Kamu & Senja

Kamu & Senja
Penyesalan


__ADS_3

Hari ini sepertinya tidak ada senja, karena langit sedang bersedih. Aku harap langit sedih karena melihatku saat ini, terpuruk dan tak tau harus berbuat apa. Mungkin aku yg salah atau dia, atau mungkin takdir yg tak berpihak padaku, entahlah.. Yg ku tau semua usaha dan mimpi yg ingin ku capai sepertinya pupus saat ini.


Aku masih tak habis fikir, kenapa dunia sesempit ini. Saat aku merasa semua akan baik-baik saja, ternyata aku salah dan sekarang aku harus menanggunh akibat dari apa yg telah ku lakukan padanya.


Saat sedang memandang langit, air pun turun membawa berkah dan tak lupa membawa kenangan, membawa kehidupan baru serta sedikit memberikan perih karena air rupanya membasahi luka yg telah ku buat sendiri


Ya.. Sore ini jadi sore yg aku benci dalam hidupku. Padahal tadi pagi hariku berjalan seperti biasa, waktu kadang jahat jika tak berpihak pada kita dan itu yg ku rasakan sekarang.


Meskipun hujan lumayan deras, aku tetap tak bergerak dari tempat dudukku, berharap melihat senja untuk menghibur diri. Orang-orang mulai berlari untuk berteduh, pinggir pantai yg tadinya ramai mendadak sepi karena hujan. Aku pun berkata.. "Apa salahnya hujan? Bukankah hujan hanya membasahi?" Lalu di tengah fikiran itu terdengar suara yg memanggil namaku.


"Man.. Arman.. Oi.. Budek sini. Hujan entar lo sakit ******".


Saat aku berbalik ternyata orang itu adalah teman baikku Ilham. Tapi alih-alih menuruti apa katanya aku malah lanjut menatap pantai berharap senja akan muncul saat itu juga. Dengan tatapan kosong dan sedikit harapan aku terus menatap tanpa mau peduli dengan Ilham yg masih saja berteriak dari dalam sebuah restoran yg ada di sekitar pantai.


Aku menatap langit dengan penuh penyesalan yg kata orang selalu datang terlambat. Ternyata benar, saat penyesalan itu hadir rasanya sungguh sakit.


Lama tak aku gubris Ilham datang berlari menghampiriku sambil melindungi kepala dengan tas ranselnya agar tak basah, meskipun itu hal yg sia-sia mengingat hujan yg lumayan deras saat ini.


"oi.. ****.. Sini, kenapa sih?" tanya Ilham sambil memegang pundakku.


"laptop." kata ku


"hah? Maksudnya?"


"bukankah dalam ranselmu itu ada laptop?"


"ohh iyaa bener.. Lupa."


Sambil memukul jidatnya yg lebar itu, dia lalu menarik tanganku dan berlari kearah restoran tempat dia berteriak memanggil namaku. Ilham salah satu teman dekatku, mungkin kalau mau di bilang sahabat aku tidak menganggapnya seperti itu walaupun kenyataannya dia sendiri sudah menganggapku sebagai sahabat.


Hanya saja bagiku, sahabat adalah hal mustahil yg tak dapat aku miliki, setidaknya itu yg kurasakan sekarang. Untukku eksistensi sosok sahabat sangat sulit untuk di raih karena membutuhkan pengorbanan yg besar, singkatnya aku tak percaya dengan yg namanya perusahaan sekarang. Jadi selama ini aku hanya menganggap Ilham sebagai teman dekat yg sangat bisa di andalkan dalam berbagai situasi.


"Man.. Ngapain di sini? Hujan-hujan kayak anak sd aja" ujarnya.

__ADS_1


Aku tak merespon pertanyaannya, aku hanya diam dan menatap matanya. "ini nih.. Dasar labil, nih orang kalau sudah begini pasti galau masalah cewek pasti.. Kenapa? Putus? Di tolak? Diselingkuhin?" katanya sekali lagi.


"Ham pernah gak sih kamu rasain saat kamu sudah terbang dan hampir saja sampai di langit teratas tapi tiba2 kamu tersandung dan terjatuh sangat dalam?" Kataku datar.


"hah, maksudnya? Man, lu sakau yah" ucapnya.


"kala sakau yg kamu maksud itu candu, maka sepertinya iya." aku membalas ucapannya lagi dengan wajah tanpa ekspresi.


"wah jangan2 nih anak mabok lagi. Man lu napa sih?" Kulihat dia mulai khawatir, akhirnya aku tersenyum terpaksa memasang topeng palsu yg bernama 'senyum' agar dia tidak lagi bertanya tentang masalah pelik yg saat ini aku hadapi. Aku bukan tipe orang yg suka berbagi masalah, aku adalah tipe orang yg lebih suka memendam masalah.


Lagi pula aku tak tau harus berkata apa kepada Ilham, karena apa pun yg aku katakan dia tidak akan mengerti. Aku yakin bahwa orang yg dapat memahami masalahku adalah mereka yg pernah mengalaminya.


Ini bukan drama atau kisah cinta remaja labil yg galau karena putus oleh pacarnya, ini adalah masalah yg di awali dari sebuah keyakinan dan harapan.


Lama kami duduk, hujan yg tadi membasahi tubuhku perlahan reda namun sayang aku tak bisa menikmati senja yg dari tadi telah ku nanti karena langit masih tertutup awan gelap. Aku melihat Ilham yg dari tadi bingung karena laptopnya tak mau menyala. Mungkin dia sudah lelah bertanya tentang masalahku karena dari tadi aku tak begitu merespon setiap pertanyaan.


"Ham.. Udah hampir magrib, aku pulang duluan." Kataku sambil berdiri dari kursi.


