
(Bagian Flashback)
Malam semua orang keluar, gemerlap lampu jalan dan kendaraan menerangi, sinarnya menyilaukan mata, meski padat masih juga bertambah, makin malam malah makin ramai. Hari ini di mana sebagian orang akan menghabiskan malamnya, tak terkecuali Ivan.
Malam minggu hari ini sepertinya tidak ingin di lewatkan oleh Ivan untuk memanfaatkan waktu bersama perempuan yg sangat di cintainya, siapa lagi kalau bukan Dian.
Sambil melihat dirinya di cermin, Ivan mulai membersihkan tubuh yg terlihat masih basah karena air. Dia mulai memakai baju dalam di susul kemeja putih, disertai jam hitam dan celana panjang berwarna hitam pula, rambutnya yg acak-acakan pun di aturnya sambil menggunakan pomade hingga terlihat rapi dan licin, di sisir ke arah kanan hingga terlihat sedikit jambul yg menonjol.
Setelah di rasa sempurna dia pun berangkat untuk menjemput kekasihnya di rumah. "maaf aku kelamaan yah?" kata Ivan kepada Dian yg baru saja masuk ke dalam mobil.
"ngak beb.. Aku juga baru selesai dandan." Balas Dian menggoda Ivan dengan parasnya.
"kamu gak dandan juga udah cantik beb." Kata Ivan memuji.
"bisa aja kamu.. Btw kita mau kemana malam ini?"
"aku mau ngajak kamu makan di restoran favorit keluarga ku. Semoga aja kamu suka makanan di sana."
Mereka pun berangkat ke restoran tersebut, cukup lama mereka di jalan karena malam ini jalan di penuhi oleh mereka penikmat cahaya malam. "duhh macet beb.." Kata Dian.
"iya.. Tapi kalau berdua sama kamu kayak gini sih tidak papa." Balas Ivan menggombal.
"unchh.. Co cweett banget." Balas Dian sambil mencubit pipi Ivan.
Ivan tersenyum bahagia, dia benar-benar menyayangi kekasihnya itu. Bukan tanpa alasan, sebagai salah satu selebgram Dian memiliki semua hal yg di inginkan kaum hawa. Mulai dari bentuk tubuh, warna kulit dan wajah cantik bak bidadari.
Sebagian besar perempuan di negeri ini pasti ingin menjadi seperti Dian, alasan utama adalah doktrin produk-produk kosmetik yg seanaknya saja memberikan standar cantik sesuai dengan manfaat produk mereka agar mendulang untung sebanyak-banyaknya.
Perempuan bahkan laki-laki kebanyakan pun terhipnotis oleh doktrin tersebut sehingga standarisasi kecantikan di negeri ini menjadi satu, yaitu harus putih, langsing, mulus, mancung dan lain sebagainya. Semata-mata hanya untuk membuat produk pemutih kulit dan produk-produk yg mereka buat itu laris di pasaran.
Miris tapi seperti inilah potret orang-orang yg terobsesi oleh kecantikan. Sehingga yg berkulit gelap pun mati-matian untuk putih, yg gemuk mati-matian untuk kurus. Dan yg gagal akan minder dengan penampilan dan menutup diri dengan bedak tebal, tak jarang operasi plastik pun jadi solusi.
Tentu tidak semua perempuan seperti itu, hanya sebagiannya saja dan jika ada yg pantas untuk di salahkan karena fenomena ini, maka yg salah adalah mereka yg menyebar doktrin standar kecantikan melalui iklan produk kecantikan yg mereka miliki.
__ADS_1
Selain karena fisik, Ivan juga menyukai sifat manja yg dimiliki oleh Dian. Bagi Ivan hal itu terlihat manis mengingat Ivan selama ini belum pernah jatuh cinta pada siapapun selain Dian.
Perkenalan mereka juga terjadi secara tidak sengaja di kampus. Meski berbeda jurusan, mereka di pertemukan oleh satu mata kuliah umum dan dari situ pertemuan semakin sering terjadi hingga Ivan menyadari bahwa dia menyukai Dian.
Ivan dari jurusan Bisnis dan Dian dari Jurusan Ilmu Ekonomi. Di mulai dari sering makan bersama di kantin hingga Ivan yg tiap hari mengantar Dian pulang ke rumahnya. Akhirnya meskipun saat itu mereka masih berstatus MABA, memutuskan untuk menjalin hubungan sampai sekarang.
Terhitung sudah setahun lebih merek bersama dan Ivan sangat menghargai waktu yg di laluinya bersama Dian.
