Kamu & Senja

Kamu & Senja
Virus Cinta


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Hari ini aku akan ke kampus, seusai bersiap-siap aku pun keluar rumah dengan hati yg menggebu-gebu. Ku nyalakan motor dan ku mulai berkendara menuju kampus. Rasanya hari ini cuaca sedang bagus, sebagus hatiku yg sedang berbunga.


Biasanya jika jalan padat seperti ini aku akan mengeluh tapi pagi ini rasanya berbeda, padatnya jalan tidak membuat aku berhenti tersenyum, terus saja tersenyum sambil membayangkan angan-angan indah yg ingin ku capai.


Sampai di kampus aku langsung menuju sekretariat UKM Penalaran Ilmiah. Pagi ini aku tidak ada jadwal kuliah hanya ada jadwal rapat panitia persiapan lomba karya Ilmiah antar SMA yg di adakan oleh UKM kampusku. Aku yg merupakan anggota UKM di percaya menjadi salah satu panitianya.


Aku berada di devisi perlengkapan, bersamaku ada 4 orang lagi di devisi ini dan pagi ini kami akan rapat untuk membahas perlengkapan untuk event nanti. Mulai dari parkiran sampai sekretariat UKM aku tak henti-hentinya terus tersenyum, setelah sampai di sekretariat aku pun masuk untuk mengikuti rapat tersebut. “sorry telat.” ucapku.


“gak papa.. Duduk aja. Menyesuaikan yah.” Kata Roid salah satu temanku di UKM ini, yg kebetulan menjadi ketua panitia untuk event yg akan di laksanakan nanti. “hi Arman.” Katanya menyapa.


“hi Fy.” balasku tersenyum.


Inilah yg jadi sumber bahagia ku dari tadi, sedari tadi aku berfikir bahwa aku akan intens bertemu dengan Alfy karena kami satu kepanitian. Alfy menjabat sebagai bendahara panitia sekarang untuk event ini. Memikirkan bahwa kami akan sering bertemu selama persiapan event sampai selesai membuatku terus tersenyum dan sesekali tertawa sendiri. Mungkin jika ada yg memperhatikanku, aku akan di cap gila, tapi itulah cinta. Kita tak akan tau jika tidak jatuh cinta.


Hampir sejam kami rapat koordinasi, akhirnya karena sebagian teman-teman harus kuliah, rapatpun di tunda dan di lanjutkan sore hari karena masih ada pembahasan penting yg belum selesai. Salah satu yg saat ini sedang kuliah adalah Alfy, hal itu membuatku sedikit kecewa karena aku tak dapat ngobrol dengannya seperti fikiran-fikiranku sejak berangkat dari rumah menuju kampus.


Aku pun bingung harus berbuat apa, jika memutuskan untuk pulang mungkin aku tidak akan datang rapat sore nanti jadi akhirnya aku memutuskan untuk berada di kampus bersama teman-teman UKM yg lain. Sebagian ada yg berdiskusi, sebagiannya lagi ada yg bermain PS (Playstation). Sempat aku mengabari teman-temanku yg lain tapi sepertinya Arman dkk sedang tidak di kampus karena memang hari ini tidak ada jadwal kuliah. “kamu Arman kan?” kata seorang perempuan yg berjalan di sampingku.


“iya... Naya.” Balasku melirik perempuan itu.


“hei.. Masih ingat yah.” Kata Naya.


“mana mungkin aku lupa. Hehe.”


“iya apa lagi sama Fina kan?” ujarnya menggoda.


“Eh.. Hehe... Ngomong-ngomong kamu di sini ada keperluan apa?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.


“aku mau ketemu Roid, soalnya ada yg mau aku bahas sama dia.”


“Roid? Anak Kehutanan? ”


“iyaa.”


“berarti kamu dari seangkatan dong ya?” Kataku.


“iyaa.” Jawabnya.


“orang utan dong. Hehe.” Kataku bercanda.


“enak aja kamu.” Balas ya sambil tertawa ringan.


