Kamu & Senja

Kamu & Senja
Calon Dokter


__ADS_3

Aku masih tidak tau harus berbuat apa..


Di tengah kegalauanku, aku berjalan menyusuri koridor perpustakaan umum kampus.


Saat ini aku ingin pergi ke kantin fakultasku atau lebih tepatnya mantan fakultasku. Di kantin itu Wahid sedang menunggu, ia tau bahwa saat ini aku sedang berada di kampus karena kebetulan di parkiran motor ia melihat motorku.


Berat rasanya..


"Huh.." Aku menghela nafas. Aku berjalan sambil tertunduk karena tak ingin raut wajah murung ini terlihat oleh orang lain.


Karena berjalan seperti itu.. Akhirnya aku menabrak seseorang. "Aduh!!" Orang itu menjatuhkan beberapa buka yang ia pegang.


Ternyata perempuan..


Perempuan itu terlihat menunduk sambil memungut buku yg berserakan di lantai koridor.


"Maaf mba, saya gak lihat." Ucapku meminta maaf padanya sambil membantu dia memungut buku-buku itu.


"Loh.. Arman!" Ucapnya saat melihat ke arahku.


Masih dalam keadaan menunduk, mungkin karena perempuan itu menyebut namaku akhirnya aku mengangkat pandanganku padanya.


"Luna.." Ucapku saat melihat wajahnya.


Kami berdua berdiri setelah memungut buku-buku yg di pegangnya. Cukup banyak juga, pikirku mungkin itu untuk bahan skripsinya.


"Maaf ya!! Aku ngak lihat." Aku meminta maaf padanya karena telah menabraknya.


"Iya gak papa, nyantai aja. Eh bentar-bentar.. Bukannya lo udah wisuda yah?"


"Iya udah gelombang kemarin.."


"Terus ngapain di kampus?" Tanya Luna.


"Emang ada larangan yah alumni jalan-jalan ke kampus?"


"Ya gak ada sih!" Katanya sambil cengar cengir.


"Itu buku untuk skripsi?" Aku menunujuk tumpukan buku yang ia bawa dengan kedua tangannya.


"Ini!!... Ngak. Ini buku-buku yang gue pinjem selama kuliah. Mau di balikin ke perpustakaan.".


"Oh!.." Aku bersikap seolah baik-baik saja di hadapannya.


"Kan udah mau selesai nih. Jadi balikin dulu buku-buku ini. Nanti gak bisa wisuda kalau gak di balikin. Hahaha." Kata Luna sambil tertawa.


"Ya udah, aku duluan." Aku melangkah setelah pamit dengannya.


Meski sudah lama tidak bertemu dengan Luna, tapi aku tidak bisa berbasa-basi dengan santai dan menanyakan kabarnya selama ini. Luka yg terasa di hati membuat aku tidak ingin terlibat percakapan dengan orang lain saat ini.


"Napa tuh bocah.. Murung bet mukanya." Benak Luna melihatku berjalan menjauh.


Luna.. Ia adalah salah satu teman yang aku kenal saat aku melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Salah satu program mata kuliah wajib bagi mahasiswa semester 7, walaupun program dilaksanakan saat libur semester 6 menuju ke semester 7.

__ADS_1


KKN adalah program yang dikhususkan bagi mahasiswa untuk terjun langsung dan mengabdi di masyarakat. Membantu persoalan di tengah masyarakat tentu saja sesuai dengan basic ilmu yang dikuasai oleh mahasiswa.


Biasanya ada beberapa jenis program KKN,.. Yang paling umum adalah program KKN reguler yang aku ikuti ketika masih berstatus mahasiswa di semester 6.


Dimana mahasiswa dikirim ke daerah-daerah.. Dan melakukan program apapun sesuai yang di butuhkan oleh daerah, program yang dilakukan itulah yang nantinya akan menjadi penilaian dosen pembina dalam memberikan nilai di mata kuliah KKN.


Satu daerah atau desa biasanya terdiri dari beberapa posko KKN. Satu posko KKN akan terdiri dari 6-8 mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan dan fakultas di kampus.


Dan Luna.. Adalah salah satu dari sekian teman poskoku saat aku masih KKN.


Aku berjalan meninggalkan Luna,.. Melewati beberapa koridor.. Saat aku sudah dekat dengan Fakultasku, tiba-tiba seseorang memanggil namaku.


Orang itu mendekat.. Ia tersenyum dengan ciri khas di pipinya. Perempuan itu adalah Evelyn.


"Hi Kak." Sapanya.


"Evelyn.."


"Kak Arman mau kemana?" Ia bertanya dengan wajah polosnya.


Aku tak tau harus menjawab apa.. Jika aku menjawab dari taman depan gedung rektorat pasti dia kembali akan bertanya sedang apa di sana.. Aku bingung..


"Kak?? Kak Arman!" Ucapnya sambil mendekat ke wajahku


"I.. Iya, Iya ada apa?"


"Kok bengong sih!! Pasti karena aku cantik kan? Ayoloh ngaku aja. Hehe." Evelyn bergurau, ia mencoba menggodaku sambil bergaya dengan jas putih ala mahasiswa kedokteran yang ia kenakan saat ini.