Cukup lama mereka berdua di jalan karena macet akhirnya merekapun sampai di restoran favorit keluarga Ivan.
Terlihat Restoran bergaya Prancis itu menawarkan nuansa makan ala bangsawan. Mulai dari pelayan yg menyambut mereka berdua di depan pintu sampai mengantar mereka di meja yg sudah di pesan oleh Ivan sebelumnya.
Mereka lalu mulai memesan makanan, di mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup. Makan sambil bercengkrama, tertawa bersama. Sungguh malam ini adalah malam yg sempurna untuk Ivan.
Di iringi oleh lantunan biola yg dimainkan oleh pemusik di restoran itu, mereka berdua tampak mesra sebagai kekasih. Saking asyiknya mereka berbincang, sampai Ivan merasa bahwa yg ada di restoran itu cuma mereka berdua.
Suasana yg tampak sempurna itu tiba-tiba harus terusik oleh kedatangan seorang laki-laki yg berjalan menuju meja mereka. "hi Dian.." Kata laki-laki itu mencoba menyapa Dian.
Ivan menoleh dan melihat laki-laki itu, tapi sepertinya Ivan tak mengenal laki-laki yg baru saja memanggil kekasihnya itu. "Irwan. Ngapain di sini?" kata Dian terkejut melihat Irwan yg juga berada di restoran itu.
Ivan berdiri dengan gagah mencoba menjaga wibawa di depan kekasih yg di cintainya." kenalin gue Ivan.. Pacarnya Dian." Kata Ivan sambil memberikan tangannya dengan niat salaman.
"ohh gue.. Irwan." Balasnya.
"oh iya beb.. Ini Irwan.. Hehe dia teman di UKM Fotografi." Kata Dian tampak panik.
"ohh teman UKM yah. Salam kenal." Balas Ivan.
"gue tinggal dulu.. Selamat menikmati makan malamnya." Kata Irwan yg beranjak menjauh meninggalkan meja Ivan dan Dian.
Sampai di mejanya sendiri Irwan lalu melanjutkan makan dan di meja itu terlihat dia bersama dengan wanita yg terlihat lebih tua darinya, wanita itu menggunakan dress hitam dan aksesori pita berwarna merah di rambutnya. "sayang itu siapa?" kata wanita yg duduk bersamanya.
"temen kampus." Balas Irwan.
__ADS_1
"ohh.."
"jadi gimana tadi soal kerjaan kamu di kantor?" kata Irwan bertanya kepada wanita itu.
Sementara itu, Ivan dan Dian terlihat keluar dari restoran Prancis tersebut, mereka lalu masuk ke dalam mobil. "makasih ya beb. Baru pertama kali ini aku makan di restoran Prancis." Kata Dian mengungkapkan perasaan senangnya.
"apa sih yg gak buat kamu beb. Gimana makanannya enak gak?" balas Ivan.
"enak beb.. Enak banget.. Apa lagi Chocolate Moussenya itu.. Enak banget.. Lembut di mulut, manisnya pas beb." Kata Dian..
"syukur deh beb kamu suka, lain kali kita ke sini lagi kalau gitu." Balas Ivan.
"yang bener.. Makasih beb." Kata Dian memeluk tangan Ivan.
Sungguh malam sempurna dengan suasana hati yg sedang berbunga-bunga Ivan laku menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari parkiran restoran. Sambil mengemudi mereka berdua berbincang. "oh iya, tadi teman kamu itu, namanya siapa aku lupa?" tanya Ivan.
"yg mana..? Irwan?" balas Dian.
"iya itu.. Dia jurusan apa sih di kampus?"
"dia Jurusan Administrasi Negara beb."
"ohh berarti sejurusan sama teman aku dong."
"siapa beb?"
"Arman."
"Arman? Yg mana beb? Kok kamu gak pernah cerita kalau punya temen namanya Arman." Kata Dian mulai panik.
"ya ampun beb. Itu loh teman kecil ku, kita kan pernah duduk bareng mereka di kantin." jelas Ivan
"ohh iya iya.. Aku inget beb. Jadi dia itu sejurusan sama Irwan ya. Jadi mereka kenal dong ya." Kata Dian tampak khawatir.
__ADS_1
Mendengar itu tentu Dian mulai Khawatir dan terlihat gelisah karena jangan sampai Arman mengetahui kedekatannya dengan Irwan selama ini. Jika iya maka tentu Arman akan mengadu kepada Ivan dan berakhirlah kisah cinta sandiwara sempurna yg di perankan olehnya.
-Bersambung-