Kamu & Senja

Kamu & Senja
Penyergapan


__ADS_3

Ilham meninggalkan Gina tanpa menoleh karena firasat buruk yg dia rasakan saat ini. Sementara itu Gina hanya tersenyum sambil mengeluarkan air mata kesedihan, dia meresa bahwa malam ini adalah akhir dari janji kecil mereka.


Mungkin bagi sebagian orang, janji mereka berdua kala masih kanak-kanak hanya gurauan semata, tapi nyatanya mereka berdua memegang teguh janji itu, tapi sayang.. Semua janji itu harus berakhir.


Gina melihat kedua gelang manik-manik sebagai tanda janji mereka di atas meja. Sementara Ilham sudah berlalu dengan mobilnya. Gina mengambil gelang itu, dia memejamkan mata dan mengingat kembali janji mereka. Sebuah janji yg mengikat hatinya sejak lama.


Saat Gina membuka matanya. "sudah berakhir." ucapnya sambil memutus kedua gelang itu.


Manik-manik yg tercerai berai berjatuhan ke lantai, begitupun air mata Gina. Ini adalah akhir dark janji kecil mereka, meski tak berakhir baik tapi ini adalah yg terbaik menurut Gina.


Sementara itu Ilham yg merasa aneh tambah panik saat membaca pesan WA dari Ica bertuliskan "Tolong." Ilham membalas pesan itu tapi tidak terbaca. Ilham menelfon tapi tidak di angkat. Dia semakin khawatir terlebih lagi pesan WA Ica sebelumnya yg meminta untuk di antar pulang tak di baca olehnya. Telfon Ica sedari tadi juga tak di terima olehnya.


Ilham menghubungi Arman untuk memastikan kondisi Ica tapi Arman tidak bisa di hubungi karena tidak aktif. Ilham sempat ingin menghubungi Adi tapi dia urungkan karena insiden dua hari yg lalu. Terakhir dia menghubungi Wahid.


Wahid mengatakan bahwa Ica sempat meminta tolong padanya tapi Wahid tidak bisa karena sedang ada kerjaan malam ini. Ilham menghubungi teman-teman yg lain jika saja ada yg mengetahui kondisi Ica saat ini tapi ternyata tidak ada yg tahu tentang dimana Ica saat ini.


Ilham semakin khawatir terlebih setelah melihat pesan terakhir yg bertuliskan "tolong."


Pesan itu jadi pesan terakhir Ica hingga saat ini, Ica belum membalas bahkan membaca pesan dari Ilham.


Dia panik, dia terus menelfon tapi tak ada yg menerima panggilan itu. Akhirnya dia melacak smartphone Ica dengan sebuah aplikasi. Setelah mencoba beberapa kali, Ilham terkejut melihat lokasi smartphone tersebut berada di luar kota tapi tak terlalu jauh. Ilham tambah khawatir ketika memperbesar peta dan melihat bahwa letak smartphone tersebut berada di tengah hutan.


Tanpa pikir panjang Ilham langsung melapor kepada Polisi saking paniknya, ditambah saat ini firasatnya sangat buruk.


Setelah berada dalam kantor polisi, dia menceritakan firasatnya kepada petugas polisi tapi jika hanya berdasarkan firasat hal itu tentu tidak akan membuat polisi bergerak. Ilham berdebat dengan petugas tapi tidak digubris karena memang tidak ada bukti atas apa yg di laporkan oleh Ilham, setidaknya sampai seorang wanita tua masuk ke dalam kantor polisi.


Wanita tua itu berjalan ke arah meja pengaduan di tempat saat ini Ilham berdebat dengan petugas. Wanita tua itu terlihat panik dan perlahan menceritakan hal yg dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Wanita tua itu ternyata seorang pemulung yg tak sengaja melihat sekilas kejadian penculikan Ica di depan toko klontong depan Kampus. Mendengar laporan tersebut, spontan Ilham mengeluarkan smartphonenya dan memperlihatkan foto Ica kepada wanita tua itu.


"Bu.. Maaf, apakah wajah perempuan itu seperti ini?" tanya Ilham panik.

__ADS_1


Wanita tua itu memperhatikan dan mencoba mengingat kembali, Ilham memperbesar gambar tersebut dan seketika wanita tua itu langsung membenarkan bahwa gambar di smartphone Ilham inilah yg diculik oleh orang tidak di kenal.


Dengan sigap petugas polisi tersebut bertindak dan 4 mobil di kerahkan menuju lokasi sesuai dengan letak smartphone Ica. Dengan jalan yg mulai sepi dan bunyi sirine polisi membuat mobil yg melaju tak ada hambatan menuju lokasi.


30 menit berlalu dan sampailah mereka di sebuah hutan yg tak jauh dari kota. Butuh waktu 10 menit untuk masuk ke dalam sampai akhirnya menemukan sebuah pabrik yg tertutup tapi minim cahaya terang di dalam pabrik tersebut.


