
Semester terakhir, normalnya seperti itu bagi sebagian mahasiswi yg lain, sementara sebagiannya lagi menganggap bahwa semester 8 tidak menjadi semester terakhir, misalnya saja seperti Wahid. Dia belum memikirkan tugas akhir atau skripsi, baginya semester ini masih seperti semester-semester sebelumnya. Masih ada tanggung jawab di kampus yg harus ia emban, sebelum dia meninggalkan kampus seutuhnya.
Sedangkan aku, seorang mahasiswa normal yg menginginkan agar urusan kampus bisa kelar di semester ini dan bisa wisuda di tahun ini. Begitupun dengan Ica, sudah dua minggu dia keluar dari rumah sakit, kondisinya semakin membaik walaupun aku tahu jika masih ada trauma di dalam benaknya.
Sebenarnya hari ini adalah hari dimana Ica akan ujian skripsi, tapi mengingat kondisinya yg memprihatinkan ketika itu. Dosen pembimbingnya mengundurkan ujian untuknya sampai bulan depan agar Ica bisa fokus memulihkan kesehatan fisik dan mentalnya dahulu.
Aku yg tak ingin kalah dengan Ica juga sudah memulai penelitianku, begitupun dengan Ilham yg di motivasi oleh Ica. Sementara Gina telah menyelesaikan penelitiannya dan sekarang telah berkutat dengan data dari hasil penelitiannya.
Yg membuatku semakin bingung akhir-akhir ini adalah Adi. Dia semakin menegaskan jarak dengan kami, walaupun aku masih berkirim pesan dengannya tapi Adi sangat jarang berkumpul lagi di kampus. Adi seperti menghindar jika aku bertanya ada apa atau kenapa dia jarang ke kampus. Ginapun telah mengkonfirmasi bahwa dirinya sudah putus dengan Adi.
Aku sempat berpikir bahwa Adi seperti ini gara-gara dia putus dengan Gina. Tapi aku masih tidak tahu jawaban pastinya, terlebih sikap Gina kepada Ilham jika kami sedang berkumpul, aku merasa ada yg mereka tutupi, rasanya canggung dan tidak seperti biasa. Aku masih belum paham dengan hal itu, bahkan jika ku singgung di depan mereka spontan mereka akan mengelak dari pertanyaanku.
Hari ini misalnya, karena aku sedang ada rapat di UKM Karate. Aku berada di kampus walaupun sudah tidak ada jadwal kuliah, sedangkan Ica akan bertemu dengan Prof Armin, Ilham sigap mengantar Ica dan Gina hari ini sedang ada jadwal konsultasi skripsi dengan Ibu Ariana. Karena berada di kampus, tentu saja kami bertempat menyempatkan untuk kembali berkumpul di kantin favorit kami.
"aku tidak pernah melihat Adi. Gina, sebenarnya apa yg terjadi dengan kalian?" tanya Ica.
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Gina tersedak minuman.
"e.. Aku juga gak tahu." balasnya singkat.
"Ham.. Kalau kamu tahu gak? Tentang Adi." tanyaku
"gue gak tahu apa-apa." ucapnya tidak yakin.
Sedang membicarakan Adi, tiba-tiba.
"itu dia orangnya." tunjuk Ica.
Adi tiba-tiba mendekat kepada kami. Ku lihat dia memegang sebuah map plastik. Setelah menyapa kami semua dia duduk di sampingku.
"kemana aja bro?" tanyaku sok asyik.
"biasalah mahasiswa. Ini habis bimbingan sama Prof Kifli." balasnya.
Ternyata diam-diam Adi telah menyelesaikan penelitiannya dan saat ini telah mengerjakan hasil penelitiannya. Entah apa yg memotivasi Adi yg biasanya sering malas dalam segala hal.
Dia memang berkumpul bersama kami saat ini, tapi jika ku perhatikan dengan seksama. Adi hanya membalas atau mengajak aku dan Ica untuk berbicara, sementara Ilham dan Gina tidak dia ajak bicara atau tidak melirik mereka sekalipun. Aku semakin menyadari bahwa terjadi sesuatu antara mereka bertiga.
"Ca' keadaan kamu bagaimana?" tanya Adi.
"alhamdulillah, udah baikan. Kamu jahat, jarang jenguk aku waktu di rumah sakit." balas Ica.
"ya maaf, aku sibuk sama skripsi soalnya."
__ADS_1
"iya gak papa, itu bagus."
"tapi emang kampr*** tuh Irwan. Kalau ketemu bakal aku tonjok." ucapnya.
Sepertinya aku tidak bisa lagi menahan kegelisahanku dalam hati. "Sebenarnya apa yg terjadi antara kalian?" tanyaku tiba-tiba.
Mereka bertempat melihat ke arahku dengan wajah bingung.
Aku melihat ke arah Adi. "kenapa kamu bersikap dingin pada Gina dan Ilham?"
Adi diam mendengar perkataanku, sementara Ica yg sedari tadi tidak menyadari mulai mengerti situasi.
Aku berbalik melihat ke arah Ilham dan Gina.
"Kalian berdua? Ada dengan kalian?"
"lu kenapa Man. Gak ada apa-apa kok." balas Ilham sok santai.
"cukup.." aku memukul meja.
Suasana yg tadinya bias sekarang menjadi cukup tegang, suara gebrakan meja membuat perhatian mengarah kepada kami berlima.
"Man.. Santai dong." kata Ilham mencoba menenangkan.
Aku menahan Adi, aku memegang tangannya. "cukup bro.. Tolong, apapun yg terjadi di antara kalian, selesaikan sekarang." ucapku frustrasi.