“sorry Nay, Lama.” Kata Roid menghampiri.

__ADS_1


“iya gak papa. Kalau gitu Arman kami pergi dulu.” Kata Naya sembari menjauh.


Menurutku mereka berdua cocok, mungkin satu lagi kisah cinta antar teman angkatan. Kisah-kisah cinta di kampus memang banyak bersemi di antara teman sesama jurusan atau setidaknya sesama Fakultas. Ada juga lintas jurusan tapi dipertemukan oleh UKM Kampus seperti aku yg menyukai Alfy walaupun sampai saat ini aku masih belum mengatakan perasaanku padanya.


Waktu berlalu dan dhuhurpun tiba, ku langkahkan kaki ke mushola yg berada tidak jauh dari sekretariat UKM Kampus. Sesuatu yg jarang aku lakukan, yaitu melaksanakan Shalat di awal waktu karena biasanya aku akan menunda-nunda dan akhirnya aku shalat di akhir waktu.


Beberapa hari belakangan aku mencoba untuk mengubah kebiasaanku, hal ini tak lepas dari nasehat Sabri ketika aku bertemu dengannya beberapa hari yg lalu. Masih jelas apa yg dia katakan waktu itu bahwa “Sebaiknya Shalat itu di awal waktu, karena jika di tunda akan timbul rasa malas hingga shalat pun terlalaikan.”


Dia juga menjelaskan bahwa banyaknya faedah dan pahala jika melaksanakan shalat di awal waktu apa lagi di kerjakan secara berjamaah. Diskusiku bersama dengan Sabri beberapa waktu lalu sedikit membuka hatiku tentang pentingnya pendidikan agama untuk kebaikan diri sendiri.


Kemudian setelah aku melaksanakan shalat aku pun bergegas ke kantin Fakultasku. Setidaknya kalau aku makan siang di sana mungkin aku akan bertemu teman angkatanku. Dan benar saja, ketika aku sampai, ku lihat Ica yg sedang menikmati makan siangnya sendiri. “hi Ca’.” Kataku menyapa.


“Arman.” Balasnya sedikit twekejut


“boleh gabung gak.”


“iya iya. Duduk aja.”


“kamu ada kuliah ya Ca’?” tanyaku.


“iya baru aja selesai tadi.” jawabnya


“sendiri aja di sini, teman yg lain pada kemana?”


“gak tau deh.. Tadi berdua di sini sama Irwan, tapi katanya dia ada urusan jadi pergi gitu.” Kata Ica menjelaskan situasinya.


“iya.. Emang kenapa Man?”


“gak papa.”


“Man kamu gak suka yah aku deket sama Irwan?” tanya Ica tiba-tiba.


“bukan gitu sih Ca’. Aku gak mau aja kamu terus-terusan sedih.”


“aku juga bingung Man. Hanya saja dekat dengan Irwan rasanya aku bahagia.” Jelas Ica.


“aku senang kamu bahagia Ca’, tapi di sisi lain aku juga khawatir. Aku tuh care sama kamu Ca’, kamu salah satu teman baik ku dan kalau ada yg mainin perasaan kamu, aku gak terima aja.” Jawabku.


“makasih Man.”


Perbincangan berlanjut ketika waktu itu aku melihat Ica tengah pelukan dengan Irwan di bawah senja. Aku melihat mereka berdua sangat dekat, ketika Ica melihat ku dia spontan melepaskan pelukan Irwan darinya. Saat itu Irwan juga melihat ke arahku kemudian Irwan memegang tangan Ica lalu berlalu meninggalkanku tanpa mengucapkan sepata kata pun.


Aku ingat jelas saat itu dia berjalan melewatiku dengan tertunduk dan akupun tak tau harus berkata apa. Ica mengatakan bahwa waktu itu dia tak tau harus berbuat apa dan berkata apa kepadaku, dia hanya bisa mengikuti perkataan Irwan yg menyuruh dia untuk pergi meninggalkanku. Ica juga memperjelas hubungan antara dia dengan Irwan bahwa saat itu mereka sudah resmi berpacaran.


