Kamu & Senja

Kamu & Senja
Menyerah


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Menyerah, karena tak semua harapan bisa terwujud. Setelah itu lanjutkan hidup, alihkan harapan kepada sesuatu yg pasti. Sesuatu yg sudah nyata di depan dan raihlah karena itu lebih baik ketimbang berharap pada hal yg tak pasti.


Aku sudah membulatkan tekad, tak ada lagi kata ragu. Selama ini aku sadar telah terjebak dengan fatamorgana, hingga aku bertemu dengannya. Dia hadir menghapus keraguan-keraguanku, menghangatkan hari serta meramaikan notifikasi smartphoneku.


Pesan bahkan telfon darinya yg hadir setiap hari meski hanya membicarakan hal sepele yg terkesan tidak penting, entah kenapa aku jadi nyaman. Suara tawa hingga tangis ketika dia sedang membicarakan masalah-masalah buruknya padaku menjadi cukup familiar.


Walau kedekatan ini belum berlangsung lama, tak mendengar suaranya meski sehari terasa berbeda. Mungkin sedikit berlebihan, karena sepertinya aku mulai menyukainya.


Terakhir aku merasakan ini, pada saat duduk di bangku sekolah. Rasa ketika dekat dengan seorang perempuan. Dekat benar-benar dekat, bukan lagi harapan yg tak berujung, bukan lagi angan yg tak tergapai. Perasaan yg nyata, benar-benar nyata sampai aku tak bisa mengalihkan pandangan darinya.


Setiap dia tersenyum dengan lekukan cacat wajah yg di sebut lesung pipi, terasa nyaman. Terasa ingin memiliki dan mengukir senyum itu terus di wajahnya."Kak, Kak Arman. Kenapa ngeliatin terus?" ujarnya.


"e ngak papa." balasku tertawa palsu.


"jangan-jangan Kak Arman suka yah sama aku?" dengan polosnya dia bertanya.


Aku yg sedang mengunyah makanan terkejut sampai tersedak oleh makanan yg sedang ku nikmati.


"aduh kak. Gak papa? Minum dulu." sigapnya memberikan segelas air.


Sambil berusaha menelan makanan, aku meneguk air yg di berikan. "makasih."


"makanya Kak, makan itu pelan-pelan. Kunyah dulu sampai halus baru telan." ujarnya sedikit meledek.


"lagian kamu tiba-tiba nanya kayak gitu."


"habisnya Kakak ngeliatin mulu, aku kan jadi ge'er." katanya sambil cengengesan.


Aku kembali menikmati makanan yg katanya dia buatkan khusus untukku. Beberapa waktu yg lalu ketika aku jalan bersamanya dan singgah di sebuah tempat makan sederhana di pinggir jalan yg menjual nasi goreng, dia yg melihatku makan dengan lahap bertanya. Apakah kakak menyukai nasi goreng? Tanyanya. Akupun menjawab bahwa aku sangat menyukainya.


Dan dia pun mengatakan bahwa akan membuatkanku nasi goreng buatannya. Dan inilah yg terjadi sekarang, bertempat di pelataran Fakultas Kedokteran. Aku duduk sambil menikmati nasi goreng buatannya.


Meski makan siang dengan nasi goreng sedikit tidak pas karena biasanya nasi goreng paling enak di sajikan ketika malam hari. Tapi tetap saja, nasi goreng buatannya kini menjadi nasi goreng favoritku.


Dengan lahap aku menikmati sambil duduk bersamanya. Ah.. Tidak ada yg lebih nikmat dari suasana saat ini. "cepet banget makannya kak?"

__ADS_1


"habisnya enak sih." balasku sambil tertawa ringan.


Terlihat dia senang ketika aku mengatakan itu. Dengan santun dia kembali memberiku segelas air.


"ngomong-ngomong kamu jago masak juga yah!" pujiku.


"iya dong, dari kecil emang udah belajar masak."


"wah.. Senang banget pasti pacar kamu yah. Bisa di masakin terus sama kamu."


"ya elah kak, aku gak punya pacar." ujarnya terlihat kesal.


"oh iya lupa. Hehe. Emangnya kamu gak kuliah?"


"udah tadi pagi."


Percakapan sederhana ini terasa bermakna jika bersamanya. Terus saja sampai seseorang memanggil namaku. "Arman.."


Aku menoleh. "Riyal." balasku.


"ngapain di sini?" tanya Riyal.


"inilkan Fakultas ku." jelasnya.


"oh iya lupa." kataku tepuk jidat.


"hei Kak."


"Evelyn? Kamu kenal sama Arman?" tanya Riyal yg melihat Evelyn duduk bersamaku.


"iya kak." sahut Evelyn membenarkan.


"Sorry bro, aku lupa ini Fakultasmu. Ngomong-ngomong udah lama juga kita gak ketemu." kataku menghampiri Riyal dan menjabat tangannya.


Riyal pun bergabung bersama kami, aku lalu menjelaskan perkenalanku dengan Evelyn kepada Riyal begitu pun sebaliknya, aku juga menceritakan kisahku di Malaysia bersama Riyal ketika menjadi bagian dari mahasiswa studi banding.


"yg bener kak? Jadi kak Arman kena tikam pisau?"

__ADS_1


"iya bener, dia hampir aja mati tuh. Dasar nyusahin orang aja kerjanya." balas Riyal.


"iya yah.. Kalau mengingat itu lagi rasanya tak percaya sekarang aku masih hidup."


"wah hebat dong, Kak Arman nolongin kak Fina."


"ah ngak ngak. Yg nolongin Riyal tuh."  aku mengelak, karena memang pada akhirnya aku tak bisa apa-apa.


"tapi tetap aja kan yg mulai duluan Kak Arman walaupun pada akhirnya K.O." kata Evelyn sambil tertawa.


Karena perbincangan itu, lagi-lagi aku mengingat kebodohanku. Menjadi pahlawan kesiangan untuk Alfy, niat menolong tapi tersimpan niat buruk yakni agar dia bisa kagum padaku karena menolongnya. Hingga bukan rasa kagum yg ku dapati darinya melainkan hanya sebatas simpati karena aku terluka.


Mengingat kebodohanku itu, rasanya ingin mengulang waktu saja. Ahhh.. Laki-laki bodoh yg hampir mati karena ingin pamer kepada perempuan yg di sukainya. Bisa aku katakan itu adalah salah satu kesalahan dalam hidupku.


"Fina apa kabar?" tanya Riyal tiba-tiba.


"Fina? Oh.. Terakhir ketemu baik-baik aja sih."


"terakhir ketemu? Emang kamu udah jarang ketemu?"


"hm terakhir. Kapan ya? Lupa mungkin udah hampir sebulan sih gak ketemu." Ujarku.


"kamu udah jujur sama dia?" tanya Riyal sekali lagi.


"jujur? Jujur tentang apa?"


"ya ampun... ***** banget, ya udah aku pergi dulu."


Riyal berdiri dan langsung pergi meninggalkan aku dan Evelyn. "eh Yal.. Apa maksudnya?"


Riyal tidak menggubris, dia terus saja menjauh. "Kenapa sih tuh anak ngatain *****." gumamku.


"emang Kak Arman *****." sambung Evelyn tertawa.


"hm udah berani ngatain yah."


"iya iya pis damai kak."

__ADS_1


Seperti kataku sebelumnya, rasa nyaman bersama Evelyn menumbuhkan rasa suka dan aku tak mau lagi memendam, harus aku katakan padanya. Aku harus mengakui perasaanku pada perempuan yg saat ini ada di depanku.


-Bersambung-


__ADS_2