Kamu & Senja

Kamu & Senja
Lamaran


__ADS_3

Setelah mengantar kami pulang ke rumah, Ivan yang mengendarai mobil lalu bergegas pulang untuk mempersiapkan keperluan dan segala sesuatunya, yang pasti mental adalah hal yang harus dimiliki Ivan saat ini untuk lamaran yang akan di gelar sore nanti.


Sebelumnya kami telah melakukan sesi foto bersama di sebuah studio besar. Tentu yang menanggung biayanya adalah Ayah Ivan. Berfoto sambil mengenakan toga dengan keluarga adalah hal yang juga tak boleh dilewatkan oleh para wisudawan.


Setelah berada di rumah.. Aku melepaskan toga dan bercermin. "Apa selanjutnya?" Gumamku.


Dari luar kamar Ibuku berteriak. "Arman.. Jangan lupa nak bentar sore.. Kamu udaj janji loh sama Ivan." kata Ibu mengingatkanku.


"Iya Ma.. Ini juga baru jam 2 kok."


Lamaran akan berlangsung setelah ashar, di kediaman Nenek dari Yana. Cukup jauh karena berada di pinggiran kota.


Cukup lelah.. Aku berbaring sejenak. Aku mengingat kembali kenangan selama 4 tahun yang telah ku lalui bersama dengan banyak orang. Tidak hanya dengan teman dekatku saja,  tidak hanya dengan teman angkatanku saja.. Tapi juga dengan senior dan juniorku di kampus.. Baik di jurusan ataupun di lembaga kampus.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata.. Karena semua itu sekarang telah berakhir.


"Arman.. Arman... Bangun nak.. Ini sudah setengah 4 loh. Arman."


Aku membuka mata, seperti Ibuku sedang memanggil-manggil namaku.


"Arman.. Ingatkan harus ke rumah Ivan sekarang."


Mendengar Ibu mengatakan hal itu, mataku langsung terbuka lebar. Sepertinya aku tertidur karena lelah seharian berada dalam acara ceremony wisuda kampus.


Dengan sigap aku bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri seadanya dan tak lupa menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.. Setelah itu aku mengganti pakaian dengan menggunakan kemeja lengan panjang dari batik.


Aku melihat smartphone milikku yang ternyata sudah penuh dengan panggilan tak terjawab dari Ivan, juga pesan WA yang langsung membanjiri notifikasi smartphone milikku saat aku aktifkan data internet.


Dari pesan WA Ivan.. Sepertinya sejak 10 menit yang lalu Ivan dan rombongan keluarganya sudah meninggalkan rumah menuju ke tempat Yana. Ivan menyuruh aku menyusul langsung ke tempat lamaran tersebut, yang di adakan di rumah Nenek dari Yana.


Sebagai petunjuk jalan, Ivan mengirimkan lokasi rumah Nenek Yana kepadaku melalui WA. Aku membalas pesan Ivan dan mengatakan alasan kenapa aku terlambat.. Setelah terkirim aku lalu keluar rumah mengendarai motor untuk menyusul Ivan.


"Semoga saja gak telat-telat amat." Benakku.


Sementara itu, di dalam sebuah mobil. Ivan tak bisa menahan rasa gugupnya hari ini, dia terus saja memandangi jendela. Di depannya, yang menyetir mobil adalah Ayah sedangkan Ibunya berada di sisi yang lain.


Mereka bertiga satu mobil.. Sedangkan 2 mobil lain mengikuti dari belakang. 2 mobil tersebut merupakan Paman dan tante Ivan dari keluarga Ibunya. Memang tidak terlalu banyak, tapi Ivan rasa belum saatnya untuk mengajak seluruh keluarganya terlibat dalam acara ini.


Ivan baru akan melibatkan keluarga besarnya saat dia mengadakan resepsi pernikahan tahun depan.


Ivan masih saja melihat ke luar jendela karena gugup, meskipun dia sudah pasti di terima karena sebelumnya sudah melakukan taaruf tapi dia masih terlihat gugup. Dia memegang saku celananya untuk memastikan bahwa dia tidak lupa membawa cincin untuk di serahkan kepada Yana.