Lebih lanjut Ica mengatakan setelah kejadian di cafe sebulan yg lalu, dimana saat itu Ica di siram dengan Ice Cokelat oleh perempuan yg mengaku sebagai pacar Irwan. Dari situ Ica bertekad bahwa tidak ingin lagi bertemu dengan Irwan tapi nyatanya Ica kalah dengan hatinya.

__ADS_1


Irwan pun masih mendekati Ica sejak kejadian itu dan akhirnya Irwan mengajaknya untuk berpacaran. Awalnya Ica ragu tapi sekali lagi karena rapuhnya perasaan maka Ica menerima hal itu. Hingga sampai saat ini mereka masih berpacaran.


Mendengar hal itu aku tak tau harus berkata apa lagi, memang benar virus bernama cinta itu berbahaya jika yg menyebarkannya bukan orang tepat. Sebagai seorang teman aku hanya bisa mendukung Ica apapun keputusan yg dia ambil. “Man kira-kira bagaimana yah reaksi teman-teman yg lain kalau aku jadian dengan Irwan?” kata Ica.


“aku gak tau Ca’, emang kamu belum kasih tau mereka?”


“saat ini yg tau baru Gina dan kamu Man.”


“kalau Wahid sih pasti gak terlalu ambil pusing, mungkin untuk Adi akan sedikit marah apalagi Ilham.” Kataku.


“aku gak bisa nyembunyin perasaan aku Man. Aku masih mau kumpul dengan kalian tapi kenapa sih Ilham benci banget sama Irwan.” Katanya sedikit menangis.


“Ca’.. Jangan kayak gitu yah.. Kita pasti ngedukung kamu kok.” Kataku menenangkannya.


Ica tak tau saja dengan perasaan Ilham padanya, nyatanya Ilham tidak membenci Irwan tapi Ilham cemburu dengan kedekatan mereka berdua apa lagi sekarang mereka telah jadian. Jika ada yg membuat Ilham benci mungkin bukan karena Irwan tapi karena sikap pengecut yg dimiliki oleh Ilham yg tak bisa jujur dengan Ica.


Ica masih saja tertunduk, terlihat sedih dengan keadaan yg di fikirkannya saat ini. Aku pun mencoba tetap menenangkannya, ku pegang tengannya supaya dia bisa menenangkan dirinya dari kegalauan-kegalauannya. “Arman...” ujarnya.


Aku menoleh ke samping kiri, karena ku dengar ada yg memanggil namaku.


“Alfy.. ALFYY....” Kataku terkejut sambil melepaskan tanganku dari tangan Ica.


“kebetulan yah.” ucap Alfy terdengar canggung.


“ka.. Kamu.. Ngapain di sini Fy?” kataku gagal.


“ini habis fotocopy bahan rapat sebentar sore.”


Selain makanan dan minuman di kantin ini juga ada penjual ATK dan tempat fotocopy.


“kebetulan. Hehe.. Kenalin ini Ica teman jurusanku. Ca’ ini Alfy eh maksudku Fina, dia Teman UKM.”


Alfy dan Ica pun bersalaman satu sama lain, sekali lagi aku memperkenalkan Alfy kepada Ica dengan nama Fina karena memang seperti itulah dia seharusnya di panggil oleh banyak orang. “kalau gitu aku ke UKM dulu yah.” Kata Alfy pamit.


“iya Fy.. Entar aku nyusul.” Balasku.


“assalamualaikum.” Katanya sembari menjauh.


“kamu suka yah sama dia?” tanya Ica spontan.


“iya.. Ehh maksudku.. Ee kenapa? Kenapa tiba-tiba nanya gitu.” Jawabku gugup.


“kamu lucu kalau lagi gugup Man.” Kata Ica sambil tertawa ringan.


Melihat Ica tertawa seperti itu aku jadi lega karena setidaknya dia sudah tidak terlihat murung seperti tadi.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2