
(Bagian Flashback)
Malam ini terasa sepi, tak seperti 3 tahun yg lalu ketika Ayahku masih hidup, biasanya Ayah selalu pulang jam segini dan kami bertiga selalu menyambut dia dengan kejutan sederhana, sekedar makan malam bersama dengan masakan spesial dari Ibu. Kami selalu memberikan kejutan seperti itu di hari ulang tahunnya seperti hari ini.
Meski sudah 3 tahun tapi jika momen Ulang tahunnya aku masih saja merasa hampa, aku merasa masih saja belum mengikhlaskan kepergiannya. Jika sudah seperti ini, biasanya rasa benciku semakin memuncak, rasa benci terhadap orang yg membunuh Ayahku, rasa benciku terhadap ******* pembunuh yg melempar bom waktu itu.
Aku terus saja memandangi foto Ayahku, jika saja dia masih hidup mungkin aku akan memeluknya. Terakhir aku memeluknya ketika aku masih duduk di bangku SMP. Saat SMA aku mulai gengsi jika harus memperlihatkan rasa sayangku padanya dan sekarang aku menyesal.
Ayahku terlihat tampan dengan seragam Polisinya, aku jadi ingat perkataan adikku yg ingin mengikuti jejak Ayahku menjadi seorang Polisi.
Aku keluar menuju teras rumah, ku lihat Ibuku sedang duduk melamun. Entah apa yg ada di pikirannya sekarang, kalau ku tebak bisa saja dia memikirkan Ayahku sekarang."Ma.. Masuk, entar masuk angin." Ujarku.
"sebentar Nak, Mama masih mau duduk di sini."
Aku menghampiri Ibuku, aku duduk di sampingnya dan spontan memeluknya. Di merespon dengan pelukan hangatnya."Kamu tau, Bapak kamu waktu muda mirip banget sama kamu Nak."
"lebih tampan Bapak Ma." balasku.
"dua-duanya tampan, siapa dulu dong Mamanya."
"Mama bisa aja."
"tapi bener sayang, kamu sama Bapak punya sifat yg mirip. Kayak sekarang kalau lagi manja seperti ini." Ujar Ibuku.
"Mama sayang banget sama Bapak yah?"
"iya sayang, tentu saja."
Tak sadar air mata Ibu menetes dan mengenai Wajahku yg memeluknya sedari tadi. "beruntung banget Bapak kalau gitu." kataku.
Ibuku tersenyum dan menghapus air matanya."Mama berharap kamu juga bakal nemuin perempuan yg sayang sama kamu, mau mendampingi kamu saat susah maupun sulit."
"aamiin Ma."
"eh tapi ngomong-ngomong Mama suka sama teman kamu yg tadi."
"yg mana Ma?"
__ADS_1
"yg itu, kita ketemu di taman makam tadi sore."
"Alfy maksudnya?"
"iya, Alfy. Mama suka sama dia. Emang kamu gak suka?"
"AKU SUKA BANGET MA." Batinku.
Aku diam mendengar Ibuku mengatakan itu, bahkan di depan Ibuku sendiri aku tak bisa mengakui bahwa aku benar menyukai Alfy. Perkataan Ibuku bisa jadi dorongan semangat untukku karena berarti aku tidak perlu lagi meminta restu Ibu jika suatu saat nanti aku akan menikahi Alfy. Menikah? Apakah aku pantas menikah dengannya? Itulah yg jadi masalah, Aku merasa tidak pantas. "anak itu sopan banget sama Mama tadi, kelihatannya dia juga baik, sholeha, pokoknya kalau sama dia Mama setuju banget."
"duh Ma, Alfy tuh cuma temen kampus, gak lebih." kataku menekankan.
"ya Mamakan cuma berharap aja Nak. Siapa tau aja anak Mama yg ganteng ini bisa berjodoh sama Alfy si cantik itu." Kata Ibu menegaskan harapannya.
Rasanya aku juga ingin berharap seperti itu, tapi lagi-lagi perasanku kacau. Perkataan Idan waktu itu masih saja mengganggu keyakinanku untuk berjuang mendapatkan Alfy. "ya udah Ma, masuk ke dalam. Udah jam 9." kataku.
"Iya Nak."
Aku dan Ibuki sepertinya larut dalam rindu ingin bertemu Ayah. 3 tahun belum cukup lama untuk membuat kami berdua lupa akan sosok gagahnya yg selalu bisa di andalakan.
Setelah mengenang sedikit tentang Ayah, aku masih memeluk Ibuku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah, tiba-tiba aku mendengar suara smartphoneku berdering, akupun masuk ke dalam kamar karena mendengar hal tersebut. Saat ku lihat ternyata terlfon dari nomor Irwan. "Irwan, ngapain dia nelfon malam-malam gini." kataku sambil mengambil smartphone dari kasur.
"Arman.. Tolong, tolong aku. Aku lagi di rumah sakit."
