Kamu & Senja

Kamu & Senja
Kenyataan pahit


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Pagi yg sibuk terlihat di koridor Fakultas Ekonomi, mahasiswa lalu lalang berjalan cepat ke ruang Dosen sembari memegang KRS (kartu rancangan studi). "hi Ivan." Kata Dian mencoba menyapa Ivan yg tak sengaja berpapasan dengannya.


Ivan membuang muka ketika melihat Dian yg berada di depannya, dia berusaha tidak menggubris dan meninggalkan Dian tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Dian menoleh ke belakang, memandang punggung Ivan yg telah menjauh darinya. Sudah tiga bulan terakhir kali mereka bersama, kebersamaan terakhir mereka begitu indah hingga sulit untuk di lupakan.


Waktu itu Dian sangat bahagia atas kejutan kecil untuknya di hari ulang tahun. Makan malam romantis tampak sempurna baginya, terlebih dia menghabiskan malamnya bersama dengan lelaki yg sangat di cintainya.


Hampir saja malam itu menjadi malam yg sangat sempurna, tapi di akhir malam ternyata dia harus menerima kenyataan pahit bahwa Ivan memutuskan hubungan mereka. Malam yg seharusnya membahagiakan menjadi malam yg menyedihkan.


Saat turun dari kendaraan malam itu, Ivan membisikkan sesuatu yg tidak pernah terpikirkan oleh Dian. Jujur saja, waktu itu dia berpikir bahwa Ivan akan membisikkan kata-kata manis yg akan menjadi pengantar tidur untuknya tapi yg terdengar malah kata-kata yg jadi pengantar kesedihan yg menemaninya sepanjang malam.


Masih jelas di ingatan Dian kala itu.


"sayang, kamu tau bahwa kebahagiaan terbesar buatku adalah melihatmu tertawa dan tersenyum bahagia. Aku pernah melihatmu seperti itu, saat itu kau begitu cantik dengan tawamu, dengan senyummu dan sikap manjamu. Aku benar-benar menyukainya. Tapi sayang... saat itu kau tidak bersamaku, kau bersama dengan laki-laki lain. Laki-laki yg lebih mampu membuatmu bahagia seutuhnya. Tak seperti diriku, bahkan aku tak pernah mampu membuatmu sebahagia itu, tertawa lepas seperti itu. Sayang aku mencintaimu, maka dari itu. Aku ingin kau tertawa seperti itu lagi, aku ingin kau bahagia seperti itu lagi tapi tidak denganku. Dengan laki-laki itu, semoga kau bahagia dengannya. Sekarang, izinkan aku pergi. Aku ikhlas melepasmu untuk bersama dengannya."


Kata-kata terakhir Ivan yg di bisikkannya kepada Dian membekas dan menusuk hati hingga saat ini terus menghantui Dian selama tiga bulan terakhir.


Sebuah kata-kata yg tak pernah di sangka-sangka olehnya akan di ucapkan Ivan, kekasih yg sangat di cintainya.


Kebenaran yg sebenarnya terkuak setelahnya. Iya.. Kebenaran bahwa Dian telah mendua, kebenaran bahwa Dian telah bersama dengan laki-laki lain selain Ivan. Kebenaran bahwa kebersamaan Dian dengan laki-laki lain telah di ketahui oleh Ivan, kebenaran bahwa perselingkuhan Dian sudah di ketahui Ivan jauh sebelum Ivan mendapatkan informasi ini dari Anya salah satu teman Dian. Kebenaran bahwa Ivan yg menahan sakit, masih menaruh harapan dan tetap melanjutkan hubungannya dengan Dian.


Dian mengetahui semua hal itu, mengetahui bahwa selama ini Ivan sudah tau fakta bahwa dia bersama dengan laki-laki lain tapi tetap bertahan dengannya. Hal itulah yg membuat perih di dada Dian, dia telah melakukan kesalahan, kesalahannya selama ini sudah Ivan ketahui tapi Ivan mencoba diam berharap Dian sadar dan berhenti melakukan itu.


Momen indah yg di buat Ivan untuk Dian malam itu sekaligus menjadi momen perpisahan mereka. Ivan adalah lelaki kuat, tapi sekuat-kuatnya lelaki jika terus terjatuh pasti tidak akan kuat lagi untuk bangkit, terlebih perempuan yg seharusnya menjadi bahan bakar semangat untuknya telah berkhianat.

__ADS_1


Dan sudah tiga bulan terakhir ini Dian mencoba untuk mendekat dan meminta maaf kepada Ivan hanya saja Ivan selalu menghindar, bukan membenci tapi Ivan tak ingin lagi menjadi beban bagi Dian, beban agar Dian bisa bahagia dengan laki-laki itu, laki-laki yg menurut Ivan lebih mampu mengukir senyum di wajah Dian.


Ada satu hal yg tidak di sadari oleh Ivan, bahwa Dian benar-benar mencintainya, bahwa Dian bahagia bersamanya, hanya saja dia terlena dan takluk di hadapan laki-laki lain.


Tentu kedua perfektif ini berbeda, tapi jika harus menilai. Selingkuh memang salah, salah dimata yg di selingkuhi dan benar-benar saja di mata yg berselingkuh.


Kini Dian hanya bisa menyesali perbuatannya, Ivan tak mau lagi bertemu dengannya. Dian akhirnya sadar bahwa Ivan tulus kepadanya, tapi dia terlambat menyadari itu semua. Saat dia sadar Ivan sudah menutup hati dan tak ada lagi di hadapannya. Saat sadar Ivan sudah berada jauh meninggalkan dirinya.