Adi hanya diam mendengarku bicara seperti itu. Sementara Ica yg semula mengira bahwa tidak ada apa-apa, mulai merasa curiga dengan situasi canggung saat ini.
"Gina?" ucapnya menatap Gina.
Gina hanya diam, ia tertunduk dan berkata maaf kepada Ica. Mendengar hal itu Ica semakin bingung, tiba-tiba Adi yg ternyata masih menyimpan marah pada Ilham berdiri dari tempat duduknya.
"Ilham... Selingkuh dengan Gina." ucapnya tegas.
Mendengar hal itu Ica terkejut dan seakan tak percaya. Dia berbalik ke arah Ilham dan melihat dengan tatapan sedih. Sementara Gina yg mendengar hal itu langsung menyanggah perkataan Adi.
"tidakkk.. Jangan sembarangan." bentak Gina.
"sudahlah.. Kalian ngaku saja." ucap Adi menuduh.
Aku bisa melihat api cemburu dalam pandangan Adi. Meski sulit untuk percaya tapi melihat sikap dan pandangan Adi pada Ilham cukup membuatku bimbang.
Ilham yg sedari tadi diam langsung tersulut emosinya mendengar tuduhan tanpa bukti oleh Adi. "eh.. Bro. Lu jangan nuduh yg ngak-ngak."
__ADS_1
"apa lu.. Hah." ucap Adi masih dengan cemburu butanya.
"mana buktinya kalau gue selingkuh sama Gina?"
Adi diam, mungkin karena cemburu butanya ketika itu masih belum reda. Diapun melayangkan pukulan kepada Ilham hingga membuat Ilham terjatuh. Seketika semua mata yg berada di kantin tertuju pada meja kami. Aku spontan menahan Adi yg masih terlihat marah karena tuduhan perselingkuhan itu, sementara Ilham di bantu berdiri oleh Ica.
Gina yg melihat pertengkaran itu berteriak. "sudah.. Cukup.. Jangan bertengkar."
Setelah mengatakan itu, Gina mengambil tas dan langsung pergi meninggal kami yg masih bingung dan tak tahu harus merespon seperti apa. Adi juga pergi tanpa meninggalkan sepatah kata, bahkan dia mendorongku yg mencoba meminta penjelasan atas sikap dan pernyataannya.
"kamu gak papa Ham?" kata Ica membantu Ilham berdiri.
"Bro.. Sebenarnya ada apa?" tanyaku.
"apa benar kamu selingkuh dengan Gina?"
"ngak Ca'.. Perempuan yg aku suka cuma kamu." balas Ilham meyakinkan Ica.
Ilham kembali duduk, dia benar-benar syok atas apa yg terjadi saat ini, begitupun dengan aku dan Ica. Akhirnya dia menceritakan kesalahpahaman yg terjadi kepadaku dan Ica. Itu bermula ketika semester, 2 kurang lebih 2 tahun yg lalu. Saat itu Ilham berjalan di koridor dan melihat Ica memakai gelang yg menjadi ikatan janjinya dengan seorang anak kecil. Sejak saat itu Ilham yg penasaran dengan Ica terus mendekati Ica, sampai akhirnya Ilham jatuh hati tanpa sempat mengkonfirmasi langsung kepada Ica jika gelang itu adalah miliknya atau bukan.
Sedangkan Ica, dia mengatakan bahwa gelang itu adalah milik Gina. Dia hanya meminjamnya waktu itu karena terlihat unik. Mendengar kisah Ilham, Ica jadi mengerti kenapa selama ini Ilham begitu mengejar dirinya.
Ica menghela nafas.. Dia tak percaya atas apa yg terjadi saat ini. Pikirannya sedikit kacau terlebih atas insiden yg baru-baru ini menimpanya.
Lebih jauh Ilham mengatakan bahwa ternyata Adi mengetahui hal ini dan marah kepadanya atas janji yg telah dia buat bersama Gina saat mereka masih anak-anak. Sejak saat itu mereka berselisih dan Gina sepertinya masih memegang janji itu meski mencoba menutupi perasaannya.
Apa yg salama ini ku takutkan tentang cerita masa lalu Ilham terjadi. Ternyata dugaanku benar bahwa Ilham selama ini salah mengira, jika sudah seperti ini mau di bawa kemana lagi hubungan mereka.
Aku tidak habis pikir, takdir memang kadang sangat kejam tapi seperti inilah kenyataannya. Mau tidak mau kita harus menerima kenyataan dan menghadapinya meski pahitnya cukup untuk membuat kita muak akan hidup.
"Ilham.. Apa kamu suka sama Gina?" tanya Ica.
"ngak.. Gue udah yakin dengan perasaan gue. Cewek yg gue suka cuma lu Ca'." tegas Ilham.
Aku masih tidak percaya atas apa yg terjadi. Apakah pertemanan kami harus berakhir seperti ini di tahun-tahun terakhir kami bersama.
"ini semua memang salahku. Tapi.. Ica.. Gue yakin kalau cewek yg gue suka adalah elu." Ilham sekali lagi meyakinkan Ica.
Kesalahan Ilham membuat dirinya menjatuhkan hati pada perempuan yg salah. Tindakan cerobohnya melukai hati yg lain. Meski begitu Ilham teguh akan pendiriannya, bahwa saat ini di lubuk rasa paling dalamnya ada Ica yg bersemayam.
Ica orangnya.. Bukan dia.. Bukan perempuan dimasa kecilnya, bukan Gina..
-Bersambung-
__ADS_1