Ilham yg mengikuti mobil polisi menggunakan mobilnya sendiri juga sampai di lokasi. Meski sudah diminta oleh petugas untuk tidak ikut tapi Ilham tetap nekat karena perasannya benar-benar kacau saat ini.


Di lokasi, Ilham mencoba menelfon kembali smartphone Ica. Meski tak begitu jelas terdengar tapi Ilham langsung tahu bahwa Smartphone Ica berada di dalam mobil yg terparkir di depan pabrik itu. Petugas Polisi lalu bertindak dan mencoba masuk ke dalam pabrik.


Awalnya Polisi di sambut dengan seseorang yg mengaku sebagai penjaga pabrik tapi karena Polisi memaksa masuk akhirnya pria itu mencoba menyerang petugas dengan sebilah pisau. Untung petugas dapat menghindar dan melumpuhkan pria itu tapi seseorang dari dalam pabrik menembaki petugas Polisi yg berada di depan gerbang.


Akhirnya petugas yg terdesak membalas tembakan senjata api tersebut. Terjadilah baku tembak antara Polisi dan para penculik tersebut.


Sementara itu di dalam pabrik.


"Bos.. Di luar ada polisi." ucap seorang pria membuka pinta kamar dengan panik.


"hah! Polisi? Bagaimana mungkin.. Kurang ajar."


"anak-anak di luar pabrik sedang baku tembak dengan polis Bos."


"sialan.. Cepat bereskan semua barang-barang, lalu bakar tempat ini. Jangan ada satupun bukti yg tertinggal." Kata si Bos mengancingkan kembali kemejanya.


"bagaimana dengan cewek itu." ucap seseorang menunjuk ica.


"hmm.. Bawa dia." ujar Bos tersebut.


"Bos.. Cewek itu hanya akan mengganggu rute pelarian kita." ucap seorang diantara mereka.


"cih.. Anji**, baru juga mau pesta.." kata si Bos meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Sementara itu Pakaian Ica yg hampir lepas kembali dia kenakan, masih dalam keadaan histeris. Pikirnya hampir saja hidupnya berakhir malam ini.


"Tinggalkan saja cewek itu.. Ayo cepat, kita tidak punya waktu." si Bos kembali memberikan perintah.


Ica yg masih terisak merasa lega karena dia masih bisa mempertahankan kehormatannya. Tapi dia belum sepenuhnya aman mengingat ruangan tempatnya di sekap saat ini di kunci oleh mereka.


Sementara itu di luar pabrik, beberapa mobil Polisi tertahan karena tembakan dari orang-orang yg berada di dalam pabrik. Sepertinya pabrik tersebut berada di dalam hutan dan tengah memproduksi sesuatu.


Adu tembak antara polisi dan komplotan pencuri tak terelakan. Terlihat jumlah polisi sangat sedikit jika di bandingkan dengan jumlah penculik tersebut. Polisi yg kewalahan mencoba menghubungi kantor dan meminta unit bantuan mengingat kondisi saat ini berbahaya.


"Pak teman saya ada di dalam." Ucap Ilham kepada Polisi yg sedang berkomunikasi dengan kantor.


"kamu tunggu di sini!" Ucap Pak polisi yg masih berbicara menggunakan alat komunikasi jarak jauh miliknya.


"Pak... Teman saya masih di dalam." kata Ilham sekali lagi sangat panik.


"Ian.. Tolong amankan orang ini." kata Pak polisi kepada salah seorang bawahannya.


"Siap Dan."


Seorang petugas lalu memegang Ilham dengan erat dan perlahan menjauh dari lokasi yg saat ini menjadi tempat baku tembak antara polisi dan kawanan pencuri.


Ilham meronta tapi genggaman petugas tersebut cukup kuat untuk membuat Ilham tidak lepas dari genggamannya.


"lepaskan saya Pak.. Teman saya masih di dalam."


"diam.. Kami akan menyelamatkan teman kamu. Tolong diam. Saya tidak mau menyakiti kamu." ucap petugas tersebut menahan Ilham yg mulai meronta mencoba melepaskan diri.


Sementara itu, suara tembakan terus terdengar. Malam yg gelap membuat para petugas kesulitan untuk menerobos masuk kedalam pabrik bahkan mengetahui lokasi musuh saja sulit mengingat gelapnya malam saat ini.


Petugas berhati-hati dan tak mau mengambil resiko, mereka tetap memberi perlawanan meski tak bisa masuk untuk menyelamatkan sandera.

__ADS_1


Sampai.. Malam yg tadinya gelap tiba-tiba terang oleh cahaya kobaran api yg ada di dalam pabrik.. Semakin lama.. Semakin terang dan semakin tinggi pula kobaran api disertai gumpalan asap yg mengganggu pernapasan.


-Bersambung-


__ADS_2