Kamu & Senja

Kamu & Senja
Laporan


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Rasanya baru kemarin aku kembali dari Malaysia, sekarang sudah harus berangkat ke kampus karena ada jadwal kuliah pagi ini. Seperti biasa aku berangkat ke kampus dengan menggunakan motor, lama perjalanan jika lalu lintas normal memakan waktu 30 menit.


Sampai di kampus aku lalu bergegas menuju kelas. Ketika sampai ke kelas aku di sambut oleh teman-teman yg lain. Di sambutnya dengan cara nagih oleh-oleh dari Malaysia. Ya.. Cukup menyebalkan tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya aku memberikan mereka semua oleh-oleh berupa gantungan kunci dari Malaysia.


Aku sekarang terdaftar di kelas B tentu bersama dengan teman baik ku, kecuali Ica. Aku baru tau kalau dia sudah jarang ngumpul dengan yg lain. Balas pesan pun dia jarang. Sebanarnya waktu pengurusan KRS yg lalu aku minta tolong kepada Ica tapi entah kenapa dia terlambat merespon pesanku, akhirnya aku minta tolong kepada Gina yg mendaftarkan ku ke kelas B.


Karena Dosen belum datang sementara jam mengajar sudah mulai, sudah bisa di bayangkan sekarang bagaimana kondisi kelas. Memang sudah biasa jika Dosen tidak masuk di pertemuan pertama jadwal kuliah, tapi sebagai mahasiswa yg masih ingin belajar tentu itu merugikan walaupun kenyataannya mayoritas mahasiswa sekarang lebih menyukai hal itu. "ehh.. Kok dari tadi aku gak ngeliat Ica ya?" aku bertanya kepada teman-teman.


"Ya kan emang kita gak sekelas." Balas Gina mengingatkan.


"iya sih tapi maksudku dari tadi aku gak lihat dia di kampus." Kataku.


"jalan sama Irwan kali." Ujar Ilham.


"hari ini kan dia juga ada jadwal kuliah, soalnya tadi aku ketemu sama Sabri yg sekelas dengan Ica. Katanya juga ada jadwal kuliah hari ini." Kataku menerangkan.


"aku juga bingung sama Ica. Kemarin aku nelfon dia, mau mastiin hubungannya sama Irwan tapi dia kayak gak mau jujur gitu. Gak kayak dia biasanya." Kata Gina.


Entah apa yg terjadi dengan Ica, setauku dia tidak pernah bolos jika ada jadwal kuliah, baginya kuliah nomor satu dan dia juga punya target untuk selesai dengan nilai sempurna.


"gak usah heran Man. Dia emang udah jarang bareng kita bahkan di antara anak-anak yg lain, cuma Ica yg belum tau kondisi lu yg udah kena musibah waktu di Malaysia." Kata Ilham jengkel.


"kayaknya kita harus bicara deh sama dia." Kata Wahid memberi saran.


Tiba-tiba dosen muncul, yg ngajar mata kuliah menejemen sumber daya manusia di semester ini adalah Prof Kifli. Sontak satu kelas sorak soray dan antusias. Pasalnya Prof Kilfi adalah dosen terbaik, berkebalikan dengan sifat Ibu Gusti.


Prof Kifli adalah dosen sekaligus Guru Besar di Jurusan Administrasi Negara, Beliau sangat disenangi mahasiswanya karena cara mengajar yg asyik dan lucu. Cukup sering aku tertawa jika dia yg memberikan materi, ilmu yg masuk juga maksimal karena suasana belajar tidak cenderung membosankan.

__ADS_1


Setelah jam kuliah selesai, kami harus menunggu cukup lama untuk jadwal kedua hari ini, karena jadwal kedua untuk mata kuliah sistem ekonomi Indonesia baru di mulai pukul 15.30. Di antara semua jadwal kuliah, jadwal kuliah sorelah yg sangat membosankan tentu karena waktu sore adalah waktu terbaik untuk beristirahat, bukan waktu yg baik untuk memaksa otak berfikir.


"ke kantin yuk." Kata Ilham mengajakku dan yg lain.


