
Aku mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata.. Rasanya aku ingin meluapkan semua kekesalanku dengan meningkatkan kecepatan motorku.
Aku mengendarai motor seperti berandalan, selip sana selip sini. Kendaraan yg berada di depanku terus saja aku lewati, bahkan aku hampir saja menabrak seseorang yg sedang menyeberang jalan.
Salah orang itu karena dia tidak menyeberang di tempat penyebrangan jalan. Intinya.. Semua yg menghalangi jalanku saat ini, mereka semua salah.. Hanya aku yg benar.. Hanya aku yg benar.. Aku kesal, marah, rasanya sakit.. Aku..
Tempat terbaik untuk menenangkan diri saat ini adalah tempat biasa aku melihat senja.
Dengan kecepatan tinggi aku melaju.. Menuju tempat itu, berharap aku bisa menenangkan diri di sana.
Tak lama, aku tiba.. Seperti biasa. Aku berjalan ke tempat terdekat dengan laut. Sebuah dermaga kayu yg membentang dari bibir pantai hingga ke perairan dangkal.. Panjang dermaga kira-kira 300 meter dari bibir pantai.
Aku berjalan sampai ke ujung, wajahku tidak berubah, masih kesal.. Masih cemburu.
Aku melihat langit sore.. Masih terang. Aku datang sangat cepat, tapi aku masih duduk di ujung dermaga kecil ini.. Sambil merendam kakiku ke dalam air laut yg asin.
Aku menunduk sejenak.. Melihat birunya warna air laut. Mendengarkan uraian ombak.. Begitu menenangkan. Aku berbalik melihat bibir pantai, cukup banyak orang yg sedang bermain air dan bermain pasir..
Sebuah keluarga dengan beberapa orang anak.. Sepasang kekasih... Sepasang lansia yg masih terlihat mesra.. Mereka semua telah memetik indahnya cinta.
Aku menatap langit..
"Ya Allah.." Gumamku dengan penuh harap. Berharap sesuatu yg tak pasti.
Cukup lama aku duduk.. Menunggu senja hadir. Dan.. Ya, kesabaranku terbayarkan. Matahari mulai menampakkan keindahannya, langit yg tadinya biru kembali berwarna jingga kegelapan..
Aku melihat senja.. Tapi malah mengingat perkataan seseorang.. Mengingat perkataan Alfy.. Ia berkata bahwa, ia sangat menyukai senja.
Perkataan ini membuat aku muak, membuat senja tak lagi sama.. Aku memalingkan wajahku, saat ku lihat lagi memang benar senja tak lagi sama.. Setiap aku melihat senja aku malah mengingat Alfy.
"Tch.."
Aku menoleh lagi dan akhirnya.. Untuk yg terakhir kalinya aku melihat senja, hasilnya sama saja.. Senja membuatku muak. Bukannya menenangkan malah menjengkelkanku.. Aku berdiri, aku kesal dengan diriku.. Aku meninggalkan senja terakhir dalam hidupku. Iya ini akan menjadi senja terakhir yg aku nikmati.
Aku tidak akan lagi melihat senja.. Karena itu hanya akan membuatku tambah benci dengan diriku sendiri.
Aku meninggalkan senja.. Hari ini adalah senja terburuk dalam hidupku.
Waktu berlalu.. Saat ini aku sudah berada di rumah. Malam ini aku hanya nongkrong di depan tv sambil menyaksikan acara lawak agar aku bisa menghibur kegalauanku.
Bahkan meski tak lucu, aku memaksa diriku sendiri untuk tertawa saat menonton acara lawak itu.. Aku tertawa tidak wajar.. Sangat keras seperti orang yg sedang frustasi.
"Arman.." Ibuku mendekat.
Aku berbalik melihatnya.. Melihat pandangan ibanya padaku.
"Kamu ngak papa kan nak?" Ucapnya.
"Ngak Ma, ini acaranya lucu." Kataku beralasan.
"Kamu tuh jarang banget nonton tv.. Kalau sudah begini pasti ada masalah." Ucapnya mendekat dan memegang kepalaku.
__ADS_1
Seorang Ibu.. Sebesar apapun atau sedewasa apapun anaknya, dimata seorang ibu anaknya itu masih tetap seperti anak umur 10 tahun.
"Tadi Ivan sama orang tuanya ke sini, pamit sama Ibu. Ivan cariin kamu.." Kata Ibuku.
"Iya Ma, Ivan nelfon aku kok. Kebetulan aku lagi ada urusan di kampus tadi."
"Arman.. Sejak kapan anak Mama belajar bohong."
Jleb.. Ibu membuat aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Mama tau kok.. Pasti karena Alfy kan?"
Aku diam tak berekspresi melihat ke arah ibuku.
"Mama sudah tau.. Calon istri Ivan adalah Alfy. Tadi Ivan nunjukin fotonya ke mama." Lanjut Ibuku.
Aku tidak tahan lagi.. Emosiku memuncak. Mataku mulai berair. "Hadeh, maaf Ma, sepertinya ada debu di mata Arman." Ucapku beralasan sambil mengucek kedua mataku dengan jari-jariku. Aku menahan emosiku.. Aku tak ingin Ibuku melihat air mata bodoh ini.
