
(Lanjutan Flashback)
Masih bersama dengan mereka bertempat, ada2 saja hal yg bisa kami jadikan pembahasan jika sedang bersama seperti ini. Ilham yg terus2san mencari perhatian dari Ica, Gina yg sedang asyik ngobrol dengan Adi sedangkan aku sibuk menyantap makananku.
"oh iya, Wahid gak nyusuk ke sini?" tanya Ica tiba2.
salah satu teman baikku, Wahid. Jika sedang tidak bersama dengan kami maka bisa di tebak bahwa dia saat ini pasti sibuk dengan urusan organisasinya. "kata dia sih lagi di secretariat jurusan." balas Adi.
Saat tengah asyik menyantap sambil mendemgar obrolan teman2ku yg lain, tiba-tiba ada yg memanggilku daei belakang.
"Arman.. Kamu Arman kan?" kata orang asing yg terlihat tidak asing bagiku.
"iya.. Maaf mas, siapa yah?" jawabku sambil bertanya balik.
Tanpa basa basi laki-laki yg sepertinya keturunan cina ini memelukku erat sampai aku tak bisa bernafas."ya ampun Arman... Ini aku Man. Ivan. Ivan kornelius.. Kamu ingat kan?" katanya sumbringah.
"hah.. Ivan.. Astaga.. Ivan.." Kataku sambil memeluk erat laki-laki bernama Ivan ini.
Ivan.. Iya.. Kalian pasti sudah tau. Dia adalah teman dekatku sejak kecil. Saking dekatnya kami sudah seperti saudara. Dulu dia adalah tetanggaku dan kami sering main bersama dari SD sampai SMP. Hingga akhirnya saat SMA dia harus ikut dengan orang tuanya yg pindah ke luar negeri karena urusan bisnis.
__ADS_1
"guys.. Kenalin dulu nih. Namanya Ivan dia temanku dari kecil." Kataku sambari memperkenalkan Ivan kepada yg lain.
Mereka pun salaman satu persatu.
Sambil teman ku yg lain berbincang satu sama yg lain, aku dan Ivan memulai percakapan kami sendiri. Tentu saja itu hal yg biasa mengingat kami sudah 4 tahun tidak bertemu sejak saat dia ke luar negeri.
"gak nyangka aku Van.. Kamu bisa ada di sini." Kataku
"iya Man. Sebenarnya aku tuh sudah setahun di sini. Hanya saja aku tinggal cukup jauh dari rumahmu jadi belum sempat berkunjung." Ujarnya menjelaskan.
"sudah setahun tapi belum sempat ke rumah. Wahh keterlaluan kamu Van." Kataku mencoba menggodanya.
Ternyata Ivan dari setahun yg lalu berada di Indonesia sejak jadi Mahasiswa baru di kampus ini. Sungguh keterlaluan dia tidak memberi kabar, mengingat waktu kecil kami sudah seperti saudara karena sering bermain bersama.
Cukup panjang perbincangan kami, Ivan lebih memilih kuliah di Indonesia ketimbang di Jepang, padahal kan kalau dari segi pendidikan dan teknologi Jepang lebih maju dari pada indonesia. Alasan kenapa Ivan lebih memilih kuliah di Indonesia cukup mengocok perutku, karena katanya rindu dengan makanan Indonesia. Ya.. Rempah yg kaya membuat kuliner di negeri ini beraneka ragam. Bahkan rendang, sate, nasi goreng pernah menjejeki peringkat teratas makanan terenak di dunia. Banggalah kita seharusnya dengan negeri ini.
Selain itu, Ivan juga sepertinya rindu dengan basa basi orang Indonesia, rindu dengan keramah-tamahan orang-orang di negeri ini. Bagaimana tidak, di Jepang jika kalian ingin berteman saja kalian harus mengajak orang lain untuk berteman. Semisal "maukah kamu berteman denganku" ya seperti itu.. Di sana semua orang terlihat kaku dan tidak peduli jika dia tidak mengenalmu.
Di Indonesia sendiri, pertanyaan-pertanyaan yg biasanya kita dapatkan seperti "sudah makan belum" atau "dari mana kamu" walaupun agak menjengkelkan bagi sebagian orang, tak bisa di pungkiri itu adalah perwujudan rasa peduli antara satu sama lain yg dapat menghangatkan hubungan sosial kita dengan yg lain sehingga timbul rasa gotong royong.
__ADS_1
Ya.. Semua hal yg tidak bisa di dapatkan Ivan di luar negeri, itulah yg membuatnya rindu dan ingin kembali ke negeri Indah ini. "ada2 saja kamu Van, tapi tetap saja kamu ini sudah setahun di Indonesia tapi tak pernah singgah di rumah sekedar menyapa." ujarku sedikit kesal padanya.
"aku minta maaf Man. Lagian aku juga gak tau kalau kamu juga kuliah di kampus ini." ucapnya mengerutu.
"ya sudahlah, tak udah di pikir. Oh iya Van.. Jadi kamu ambil jurusan apa di sini?"
"aku ambil bisnis Man.." Jawab Ivan.
"wih.. Like father like son." Kataku sok inggris. Aku tau betul keluarga Ivan, seperti yg ku katakan tadi bahwa aku sering bermain di rumahnya. Hal itu membuat aku mengetahui seluk beluk keluarganya. Termasuk Ayahnya yg pebisnis ulung.
"haha.. Bisa aja kamu. Eh bagaimana kabar mama mu?." tanya Ivan. Jika Ibuku tau Ivan berada di Indonesia, apalagi di kota ini dan tidak pernah mampir ke rumah pasti dia bakal kena marah.
"baik kok.. Jalan-jalan lah ke rumah biar kamu bisa sapa sendiri." jawabku.
"wah ide bagus. Kalau begitu besok aku ke rumah mu." ujarnya
Melihatnya hari ini membuatku teringat kembali tingkah konyol kami beruda ketika masih kecil. Mulai dari main bareng, mandi bareng bahkan kadang di hukum bareng oleh Ibunya atau Ibuku. Maklum kami berdua cukup nakal ketika itu.
Selain berbincang denganku, dengan celap Ivan juga mulai mengakrabkan diri dengan teman2ku yg kain. Terlebih lagi dengan Ilham yg anaknya memang mudah bergaul.
__ADS_1
Setelah tak bertemu cukup lama, aku dan Ivan terlibat pembicaraan yg sangat panjang hingga tak sadar waktu berlalu. Karena sudah sangat sore, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing tentunya.
-Bersambung -