Kamu & Senja

Kamu & Senja
Air Mata


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Ada hal yg tidak bisa di jelaskan, seperti perasaanku akhir-akhir ini. Misalnya maksud dari tatapan Alfy kemarin ketika aku bertemu dengannya. Aku tidak mengerti mengapa dia menatap seperti itu? Itu jelas tatapan luka atau mungkin aku yg terlalu berharap.


Dan yg lebih membingungkan adalah perasaan bersalah. Untuk apa aku merasa bersalah? Salah kah aku jika jalan berdua bersama perempuan yg membuatku nyaman. Apa ini? Aku tidak begitu mengerti, aku pikir ini hanya reaksi berlebihan dari harapan-harapanku padanya.


Aku masih saja mencari solusi di tengah-tengah keberadaan temanku yg lain. Aku yg seharusnya menghibur Ica yg masih belum melupakan sakit hatinya malah menjadi orang yg juga perlu di hibur.


Sesekali aku memandang Ica dan saat itu pula aku merasa bercermin. Kenapa? Apakah aku juga akan mengalami itu?


Ilham yg menaruh hati kepada Ica terus saja mencoba menghibur, melontarkan candaan ringan dan obrolan santai agar Ica bisa rileks dan membaur kembali dengan kami. Sementara Adi mencoba meyakinkan Ica bahwa dia tidak sendiri, dia punya teman-temannya, begitupun Gina yg sedari tadi erat memeluk Ica yg masih belum pulih.


Setelah insiden itu, Ica masih mencoba menghubungi Irwan tapi kontaknya sudah tidak aktif. Di kampus pun dia sudah tidak terlihat lagi dan teman-teman di kampus benar-benar tidak mengetahui keberadaannya sekarang. Irwan hilang di telan bumi, tidak ada yg tau dimana dia sekarang.


Aku sendiri tidak tau pasti apa yg terjadi, karena Ilham tidak sempat mampir ke rumahku untuk menceritakan semua kejadiannya. Akupun tak tau harus melakukan apa untuk Ica, karena aku sendiri saja sedang mengalami gundah.


Aku hanya bisa menatap Ica, dia seperti orang yg tidak aku kenal. Apakah yg merubahnya seperti ini adalah cinta? Jika iya, maka aku bisa saja menjadi seperti Ica. Menjadi galau seperti orang bodoh karena berharap pada seseorang yg melihatku dengan sebelah mata.


Sebelah mata? Apa iya? Apa Alfy benar melihatku dengan sebelah mata? Apa dia tidak punya perasan sepertiku? Tapi tatapan itu? Ahhh sudahlah.. Aku harus melupakannya. Seperti kata Idan dan Yusuf. Aku harus tau diri, aku harus tau memposisikan perasanku.


Perasaanku semakin hari semakin kacau, pikiran-pikiran yg mengganggu semakin membuatku tidak nyaman dengan hidup. Aku merasa seperti remaja puber yg baru pertama kali jatuh cinta.


Aku harus fokus, salah seorang temanku sedang butuh bantuan untuk menenangkan jiwanya yg goyah karena pengkhianatan. Jika di pikir kembali malasahku lebih ringan di banding malasahnya.

__ADS_1


"Ica aku pesenin makan yah?" Kata Ilham menawarkan.


"tidak, aku tidak lapar." balas Ica datar.


"Ca' kamu belum makan loh dari kemarin." jelas Gina.


"aku tidak lapar." gumam Ica sekali lagi.


Ilham melihat ke arahku, dengan tatapan bingung memberikan kode agar aku ikut membujuk Ica.


Karena bingung akupun mambalas dengan kode bahwa aku tak tau harus berbuat apa. Aku sendiri masih di ganggu oleh pikiran dan perasaanku sejak tadi.


"Ica.. Please dong. Jangan gini, dimana Ica yg dulu?"


