Jodoh Cermin Diri

Jodoh Cermin Diri
Tinggal di Kampung


__ADS_3

Dian pun menaiki motor mas Agus.


"Terus alasan kamu bawa barang sebanyak ini apa?" tanya mas Agus.


"Eh Dian kira mas percaya dengan alasan Dian", ucap Dian sambil menggaruk tengkuknya.


"Ya kali mas percaya, kamu ini ada ada saja".


Dian tersenyum, "Sebenarnya, Dian memilih tinggal di kampung untuk menemani Ibu, kasian Ibu tidak ada yang nemenin ka Sinta kan sudah ikut sama mas Agus".


"Nah kalau itu mas percaya,, syukurlah kalau kamu mau tinggal lagi di rumah ibu".


"Iya mas mungkin kali ini sudah waktunya Dian benar benar pulang".


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, setelah melewati jalan yang panjang dan berliku akhirnya aku sampai di rumah ibu". ucap Dian lebay.


"Lebay". ucap mas Agus sambil menurunkan barang bawaan Dian.


"Terimakasih mas".


"Sama sama" jawab mas Agus.


Dian berjalan mendahului mas Agus karna dia sudah tidak sabar bertemu dengan Ibunya.


"Assalamu'alaikum, Bu, Ibu.." Dian menunggu beberapa menit dan Ibu pun membuka pintu.


"Assalamu'alaikum ibu ku sayang, ucap dian yang mengulang salamnya, Dian mencium tangan ibu dan memeluk ibu.


Saat memeluk ibu dian menarik napas nya dalam dalam karna tiba-tiba saja dian ingin menangis. Ibu yang merasa ada yang salah dengan Dian, karna Dian menarik napasnya dalam dalam pun bertanya, "Ada apa nak?".

__ADS_1


Dian melepaskan pelukannya dan berkata


"Tidak ada-apa apa Bu". Ucap Dian dengan senyum yang di paksakan, dan ibu tau itu.


"Asalamu'alaikum Bu ucap mas Agus". "Wa'alaikummussalam jawab Ibu, lo kalian datang barengan?".


"Iya bu, tadi Dian tidak sengaja ketemu mas Agus di jalan jadi bareng deh, Ibu tau tidak?".


"Tidak" jawab Ibu.


"Ibu ih Dian belum juga selesai ngomong sudah di jawab saja".


"Kamu nanya ya ibu jawab dong", entahlah ibu sangat suka menggoda Dian, "Terus kamu mau bilang apa".


"Tidak jadi ah Bu" jawab Dian.


"Nak Agus ini barang barang siapa?", tanya Ibu.


"Dian kamu separti mau pindahan saja, bawa barang sebanyak ini, terus ini isinya apa aja, sampe dua dus dan satu ransel?".


Dian tersenyum , "Iya Bu, memang Dian mau pindah kesini, dus yang ini isinya head layer, setrika dan mejikom ,, yang ini tas sepatu dan beberapa pakayan dan ransel ini isinya pakayan semua.


"Lo, kenapa bukannya kamu mau berhenti bekerja jika sudah menikah?".


"Dian berubah pikiran Bu".


"Kenapa?". tanya ibu.


"Dian kasian sama ibu tidak ada yang menemani".

__ADS_1


"Oh", jawab ibu namun dalam hati ibu berkata, Tidak mungkin itu alasan kamu nak, ibu tau kamu berbohong kamu pasti menyembunyikan sesuatu".


"Bu jangan melamun!"


"Tidak, Ibu tidak melamun". jawab Ibu.


"Bu, apa mas Agus tidak disuruh masuk, kasian dari tadi berdiri terus".


"Eh iya nak, masuk!, terimakasih juga sudah membantu Dian".


"Iya sama sama", jawab mas Agus.


"Mau minum apa nak?"


"Aku teh manis Bu". Jawab Dian.


"Ibu nanya sama mas Agus bukan nanya kamu".


"Dian jga haus Bu", ucap Dian.


"Kamu buat sendiri, enak saja ibu harus layanin kamu".


Dian pun berdiri akan ke dapur untuk membuat minum, mas mau minum apa biar Dian sekalian bawain.


"Mas air putih saja", jawab mas Agus.


Lalu Dian bertanya pada ibu dengan suara lembut bak putri.


"Kalau Ibu mau minum apa?".

__ADS_1


"Tidak usah, biar Ibu saja yang buatin".


"Tidak bu Dian tidak mau jadi anak durhaka, nyuruh-nyuruh Ibu, Ibu duduk aja ngobrol sama mas Agus".


__ADS_2