Kamu & Senja

Kamu & Senja
Jilbab Merah


__ADS_3

Hari berganti, hari cerah sebelumnya berubah menjadi gelap di ikuti gemercik bunyi air hujan, belakangan hujan memang sulit di prediksi. Meski hujan karena ada jadwal kuliah, aku ke kampus seperti biasa mengendarai motor sambil mengenakan mantel hujan. Sampai di kampus, aku bertemu Ica salah satu teman kuliahku."Man.. ngapain ke kampus?" tanya Ica yg tiba-tiba menghampiri.


"kuliah lah." jawabku judes.


"**tapi Prof Armin katanya gak masuk, kelasnya di tunda besok."


"hah..yg bener**."


Salah satu kegalauan mahasiswa adalah hal yg baru saja terjadi. Ketika ingin kuliah tapi nyatanya dosen tidak hadir atau malah sebaliknya.


Ica.. Salah satu perempuan cantik di jurusanku, lumayan banyak juga yg pernah nembak dia tapi dianya yg gak mau. Katanya sih semua laki-laki sama aja, karena dia punya pengalaman buruk waktu pacaran dengan laki-laki. Salah sendiri, pacaran dengan laki-laki tukang selingkuh.


Hal ini kadang membuat aku bingung dengan fikiran cewek-cewek di luar sana, pasalnya mereka lebih nyaman menjalin hubungan dengan "anggaplah cowok nakal" di banding yg pada dasarnya baik. Aku pernah membaca sebuah artikel katanya cowok "badboy" itu menarik di mata cewek karena gak kaku dan bisa bikin cewek nyaman, beda dengan cowok baik yg notabenenya membosankan. Benarkah begitu? Entahlah..


Aku dan Ica cukup dekat, biasanya sering bareng kalau lagi di kampus saking dekatnya kami pernah di sangka pacaran sama anak-anak di kampus. Tapi memang aku tak punya perasaan apa-apa ke Ica begitupun sebaliknya."pulang ah.. Tau begini tadi gak ke kampus." ucapku yg mulai kesal dengan perilaku Dosen yg seenaknya saja.


"ya udah jauh-jauh ke kampus juga, mending temenin aku aja ke perpustakaan." saran Ica.


"ngapain ke perpus?"


"nyari bahan buat skripsi, emangnya aku kayak kamu sama Ilham mau jadi mahasiswa 7 tahun." Selain cantik, si Ica ini juga bisa di bilang pintar di kampus. Katanya sih ingin segera lulus supaya bisa kerja di perusahaan ayahnya. Sempat terbesik fikiran untuk mereka anak-anak orang kaya, enak yah gak pusing mikirin masa depan. Tapi melihat Ica aku jadi malu sendiri, pasalnya dia gak pernah manja sama orang tuanya, uang jajan pun dia cari sendiri dengan kerja sampingan. Selain kuliah di jurusan Administrasi Negara dia juga kursus bahasa Inggris dan teknik informatika.


Desakan dan paksaan Ica membuat aku mengurungkan niat untuk pulang. Lagi pula aku sedang tidak ada kegiatan, bisa saja jika aku ikut dengan Ica ke perpustakaan, aku bisa mendapatkan inspirasi judul skripsi.


Hening, itulah kata yg menggambarkan suasana perpustakaan kampus saat ini. Semua orang yg ada di perpustakaan terlihat begitu serius mambaca dan mencari buku di rak-rak buku. Saat kemudian aku berjalan menemani Ica yg dari tadi belum menemukan buku untuk skripsinya, pandanganku teralihkan olehnya.. Lagi..


Tak tau lagi harus berbuat apa, karena panik aku mengambil buku dan pura-pura membacanya."Man... Kamu lagi baca apa?" tanya Ica yg melihat tingkah anehku.


"ohh ini, hehe belakangan lagi suka baca yg beginian."


"hah.. Buku panduan operasi kelamin, Man? Kamu sehatkan?" kata Ica sambil meninggikan nada suara nya.

__ADS_1


Seketika satu perpus melihat kearah ku.


"eh.. He he." malu, itu adalah satu kata yg bisa menggambarkan raut wajahku saat ini.


"**hahahahaha"


"kurang ajar kamu Ca. Puas kamu bikin aku malu**."


"lah kamu.. Malah baca buku gituan, bacanya kebalik lagi. Haha." jelasnya ngakak


"ya kan penasaran aja sama gituan." Kataku


"alahhhh alesan aja kamu.."


Lama kami berjalan mencari buku untuk referensi skripsi Ica, akhirnya kami cuma mendapatkan satu dari beberapa buku yg di butuhkan. Aku pun menunggu Ica di depan pintu perpustakaan sembari dia menyelesaikan administrasi untuk meminjam buku tersebut.


