Kamu & Senja

Kamu & Senja
Seminggu Sekali


__ADS_3

(Masa Kini)


Hari ini aku sedang ada jadwal untuk bertemu dengan dosen pembimbingku, sebenarnya sudah sebulan aku meminta untuk bertemu tapi karena Beliau sibuk makanya baru hari ini aku bisa bertemu. Sebagai mahasiswa semester 7 yg bisa di bilang adalah semester akhir sudah sepantasnya aku harus mulai memikirkan tugas akhir atau skripsi. Untuk itulah aku meminta bertemu dengan Dosen Pembimbing Akademikku agar judul penelitian yg akan aku ajukan dapat di setujui.


Seperti itulah rutinitas mahasiswa tingkat akhir di kampus, bolak balik ruang Dosen sudah menjadi makanan sehari-hari apa lagi jika ingin selesai cepat atau setidaknya 4 tahun agar tidak di katakan Mahasiswa abadi. Memang untuk sebagian teman-teman apa lagi mereka yg punya kegiatan lain selain kuliah tidak terlalu mempermasalahkan tentang wisuda. Mau itu 4,5,6 atau 7 tahun yg penting mereka bisa selesai dan mendapatkan banyak pengalaman untuk menghadapi dunia setelah kuliah. Yg terpenting selesai dan tidak di D.O itu sudah cukup.


Aku pun sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan urusan itu, tapi mengingat beasiswa yg ku dapat hanya sampai dengan 8 semester atau 4 tahun, olehnya aku harus selesai tepat waktu agar tidak membebani Ibu dengan biaya kuliah. Intinya selesai cepat atau lambat itu tidak memengaruhi kualitas ilmu seorang mahasiswa.


Aku sudah harus berada di kampus siang ini, jika saja terlambat aku mungkin akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Prof Armin selaku Dosen Pembimbing akademik. Namun sebelum berangkat ke kampus, seperti biasa aku menyempatkan untuk singgah ke sebuah toko bunga. Tepatnya setiap seminggu sekali aku singgah di toko bunga ini untuk membeli Seikat bunga matahari yg masih segar.


Sepertinya rutinitasku yg satu ini sudah berjalan kurang lebih 5 bulan, rutinitas yg tidak ada apa-apanya ini aku lakukan karena sebuah alasan. Aku tak tau apakah rutinitas ini bisa menembus kesalahanku di masa lalu, tapi untuk sekarang hanya ini yg bisa ku lakukan untuknya “selamat datang.” Kata penjaga toko melihatku masuk.


“hi mas.” sapaku kepada pemilik toki.


“mas Arman. Seperti biasa yah!” ucapnya.


“iya mas, tolong di kirim besok pagi yah.” Ujarku memberi tanda.


“ok siyap mas. Ini kartu ucapannya silahkan di isi mas.”


Mas Lukman, dia adalah penjaga toko yg sering aku temui di toko bunga ini. Dia sudah tau keperluanku ketika aku datang ke sini, itu wajar saja mengingat aku sudah sering ke sini untuk memesan bunga yg sama setiap aku datang dan memintanya untuk mengirim bunga itu ke alamat yg ku berikan. “kalau begitu Mas, tolong nanti kalau sudah sampai ke alamat di infokan ke aku yah.” Kataku.


“Siyap mas. Nanti saya WA.” Balasnya.


“ok mas. Makasih.”


Aku keluar dari toko bunga dan bergegas ke kampus. Di perjalanan ke kampus, di tengah jalan aku tidak sengaja melihat Adi dan Gina. Dari belakang aku memperhatikan mereka berdua di atas motor, meski hanya sekilas ku lihat mereka sedang tertawa.


Adi dan Gina sudah memulai hubungan sejak 2 bulan lalu, tepatnya di awal semester 7 mereka berdua resmi berpacaran setelah setahun lebih Adi berusaha meyakinkan Gina bahwa dia menyukainya. Sebagai seseorang yg dekat dengan mereka berdua tentu aku senang tapi sebagai seorang yg sedikit demi sedikit belajar tentang Agama tak jarang aku ceramah di depan mereka agar tidak terlalu terlena dengan perasaan sampai kebabblasan.


Aku terus saja mengekor di belakang mereka tanpa mereka tau. Setibanya di parkiran kampus, mereka berdua pun terkejut karena tiba-tiba aku berada di di belakang mereka. “Arman.. Sejak kapan..” Kata Gina.


Belum selesai Gina berbicara aku memotong.


“sejak dari tadi.. Sejak di fly over tadi aku sudah ngekor di belakang kalian.”


“ya ampun Man. Maaf ya kalau kita berdua buat kamu panas.” Kata Adi.


“tenang bro.. Aku kebal.. Aku kan jomblo fisabilillah.” Balasku membela diri.


“bisa aeee. Hahaha.” Ujar Adi.

__ADS_1


“terus ada urusan apa kamu di kampus Man?” tanya Gina.


“aku mau ketemu dengan Prof Armin. Mau konsultasi judul skripsi.”


“oh bagus dong. Tuh Arman aja udah mau konsultasi judul, kamu kapan?” kata Gina menyinggung Adi.


“baru juga semester 7. Masih bisa lah.”


“kalau kamu Gina? Ke kampus ada urusan apa?”


“aku mau konsultasi Proposal penelitian.”


“asyik.. Udah konsul aja yah. Terus Adi?”


“nemenin nih anak.” Balas Adi memegang kepala Gina.


“tolong tolong.. Jangan gitu di depanku nanti, jadi mual nih pengen muntah.” Kataku menggoda mereka berdua.