"maaf aku nyusul ya. Aku harus ke gedung rektorat ketemu Pak Imran, biasa ngumpul laporan studi banding." Kataku sembari meninggalkan mereka.


"oh ya udah Man. Kita tunggu yah. Awas gak dateng." Kata Gina.


Sesampainya di gedung rektorat, tepat di pintu masuk gedung aku melihat Alfy. Sepertinya dia ke sini juga ingin bertemu dengan Pak Imran, aku lalu mempercepat lengkah kaki agar bisa menyusul dia yg berada di depanku, tapi sebelum aku sampai ternyata di depan Pintu itu aku juga melihat Riyal.


Jika dilihat dari situasinya, sepertinya Riyal sudah menunggu Alfy di tempat itu. Riyal sempat melihatku tapi dia lalu berbalik sambil memberikan isyarat kepada Alfy untuk segera pergi dari tempat itu.


Melihat hal itu tentu, Apa lagi yg bisa ku simpulkan selain hal yg ku takuti. Rasanya aku tidak ingin pergi ke ruangan Pak Imran jika harus melihat kedekatan mereka berdua.


"hei..." Kata Ana yg tiba-tiba mengagetkanku sambil mendorong punggungku.


"adduh.. Ana.. Kirain siapa." Balasku.


"mau ke ruangannya Pak Imran."


"ya udah bareng, aku juga mau ke situ." Kata Ana menarik tanganku.


Aku yg tadinya mengurungkan niat akhirnya harus ikut dengan Ana karena dja menarikku dan aku tau tau harus menolak seperti apa. sampai di ruangan Pak Imran, Ana mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu. "assalamualaikum." Kata Ana memberi salam.


"waalaikumsalam, masuk sini nak." Balas Pak Imran.


"eh ada Riyal sama Alfy." Kata Ana menyapa mereka berdua.


"hi Ana.. Hi Arman.." UcapAlfy menyapa.

__ADS_1


Aku hanya membalas dengan tersenyum kepada mereka berdua, sementara Riyal dengan sikap dingin dia menganggukkan kepalanya kepadaku.


Aku lihat Pak Imran memeriksa dengan seksama laporan yg kami buat, sementara itu Riyal dan Alfy yg telah selesai terlihat berbicara santai di ruang tamu ruangan Pak Imran. Jarak antara ruang tamu dan meja kerja Pak Imran tidak terlalu jauh, maka dari itu aku bisa mendengar percakapan mereka meski tidak terlalu jelas.


Sepertinya Riyal ingin mengajak Alfy makan siang bersama, Alfy pun membalas dengan mengatakan iya dan menyarankan mengajak Ana dan aku juga. "Ana.. Arman.. Siang ini makan bareng yuk?" kata Alfy mencoba mengajak ku.


"tentu saja. Bagaimana Man?" kata Ana bertanya kepadaku.


"maaf..sepertinya aku gak bisa siang ini. Ada janji sama temanku." Jawabku menjelaskan situasi.


"yahhh.." ucap Alfy terlihat kecewa.


"ya udah lah Fin, mungkin Arman ada urusan penting." Kata Riyal menegaskan.


"sok sibuk nih Arman." Sambung Ana kecewa.


"he he Maaf yah.." Kataku.


"nda mau ngajak Bapak sekalian." Ujar Pak Imran tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan.


Sontak kami berempat langsung melihat ke arahnya.


*krik krik..


"Bapak bercanda toh.. Nda usah serius." Kata Beliau sambil tertawa ringan.


Kami berempatpun ikut atau lebih tepatnya terpaksa ikut tertawa untuk menghormati Beliau.


Setelah urusan selesai aku pun keluar dari ruangan Pak Imran, tentu hanya aku sendiri karena Alfy, Riyal dan Ana sudah keluar terlebih dahulu dan sepertinya saat ini mereka tengah berada di Kantin Utama Kampus.

__ADS_1


Melihat kedekatan Riyal dan Alfy, aku mau tidak mau harus menyadari bahwa sepertinya mereka sudah resmi berpacaran.


-Bersambung-


__ADS_2