"gak papa, ada pakaian kering kok di bagasi motor."


"ohh iya iya.. Ehh.. Bro lu gak sendirian, kalau ada masalah ceritain biar lu nya plong. Ok" jawabnya. Dia memang tidak terlalu pintar tapi dia masih teman baikku. Teman baik sejak kuliah dari semester pertama sampai semester 7 saat ini.


Di perjalanan pulang, karena adzan magrib berkumandang akupun singgah di salah satu mesjid, meskipun rumah ku sudah dekat hanya saja bukan lelaki namanya kalau shalatnya tidak di mesjid. Lagi pula ada banyak keluh dan kesahku hari ini yg ingin aku ceritakan pada Tuhan ku, walaupun sebenarnya aku tau Dia sudah mengetahui semua masalahku.


Setelah shalat selesai, aku sejenak duduk memperhatikan setiap orang yg ada dalam mesjid. Ada yg melantunkan tilawah Qur'an dengan indahnya, ada pula yg berdoa dengan khusyuknya meminta kepada Allah Sang Pencipta langit dan bumi.


Kadang aku berfikir, kok bisa ya mereka berdoa sekhusyuk itu. Jika aku bandingkan denganku, jangankan berdoa saat shalat saja fikiranku terkadang lari kemana-mana hingga membuat ku lupa rakaat pada shalat. Melihat itu rasanya aku malu, meminta banyak kepada-Nya tapi tak bisa memenuhi kewajiban sebagai muslim yg baik.


Saat sibuk memperhatikan, tiba-tiba ada yg memegang pundak ku."assalamualaikum Man"


"waalaikumsalam" jawabku sambil menoleh.


Aku tak terlalu kaget melihatnya, karena suaranya sudah sangat familiar. Dia Ivan, salah satu teman dekatku yg juga mengenal Ilham.

__ADS_1


"masyaallah bro. Bisa ketemu di sini." ucapnya


"masyaallah.. Kamu emang dari mana?" balasku


"tadi aku ke rumah kamu, tapi kata tante kamunya keluar. Di telfon juga gak di angkat, di wa gak di balas."


"ohh iyaa maaf.. Maaf.. Ada apa?" jika Ivan sudah seperti ini, biasanya ada hal penting yg ingin dia bicarakan denganku.


"jadi gini Man.. Kamu ingat dulu waktu aku belum jadi mualaf?" tanyanya.


Ivan anak orang kaya keturunan cina, dulu dia adalah non muslim sebelum akhirnya memeluk islam. Berbeda dengan Ilham, aku dan Ivan sudah dekat dari masih jaman SD. Bermain bersama pun biasa kami lakukan sejak kecil, karena kebetulan sebelum dia pindah ke luar negeri waktu SMA, dari SD sampai Smp kami tetanggaan dan aku sering main kerumahnya.


Saat masuk SMA, Ivan harus sekolah di di luar negeri karena ayahnya melakukan perjalanan bisnis. Dan setelah kuliah di memutuskan kembali ke Indonesia dan berkuliah di kampus yg sama dengan ku meski berbeda jurusan.


Ivan setahun terakhir memutuskan untuk berpindah keyakinan, aku tak tau alasan pastinya tetapi katanya karena ingin belajar tentang islam. Tapi belakangan aku baru tau dia tengah naksir dengan seorang perempuan di kampus. Dan perempuan itu seseorang muslimah.


Katanya dia pernah datang di hadapan perempuan itu dan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Tapi sayang dia di tolak dengan alasan beda keyakinan. Nah.. Dari situlah dia ingin belajar tentang islam.


Pertama aku mendengar ceritanya mungkin Ivan hanya mengada-ada dan tidak serius dengan islam, karena dia hanya ingin mengejar perempuan yg dia suka dan aku tak terlalu menanggapi tapi aku mengatakan padanya bahwa menjadi seorang muslim cukup mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat mendengar itu dia pun bersyahadat langsung di depanku. Dan sekarang sudah tepat setahun saat dia bersyahadat, tak kusangka dia telah menjadi setaat ini sebagai muslim.


Panjang lebar Ivan menceritakan masalahnya padaku. Sepertinya dia ingin tau tentang taaruf, karena pengetahuan ku pun nihil aku hanya menjawab seadanya.


Aku tau Ivan sudah mengetahui tentang apa itu ta'aruf hanya mungkin dia ingin meminta saran dariku tentang dia yg ingin berta'ruf dengan seseorang.


Terlebih lagi aku sudah pernah melalui hal itu, walaupun tidak berakhirl indah malah berakhir menunggalkan luka. Akupun menjelaskan langkah yg ku lakukan saat dulu aku berta'ruf dengan seseorang, ku jelaskan sedikit demi sedikit tentang langkah - langkah yg ku tempuh waktu itu kepada Ivan.


Taaruf.. Simplenya adalah proses untuk saling mengenal antara laki-laki dan wanita yg ingin menikah. Tentu dengan syarat-syarat syar'i yg tidak melanggar agama.


Ivan kembali mengingat saat kami berdua terlibat pembicaraan tentang ta'aruf ketika itu. Perlahan lambat laun Ivan mulai mengerti dari pengalaman yg pernah ku alami dan terlihat dia begitu bersemangat. Dalam hati aku bisa menebak bahwa sebentar lagi salah satu teman dekatku atau bisa ku katakan saudaraku ini akan mengakhiri masa lajangnya.


Aku turut senang atas tindakan berani yg dia buat, aku jadi ingat saat aku juga memutuskan untuk melakukan hal yg sama tapi sepertinya aku tidak seberuntug Ivan. Hingga saat ini, aku masih belum bisa meraih sesuatu yg saat ini seharusnya menjadi milikku.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2