Gina tertawa melihatku, begitupun Adi. Setelah itu kami berpisah karena ruangan yg akan kami tuju berbeda. Aku akan pergi ke ruangan Dekan Fakultas yg berada di lantai 3 sedangkan Gina akan pergi ke ruang Dosen di lantai 2.


Aku ke ruang Dekan karena kebetulan Prof Armin yg menjadi pembimbing akademikku adalah seorang Dekan. Dekan adalah pemimpin yg memimpin Fakultas di suatu Universitas. Untuk pemimpin tingkat Universitas di sebut Rektor, walaupun penggunaannya tergantung dari kebijakan kampus itu sendiri.


Cukup lama juga aku menunggu sampai hari sudah mulai sore. Siang tadi aku harus menunggu berjam-jam agar dapat bertemu dengan Prof Armin tapi aku puas karena judul penelitian yg aku ajukan di terima olehnya. Sekarang tinggal mengurus administrasi pengajuan judul skripsi kepada ketua jurusan Administrasi Negara.


Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir, di tolak oleh perempuan itu lebih baik dari pada di tolak saat mengajukan judul skripsi. Itu karena memikirkan judul atau masalah penelitian bukan hal yg mudah, bahkan tak jarang bisa di tolak hingga 10 kali pengajuan judul jika kita tak bisa meyakinkan Dosen tentang penelitian yg akan di lakukan. Pastinya itu berat, menyebabkan frustrasi dan darah tinggi. Untung saja aku tidak mengalami hal sesulit itu dan sukses mengajukan judul hanya dengan satu kali pengajuan.


Saat aku turun ke lantai pertama, aku bertemu dengan Ica. Dia berlari ke arahku dan tiba-tiba mengahetkanku, dari nada dan paras wajahnya dia seperti sedang kegirangan.


Dengan semangat dia menceritakan bahwa proposal penelitian skripsi sudah mendapat persetujuan dari Dosen Pembimbing pertama dan kedua, artinya Ica sudah bisa sidang Proposal. Tentu itu merupakan berita bahagia, terlebih lagi untuk periode mahasiswa semester 7 yg sudah bisa melakukan sidang ujian Proposal presentasinya sangat sedikit. Aku tidak ragu karena orang yg melakukan itu adalah Ica, salah satu mahasiswa cerdas di jurusanku.


Aku pun mengatakan bahwa judul penelitian yg ku ajukan sudah di setuju, mengetahui itu dia tampak senang. Karena belum makan siang, kami berdua memutuskan untuk makan bersama di kantin. “jadi Ca’ kapan jadwal ujiannya?”


“Kata Pak Agus tanggal 21.”


“oh.. Masih ada dua minggu.”


“iya, terus kamu udah ada pembimbing skripsi?”


“belum Ca’, rencana besok baru minta saran ke ketua jurusan.”


“semangat Man.” Katanya tersenyum.

__ADS_1


“oh iya tadi aku ketemu Adi sama Gina di parkiran. Coba yah aku hubungi mereka.”


“tadi aku ketemu kok di ruang Dosen, tapi kayaknya mereka pulang duluan deh Man.”


“oh. ya udah kalau gitu.”


Setelah berbincang sebentar, kamk berdua kemudian berpisah. Ica masih ada urusan di kampus sedangkan aku ingin langsung pulang. Di koridor yg menghubungkan tiga Fakultas yaitu Sospol, Ekonomi dan Sastra. Tak sengaja aku berpapasan dengan Citra.


“Hi Citra.”


“hi.. Arman.”


“mau kemana?” Kataku.


“aku mau pulang Man.”


“Citra tunggu..” Teriak seorang perempuan di belakangnya.


Suara yg aku dengar itu tidak asing, begitu familiar di telingaku. Tanpa melihatnya pun aku sudah tau kalau itu adalah dia. “iya Fin.. Kamu yg kelamaan.” Balas Citra.


“ya udah ayo.” Katanya.


“e hi.” Kataku mencoba menyapanya.


Di melihat ke arahku, spontan menundukkan pandangannya.


“apa kabar?” masih mencoba menyapanya.


“alhamdulillah, maaf apa aku mengenalmu?” Jawabnya berfikir.


“e...”


“maaf ya Arman.. Kalau begitu kita duluan.” Kata Citra menjauh.


Citra dan perempuan itupun pergi, semakin jauh hingga punggung mereka berdua tidak terlihat. Aku masih saja berdiri tak beranjak, aku memikirkan ekspresi wajahnya saat melihatku, melihatku seperti orang asing. Setelah ku fikirkan lagi sebenarnya dia tidak benar-benar melihatku, dia menundukkan pandangannya sambil berbicara denganku. Dia menundukkan pandangan karena baginya aku adalah orang asing.


Pertemuan ini menggangguku, padahal tadi hatiku sedang senang dengan di terimanya judul penelitian yg aku ajukan tapi karena bertemu dengannya di sini, aku lagi-lagi mulai terganggu. "Sesulit itukah melupakan, seperti inkah cinta?" Gumamku.


Jika hatiku sedang kacau begini aku butuh sesuatu yg menenangkan dan bagiku tak ada yg lebih menenangkan selain melihat langit jingga hingga menjadi hitam. Aku pun memutuskan untuk pergi ke tempat favoritku, dimana lagi jika bukan di pantai tempat biasa aku menikmati senja. Mengingat cuaca yg terlihat cerah, aku harap senja kali ini bisa menjadi obat untuk hati yg sedang kacau.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2