahabat kakak mu".
"Apa ibu sudah lupa tentang prilakunya selama ini?".
__ADS_1
"Ibu tidak lupa sayang tapi entah kenapa ibu suka sama dia, Dia pemaaf dan baik kalau soal dia suka berselingkuh kamu pasti bisa mengatasinya, bukankah kamu juga sama seperti dia suka gunta-ganti pacar".
Mata Rika membola mendengarkan ucapan ibunya, dia tidak percaya jika ibunya menyukai Fahmi.
"Ah sudahlah bu, aku tidak mau membahasnya, dan kamu Dian kenapa tidak membela ku". ucap Rika
"Aku mau membela mu dengan cara apa, aku tidak tau yang kalian bicarakan siapa dan seperti apa orangnya?"
Angga pun datang dan bergabung dia berkata, jika dia sudah menemukan lahan yang cocok untuk membuat rumah.
"Jika peroses jual belinya lancar tidak ada halangan yang berarti, mungkin dalam waktu dekat kami akan membangun rumah di sana bi", ucap Angga
"Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah bibi dan juga tidak terlalu dekat tapi bisa di tempuh dengan berjalan kaki', ucap Angga lagi.
Itu salah satu alasan Angga memilih lahan tersebut, mengingat Dian tidak bisa menggunakan kendaraan apapun, dan Angga tau Dian tidak terlalu suka menaiki ojeg jika tidak terpaksa.
"Syukurlah ka jadi bibi tidak akan kesepian lagi jika Dian tinggal di sekitar sini".
"Iya bi, oh iya bi sepertinya kami harus pulang".
"Bibi kira kalian mau menginap di sini karena ini sudah malan".
__ADS_1
"Itu tidak mungkin bi, bisa-bisa Rika mengganggu kami". ucap Angga tersenyum.