Aku cukup terkejut mendengar suara perempuan. "halo, ini siapa?"
"ini Ica. Tolongin aku, aku gak tau mesti berbuat apa. Arman tolong." ucapnya panik.
Aku mendengar suara Ica, suaranya gemetar dan seperti ketakutan. Aku juga mendengar dia merintih seperti sedang menangis."Ica.. Kenapa Ca' tenang dulu." kataku.
"Arman tolong kamu ke sini sekarang, aku gak tau.. Aku.."
"iya tenang iyaa, aku ke rumah sakit sekarang yah." kataku mencoba menenangkan dia.
Akupun mengambil jaket dan langsung keluar rumah. "mau kemana kamu nak?" tanya Ibu.
"Aku ke rumah sakit dulu Ma. Teman aku masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Innalillah, Iya nak. Hati-hati."
*di sisi lain, di tempat Ica sekarang berada.
Ica tak berhenti panik melihat Irwan yg saat ini telah di tangani oleh dokter dan perawat, terlihat darah yg berada di wajahnya mulai di bersihkan dengan alkohol. Irwan belum sadarkan diri, dia mendapatkan tiga jahitan di dahi sebelah kirinya karena robek akibat pukukan, serta luka lebam di beberapa titik di wajah dan badannya.
Setelah di tangani dengan serius kini kondisinya sudah stabil namun Irwan masih terbaring sementara Infus telah di pasang di tangan kanannya.
Ica mendekat, duduk di samping ranjang menemani dan memegang tangan Irwan, dia terus saja memegang tangan Irwan karena khawatir melihat kondisinya. Ica melihat wajah Irwab, dia memegang pipi kanannya. Air matanya tumpah lagi melihat kondisi Irwan saat ini.
Kemudian, Aku tiba di ruang UGD tapi aku tak melihat Ica. Akupun bertanya kepada perawat yg bertugas di UGD tersebut, katanya pasien atas nama Irwan baru saja di pindahkan di kamar perawatan.
Akupun mempercepat langkahku menuju ruang perawatan yg di katakan oleh perawat itu. Sampai di depan kamar, aku langsung membuka pintu yg tidak terkunci.
Ketika masuk aku melihat Irwan terbaring tak sadarkan diri, sementara Ica yg duduk di samping Irwan yg berbaring melihatku dengan tatapan lirih karena air matanya.
Dia mendekat kepadaku dan langsung memelukku, melihat dia dengan kondisi seperti ini akupun balik memeluknya agar dia bisa menenangkan dirinya. "tenang Ca', aku udah ada di sini." kataku menghiburnya.
Dia masih saja terlihat syok, dari suaranya saja dia sudah terdengar gagu seperti orang yg baru saja melihat setan. Bagaimana tidak baru saja dia melihat Irwan dengan wajah yg penuh darah.
Akupun menyuruh dia duduk dan tenang, ku berikan sebotol air putih yg ku beli ketika menuju ke sini.
Ica mulai menceritakan semua yg terjadi, dia mengatakan tentang gudang tua dan jalan yg sepi. Tentang dua orang berwajah sangar yg menyeret Irwan keluar dari gudang dengan wajah babak belur. Juga tentang smartphone Ica yg di rusak oleh mereka. "kita harus lapor polisi Ca'." tentu itu lah yg ku pikirkan pertama kali ketika mendengar penjelasan Ica.
"jangan, aku takut. Aku di ancam sama mereka katanya Irwan akan di bunuh." ucapnya lirih.
"Ca' tenang, polisi pasti bisa membantu Irwan. Percaya sama aku."
"baiklah, tapi tunggu Irwan siuman dulu baru kita ke kantor polisi."
"baiklah Ca', tapi kamu sendiri gak papa kan? Gak ada yg sakit?" tanyaku khawatir.
"gak ada, aku baik-baik saja."
Dari raut wajahnya Ica masih belum tenang, akupun menyuruh dia untuk baring di sofa yg berada di ruangan ini. Sementara aku akan menggantikan dia untuk menemani Irwan yg masih belum sadar.
Ica berbaring, baru sebentar dia berbaring Ica sudah terlelap. Sepertinya peristiwa yg dia alami malam ini membuatnya lelah. Akupun membuka jaket dan aku memakaikannya kepada Ica sebagai selimut agar dia tidak kedinginan.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan jam 11 dan aku masih belum tidur, aku baru saja mengabari teman-temanku yg lain, besok pagi mereka akan datang ke sini ketika jam besuk sudah di buka. Mereka semua berencana datang kecuali Ilham, bukan karena tidak bersimpati tapi dia sudah membulatkan tekadnya untuk melupakan Ica. Untuk itu dia tidak ingin melihat Ica untuk sementara waktu. Setelah beberapa saat karena lelah, akupun memejamkan mata dan tertidur.
-Bersambung-