"Arman.." Ibuku makin mendekat.
"Tidak apa-apa nak.. Lepaskan saja." Ucapnya sambil memelukku erat.
"Mama.." Aku.. Mengeluarkan emosiku... Airmataku membasahi bahu Ibuku. Aku memeluknya erat sangat erat..
"Mungkin Allah belum merestui hubungan kalian, ingat.. Yg terbaik menurutmu belum tentu terbaik menurut Allah." Kata Ibu memberi nasehat sambil mengelus-elus kepalaku.
Saat ini.. Di hadapan Ibu, aku seperti anak kecil yg merengek dan menangisi sesuatu yg tak bisa aku raih.
"Mama yakin.. Kamu akan menemukan perempuan yg lebih baik lagi. Pasti.. Anak mama kan ganteng." Ucapnya.
Sementara itu.. Di tempat lain,
"Na'.. Yana.." Puput mengetuk pintu kamar Alfy.
Tak lama Alfy keluar kamar masih menggunakan mukena salatnya.
"Iya kak ada apa?"
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Puput.
"lagi ngaji kak, kenapa?"
"ngak papa.. Aku mau minjem novel dong. Hehe."
"Masuk aja kak.."
Puput masuk sambil mengacak-acak lemari buku yg berada di kamar Alfy.
"Ngak ada novel baru yah?"
"Aku belum ke toko buku kak, jadi tidak sempat bali yg baru."
__ADS_1
Perhatian Puput tiba-tiba teralihkan melihat vas bunga dengan sepucuk bunga matahari yg sudah kering di meja belajar Alfy.
"Loh kok bunga matahari ini belum kamu ganti?"
Alfy melirik bunga matahari yg tampak layu tersebut.
"Oh itu, ngak tau kak. Udah seminggu lebih kurir yg biasanya ngirimin bunga ngak datang."
"Emang kamu ngak mesen lagi?"
"Tidak, Itu kan bunga kiriman orang. Yana tidak pernah memesan sendiri."
"Hah! Dari siapa?" Puput cukup terkejut.
"Kurirya tidak mau ngasih tau diapa yg ngirim. Setiap aku tanya dari siapa kurirnya bilang gak tau." Kata Alfy bingung.
"Loh Na', kalau gitu kenapa kamu terima bunga dari orang yg ngak kamu kenal?"
"Hm.. Aku juga tidak tau kak. Mungkin karena aku suka aja." Jawabnya sambil tersenyum.
"Yana.. Ish, nanti kalau orang yg ngirimin kamu bunga itu orang aneh gimana.."
"Aku cuma menghargai pemberian orang kak, apa salahnya." Lagi, Alfy tersenyum.
"Emang sejak kapan kamu dapat kiriman bunga ini?" Puput semakin penasaran, pasalnya selama ini dia mengira bahwa bunga matahari yg datang diantar oleh kurir setiap 3 hari sekali adalah pesanan Alfy sendiri.
"Waktu masih di rumah sakit." Jawab Alfy.
"Eh kak, jangan-jangan.. Yg ngirimin Yana bunga.. Ivan lagi!" Alfy tiba-tiba menerka tentang orang misterius yg mengiriminya bunga sejak ia masih di rawat di rumah sakit.
"Hah! Ivan, kenapa kamu bisa mikir gitu?"
"Soalnya waktu dia datang melamar Yana, dia bawa bunga matahari kak."
"Hah! Emang iya, tapi kok Aku gak lihat."
"Bukan, bukan seminggu yg lalu.. Tapi sebelum itu.. Waktu dia datang sendiri ke rumah nenek, belum sama orang tuanya. Dia ngasih bunga matahari ke Umi." Alfy mulai sumbringah, seperti ia benar-benar sudah jatuh hati pada Ivan calon suami masa depannya.
"Kamu yakin! Emang kamu pernah konfirmasi ke Ivan." Kata Puput mengerutkan dahi.
"Hm, Tidak pernah sih kak. Tapi semoga aja Ivan. Soalnya aku nerima lamaran dia waktu itu karena aku lihat bunga matahari yg dia pegang.. Itu jadi semacam tanda dari Allah kalau memang Ivan ini yg terbaik untukku." ucapnya sambil membuka mukena yg ia kenakan.
"Hm.. Ada ngak surat atau pesan singkat dari kiriman bunga yg nempel. Biasanya kan ada tuh yg kayak gitu.." Puput masih ragu dengan masalah ini.
"Tidak ada, selama ini sih tidak ada. Cuma bunga doang." Jawab Alfy polos.
"Lagian.. Karena Ivan sekarang sudah di Jepang. Kurir yg ngirimin bunga juga udah gak datang lagi." Sambung Alfy.
"Ya kan baru tadi pagi Ivan berangkatnya.. Sedangkan kamu bilang udah seminggu lebih pengirim bunga itu tidak datang lagi." Kata Puput.
"Oh iya yah.. Hehe." Alfy tersenyum, tingkahnya lucu sambil cengar cengir melihat Puput yg saat ini memandang Alfy dengan serius.
__ADS_1
"Ya sudahlah.. Mungkin orang yg ngirimin kamu bunga udah tau kalau kamu udah dilamar." Ucap Puput.
-Bersambung-