Sepertinya Gina sudah tidak tahan dengan keadaan Ica yg sekarang. Dia terus mengatakan dan membujuk agar Ica bisa sadar dari kegalauan yg tidak berarti. Meski begitu Ica tetap saja diam dengan tatapan kosongnya.


"kalian tau, aku pernah kagum dengan seorang perempuan. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika masih berstatus MABA. Setelah mengenalnya, aku jadi tau arti dari sebuah kerja keras. Aku selalu belajar banyak darinya, meski dia berasal dari keluarga yg kaya tapi sikapnya jauh dari kata sombong. Bahkan dia bekerja sendiri untuk membiayai hidupnya, dia benar-benar hebat. Terus terang aku sangat membenci orang-orang kaya, mereka hidup enak tidak perlu memikirkan tentang hari esok. Semua kebutuhan mereka terpenuhi, mereka semua hidup dengan layak. Aku terus saja berpikir seperti itu sampai aku bertemu dengan perempuan itu. Yg mengajarkan arti hidup padahal dia berasal dari keluarga kaya, akhirnya dia merubah Pandanganku tentang orang-orang berduit. Perempuan itu adalah Ica. Perempuan itu adalah kamu'." ujarku melihat ke arah Ica.


Mendengar itu Ica menatapku, pupil matanya yg tadi nampak kosong sekarang terlihat pantulan tubuhku yg di tatapnya.


"Ica yg ku kenal, dia adalah perempuan hebat. Dia punya mental baja, dia punya mimpi yg besar di masa depan. Tanpa mau menikmati harta orang tuanya, dia bekerja dengan sangat keras. Aku tau itu. Jika di bandingkan dengan masalah ini. Itu tidak sepadan. Memang.. Sakit. Akupun pernah merasakannya, tapi rasa sakit semakin membuat seseorang dewasa. Bukan hanya sikap tapi juga mental. Ca'.. Jangan berpikir dunia sudah runtuh hanya karena satu orang laki-laki yg berhasil mematahkan hatimu. Ingat, kamu masih punya mimpi! Kamu masih punya kami di sini, teman-temanmu." jelasku mencoba menenangkannya.


"aku ingat mimpi itu, kamu pernah menceritakan itu Ca". Sambung Ilham.

__ADS_1


Ica yg tadi menatapku, kini menatap Ilham. Hingga air matanya menetes sampai ke pipinya.


Kemudian setelah menatap Ilham, Ica berbalik ke kiri melihat Gina yg sedari tadi berada di sampingnya. Lalu menatap Adi yg berada di sebelah kanannya. Air mata yg masih saja tumpah membuat Ilham tak tahan sampai di mendekat dan menghapus air mata dengan tangannya.


Ica tak merespon dia hanya terus menatap Ilham yg sekarang berada tepat di depannya. Tiba-tiba Ilham yg jongkok di depan Ica berdiri dan memegang tangannya.


"sorry guys, gua pergi dulu." ujarnya.


Ilham menarik Ica dan mereka berdua pun berlari meninggalkan kami bertiga.


"Ilham.. Mau kemana?" Teriak Adi.


"awas kamu. Kalau Ica sampai terluka." sambung Gina berteriak kepada Ilham.


"biarin aja. Aku yakin Ilham punya cara buat nenangin Ica." kataku.


Kami bertiga akhirnya hanya mampu melihat dari jauh Ilham yg berlari membawa Ica. Entah kemana mereka akan pergi, aku berharap Ilham punya cara jitu membuat Ica kembali ceria seperti dulu.


"Gina.. Loh. Kok kamu nangis sih?" ucap Adi melihat Gina.


Gina spontan menghapus air matanya. "gak papa."


"Aku tau kamu sedih, aku juga sedih melihat Ica yg seperti itu. Semoga saja dia bisa segera pulih." ucapku kepada Gina.

__ADS_1


Setidaknya itu yg aku pikirkan melihat Gina yg ikut bersedih. Tapi ada hal yg aku dan Adi tidak tau tentang arti sebenarnya dari air mata Gina.


-Bersambung-


__ADS_2