Di depan pintu aku bertemu dengan Ilham. Sepertinya dia lagi menunggu seseorang. Karena penasaran aku mencoba untuk menyapanya. "Ham.. Tumben kamu di perpus? Biasanya kan di kantin nongkrong sambil ngopi."


"siapa?" penasaran.


"kepo aja lo.. Haha."


"Arman.. Loh kok Ilham kamu ada di sini?" ujar Ica terkejut melihat Ilham yg tiba-tiba datang


Melihat ekspresi Ilham, sepertinya sudah tertebak kalau yg dia tunggu di sini ternyata Ica. Iya.. Ilham juga salah satu orang yg pernah nembak Ica berkali-kali tapi di tolak terus. Walaupun begitu dia tetap tidak mau menyerah. Salut sih dengan kegigihan dia tapi kasihan juga kalau lama-lama di biarkan nanti sakit hati.


Kami bertiga lalu ke kantin untuk makan siang, karena lapar sudah tidak bisa di ajak kompromi saat ini. Di kantin seperti biasa, Ica pesan indomie rebus, aku indomie goreng dan si ilham pesan kopi.


Katanya kopi itu punya filosifi, kopi itu mengajarkan kita untuk jadi diri sendiri tanpa harus takut dengan penilaian orang lain. Lihatlah kopi dengan hitam dan pahitnya, tak perlu jadi putih untuk di puji dan tak perlu jadi manis untuk di nikmati karena hitam dan pahit punya khas yg hanya bisa terjelaskan dengan sekali tegukan.


Sebagai mahasiswa yg bisa di bilang berada pada level akhir. Di kantin kampus tidak banyak lagi muka yg kami kenal, kebanyakan dari teman-teman kami sudah jarang nimbrung di kampus. Yg terlihat hanya wajah-wajah polos tak berdosa mahasiswa semester awal.

__ADS_1


"ehh Man lo tau gak, teman lo si Ivan sekarang rajin banget ya dia shalat di mesjid lagi." kata Ilham tiba-tiba.


"iyaa emang kamu.. Shalatnya bolong-bolong."


"ya dari pada gak shalat sama sekali. Hehe."


"oh iyaa, aku denger-denger sih udah mau nikah ya dia." Kata Ica memotong percakapanku dengan Ilham.


"ehh buset, belum selesai kuliah juga.. udah mau nikah aja." Kata ilham


"kuliah gak menghalangi nikah Ham, kalau memang kamu mampu kenapa tidak? Toh lebih baik dari pada pacaran mulu gak nikah-nikah." Kata ku sok bijak. Bukan aku membela Ivan tapi aku juga pernah berada di posisi Ivan. Bahkan saat itu setahun yg lalu, saat aku masih semester 5.


"iya sih Man. Lo sendiri kapan nikah?" tanya Ilham sembari menyeruput Kopi hitamnya.


"besok kalau gak hujan." balasku ngeles.


"hahaha bisa aja lu man."


"emang sih Ivan nikah sama siapa Man?" tanya ica.


"gak tau juga sih, soalnya dia belum ngenalin ke aku siapa calonnya. Katanya nanti aja pas lamaran. Soalnya mereka lagi ta'aruf." jelasku pada Ica.


Di tengah perbincangan kami, mataku kembali teralihkan olehnya.. Lagi.. Tepat di depan meja makan yg bersebelahan dia duduk dengan teman-temannya. Dia mulai bercerita sambil tersenyum bahagia. Aku mulai berfikir, dosa kah aku mencuri pandangan saat dia sedang tersenyum manis seperti itu. Momen saat aku curi pandang seperti ini sudah berlangsung sejak kejadian buruk waktu itu.


Jika di tanya saat ini, fikiranku kacau. Tak tau harus berbuat apa. Tak ada keberanian untuk menyapa, jangankan menyapa saling bertatap mata saja rasanya aku tak sanggup. Bukan karena malu, hanya saja kadang sesuatu tidak sesederhana itu untuk di jelaskan.


Terus terang saja jika berbicara tentang cinta, mungkin aku bukanlah ahlinya. Jika dari pengalaman ya.. Aku punya, pernah menjalin hubungan dengan seseorang selama 2 tahun. Jujur masa itu adalah masa yg indah namun setelah semua berakhir aku baru sadar bahwa waktuku terbuang percuma.


Semua kenangan itu bisa di bilang palsu, semua janji-janji itu tidak ada artinya. Oleh karena itu, sejak hubunganku berakhir waktu itu, aku tak pernah lagi menjalin hubungan dengan perempuan manapun karena bagiku itu percuma dan hanya buang-buang waktu.


Tapi semua itu berubah saat aku bertemu dan mulai mengenalnya. Iya.. Perempuan yg saat ini berada tepat di depanku, yg saat ini sedang asyik berbincang dengan teman-temannya. Perempuan itu.. Perempuan berjilbab merah itu aku sangat mengenalnya, tapi dia tidak mengenalku.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2