Aku tidak terlalu merespon, aku hanya sedikit tersenyum.


Aku yg terkejut karena tingkahnya tak bisa berbuat banyak, mau tidak mau aku hanya bisa mengikuti dia dari belakang karena ia menarik tanganku.


Kami berdua berlari.. Menarik perhatian orang-orang disekitar karena kami berlarian di koridor. Sampai akhirnya.. Kami masuk di kawasan fakultas kedokteran dan Evelyn berhenti di satu ruangan.


Itu adalah ruang kuliahnya.. Cukup besar karena sepertinya ruangan ini di khususkan untuk kelas besar dengan jumlah mahasiswa lebih dari 100 orang.. Ruangan kelas ini mirip dengan ruangan seminar di fakultasku.


Meski hanya berjalan tapi.. Evelyn masih memegang tanganku, sementara teman-teman Evelyn yg berada di dalam ruangan itu menyorakinya.


Bagaimana tidak? Saat ini Evelyn memegang tanganku, berjalan di tengah teman-teman Evelyn. Terlebih aku adalah orang asing di mata mereka semua, mungkin saat ini teman-teman Evelyn menganggap bahwa aku adalah pacar dari Evelyn.


Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil menahan malu karena dilihat oleh teman-teman Evelyn.. Genggaman tangan Evelyn sangat erat, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti ke arah mana ia pergi.


Ia naik ke atas.. Di meja tempat tasnya berada.


"Kak Arman duduk di sini!" Katanya sambil nunjuk ke kursi.


"Ta-tapi.."


"Udah Kak.. Duduk aja." Ia kembali memaksaku.


Sementara teman-temannya masih menyoraki Evelyn karena membawaku masuk ke dalam ruangan ini.


Aku duduk sambil menunduk.. Pandangan teman-temannya membuat aku gugup.

__ADS_1


Evelyn merogoh sesuatu dalam tasnya, sesaat kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak makan. "Nih Kak.. Cobain deh." Evelyn memberikan kotak makan itu padaku.


"Eh.. Ini apa?" Tanyaku.


"Ini makanan kesukaan Kak Arman." Jawabnya dengan senyum khas miliknya.


"heh!? Ta-tapi aku harus pergi."


"Cobaain duku Kak.." Evelyn terlihat kesal.


"Tapi.. Ak."


Evelyn terlihat murung, ia mengerutkan dahinya.


"Iya,.. Iya.. Aku cobaain yah.." Karena tingkah anehnya di depanku, akhirnya aku membuka kotak itu.


"Nasi goreng!" Kataku saat melihat isi kotak itu.


"Aku tau Kak Arman belum makan.. Makanya aku ajak ke sini!"


"Aku udah keny.." Belum selesai aku bicara, perutku malah berbunyi seakan menegaskan bahwa aku memang sedang kelaparan.


"Nah kan.. Emang lapar.." Kata Evelyn tersenyum pas di depanku.


"Iya, aku makan kalau begitu." Ucapku sambil menatap nasi goreng itu.


Semakin aku mendekatkan sendok dengan nasi goreng itu.. Maka semakin wajah Evelyn memancarkan rona antusias.


Saat aku masukkan ke dalam mulut dan mulai mengunyah.. Evelyn semakin antusias.


"E-enak." Ucapku spontan.


"Iyakan.. iyakan.. Hehe" Evelyn terlihat bahagia saat aku berkata seperti itu.


"Enak.. Enak.." Aku kemudian dengan lahap menyantap nasi goreng buatan Evelyn dan menghabiskan semuanya tanpa sisa.


Terakhir kali aku bisa menikmati makanan enak seperti ini adalah, sebelum aku mengetahui kenyataan pahit seminggu yg lalu. Setelah itu semua makanan terasa hambar.


Dan saat ini.. Aku bisa menikmati kembali makanan yg aku makan.. Makanan ini menjadi semakin enak saat Evelyn tersenyum bahagia saat aku menghabiskan semuanya.


Waktu berlalu.. Sepertinya Evelyn tidak sedang kuliah karena aku dan dia berada di ruangan ini sudah sekitar sejam yg lalu dan tidak ada tanda-tanda akan kedatangan dosen atau dokter yang akan memberikan materi kuliah untuknya. Beberapa temannya pun sudah ada yg keluar ruangan.


Evelyn.. Ia benar-benar menghibur kegalauanku. Selama sejam, meski awalnya aku masih canggung tapi lama-lama ia bisa membuat aku nyaman dan melupakan luka yg saat ini mengiris hatiku.


Dengan tawa dan canda serta tingkah kekanak-kanakannya.. Ia berhasil membuatku tersenyum bahkan tertawa seakan lupa akan masalahku.


Semuanya mengalir begitu saja.. Aku berpikir, ia cocok dengan jas putih yg ia kenakan saat ini.. Jas dokter yang senantiasa mengobati pasien-pasiennya,.. Saat ini Evelyn melakukan perannya sebagai calon dokter.. Ia mengobati luka dalam hatiku..


Tidak.. Ia tidak sedang mengobatiku..


Tapi..


Evelyn..

__ADS_1


Menjadi obat untuk luka di hatiku..


Setidaknya untuk saat ini..


__ADS_2