Kecewa memang selalu datang terlambat, kecewa memang selalu membawa penyesalan yg dalam. Bukan kecewa namanya jika tidak menyesali perbuatan yg telah berlalu. Semua sudah berakhir sekarang, Ivan sudah benar-benar tak ingin lagi berhubungan dengannya.


Dian yg melihat punggung Ivan semakin jauh tak sadar menjatuhkan air mata, karena kenangan yg dia tinggalkan begitu dalam berbalut penyesalan besar akan kesalahan di masa lalu.


Dian berbalik dan berjalan menjauh, dia tertunduk karena tak ingin teman-temannya di kampus melihat dia sedang menangis, terus saja dia mengusap air matanya namun percuma. Sumber sebenarnya dari air mata adalah hati, saat ini hatinya sedang kacau dan jika ia ingin menghentikan air mata itu, dia harus bisa pulih dari penyesalannya.


"Dian.." Kata seorang perempuan yg memanggilnya dari belakang.


Dian tidak menoleh, dia terus saja berjalan. "Dian.. Tunggu. Gue mau ngomong." perempuan itu menarik bahu Dian.


"Maaf, gue..., gue gak bermaksud untuk merusak hubungan elu sama Ivan." Kata perempuan itu.


"Gue benci lu Anya, lu tuh.. Ahh sudah... Tinggalin gue sendiri."


"Dian please, dengerin gue dulu."


Anya mencoba menenangkan Dian yg mencoba menjauh darinya. Anya membawa Dia keempat yg sepi, mengingat tadi saat mereka berbicara dan Dian menangis, orang-orang di sekitar memperhatikan mereka dan membuat mereka berdua jadi bahan tontonan. "lu marah sama gue itu wajar, tapi yg harus lebih marah adalah Ivan." Kata Anya


Dian hanya melihat dan mendengar perkataan Anya. "gue ngaduin elu ke Ivan itu benar adanya, karena gue jujur, gue suka sama Ivan. Dan menurut gue cowok baik kayak dia tidak pantas untuk elu permainin." jelas Anya.

__ADS_1


"...." Dian hanya diam.


"Dian, sekali lagi lu boleh marah karena gue ngadu ke Ivan tapi asal lu tau Ivan..." Anya cukup berat untuk melanjutkan perkataannya.


"Sebenarnya lu mau ngomong apa?" tanya Dian.


"gue.. Ivan, lu benar-benar beruntung Dian. Ivan benar-benar sayang sama lu. Gue sama sekali gak punya kesempatan buat merebut dia dari elu."


"diam, gue mohon." Ujar Dian menutup telinganya.


"Ivan.. Sangat mencintai elu, sampai dia tau elu selingkuhpun dia masih percaya sama elu. Lu tau waktu gue ngadu ke dia kalau elu selingkuh, lu tau ekspresi dia kayak apa. Dia tersenyum, dia maksain dirinya untuk tersenyum demi elu Dian." jelas Anya.


"Diam Anya, diam." Ujar Dian berusaha menutup telinganya.


"dia berbisik ke gue saat itu, Ivan bilang ke gue kalau dia.. Kalau dia, dia sudah tau. Dia sudah tau kalau lu, cewek yg dia sayang lagi deket sama cowok lain. Bahkan dia udah tau kalau elu udah selingkuh dari dia sejak kita masih semester tiga Dian. Ivan.. Dia.." Anya sudah mulai kehilangan kata-kata dan tampak sulit untuk melanjutkan.


Dian yg mendengar itu tak bisa lagi membendung penyesalannya, dia menumpahkan semua air matanya saat ini. "Ivan.. Dia, saking sayangnya dia ke elu, dia rela terluka dan berharap suatu saat elu akan sadar. Tapi akhirnya dia menyerah, dia gak bisa bertahan lebih lama lagi. Lu beruntung Dian, tapi sayang lu telah menyia-nyiakan keberuntungan elu. Gue mau bilang, Ivan sudah menutup hatinya buat elu karena jika dia membuka hatinya lagi itu sama saja dia harus membuka luka lama yg saat ini sudah kering." lanjut Anya.


Dian terus saja menangis, dia berlutut terjatuh karena tak mampu menahan kesedihan dan tidak mampu menopang penyesalan yg membuat sesak di dadanya, kakinya terlihat gemetar dan dia terus saja menyebut nama Ivan.


"Dian... Kalau lu mau marah, lu harus marah sama diri lu sendiri." Kata Anya.


Anya berjalan meninggalkan Dian yg terlihat menyedihkan, orang-orang yg berada di sekitarpun memperhatikan mereka berdua.


Tak lama seorang perempuan mendekat ke arah Dian dan terlihat dia membantu dan menenangkan Dian yg masih saja menangisi penyesalannya. "duh beb kamu kenapa? udah ya udah. Malu di liatin orang." Kata Mao salah satu teman Dian.


Mao adalah teman dekat Dian, sebagai teman dekat dia tak ingin Dian menjadi tontonan oleh orang-orang yg berada di sekitar tempat itu, dia berjalan menjauh sambil memopang Dian yg terlihat lemas.

__ADS_1


Dian hanya bisa meratapi kesedihan, apa lagi kenyataan yg di katakan oleh Anya menambah luka di dadanya. Memang benar, sesal selalu datang terlambat.


-Bersambung-


__ADS_2