Di dalam mobil yg di kendarai oleh Ayah Ivan, mereka terlibat percakapan kecil tentang perempuan yg akan menjadi Istri dari Ivan.

__ADS_1


"Mama masih belum percaya Pa, kalau Ivan itu sudah mau nikah." ucap Ibunya.


"padahal rasanya baru kemarin Ivan lulus SMA, sekarang sudah Sarjana terus sudah kepingin nikah lagi." sambung Ibunya.


"Papa juga, tapi sepertinya Ivan sudah lebih dari siap." Ayah Ivan sambil melihat ketegangan wajah Ivan dari kaca spion tengah mobil.


"Papa sih gak ada masalah. Yg penting Ivan bisa tanggung jawab terhadap Istrinya nanti. Apa lagi setelah bertemu tadi, ternyata dia perempuan yg cantik dan sopan." Sambung Ayah Ivan.


"iya loh.. Kamu apain anak orang sampai dia mau sama kamu Van?" gurau Ibu Ivan.


"Mama becanda aja. Ivan cuma kasih rasa sayang Ma." balas Ivan sambil tertawa ringan.


"alah.. Lihat tuh Pa.. Anak kamu udah mirip sama Papanya."


Mendengar hal itu Ayah Ivan tertawa.


Sepertinya di acara wisuda kampus siang tadi. Ivan memperkenalkan Yana kepada kedua orang tuanya, yang juga kebetulan saat itu berada di lokasi.


Saat sedang bergurau dengan orang tuanya.. Smartphone Ivan berbunyi. Ivan tertawa karena pesan yang masuk di smartphone miliknya adalah pesan minta maaf dari Arman yang tertidur dan lupa waktu.


"Hhh.. Arman.. Arman.. Sudah ku duga akan seperti ini."


"Kenapa Van?"


"Oh.. Jadi gimana? Dia gak ikut dong ke rumah Yana."


"Katanya dia akan nyusul Mom" jelas Ivan.


Waktu berlaku tak terasa hingga akhirnya mobil sudah berada tepat di depan rumah calon Istri Ivan. Mereka bertiga turundari mobil dan masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut. Di ikuti oleh Paman dan Tante dari Ivan, jumlah mereka 10 orang.


Ivan beserta Ayah dan Ibunya, Tante dan Paman Ivan dari keluarga Ibunya, serta Sepupu dari Ibunya beserta Suami dan kedua anaknya turut hadir dalam acara lamaran hari ini.


Terlihat sepertinya di dalam rumah itu ada cukup banyak orang. Sepertinya keluarga besar perempuan calon istri Ivan sedang berkumpul. Terlihat seorang perempuan paruh baya keluar mengundang mereka semua masuk ke dalam rumah. Ivan mengatakan bahwa perempuan itu adalah Tante dari Yana.


Setelah sampai di ruang tamu, mereka bertemu dengan Seorang Nenek yg duduk bersama dengan anak laki-laki yg masih berusia sekitar 9 tahun. Anak itu masuk kedalam memanggil Ibu Yana dan Yana keluar. Sementara itu Tante Yana mengatakan bahwa Ayah Yana belum kembali dari mesjid setelah shalat ashar.


Sepertinya hari ini keluarga besar Yana benar-benar berkumpul. Kata Tante dan Nenek Yana, hari ini mereka menyiapkan hidangan spesial untuk mereka semua dan lagi keluarga besar Yana juga ingin melihat Ivan. Laki-laki yg sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga besar ini.


Tak lama menunggu akhirnya Ibunya keluar. Sepertinya Ibu Yana sedikit sibuk di dapur menyiapkan makanan. Meski cukup banyak orang tapi Ibu Yana tak mau menyerahkan urusan dapur kepada orang lain, karena dia ingin menyuguhkan masakan terbaiknya untuk keluarga Ivan.


Orang tua Ivan dan Ibu Yana saling menyapa. Ibu Yana meminta maaf karena Ayah dari Yana belum juga kembali dari mesjid. Saat ini Paman dari Yana yang berbicara dengan mereka.


Terlihat kue dan teh hangat di sajikan kepada keluarga Ivan oleh salah seorang Tante dari Yana.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ayah Yana kembali dan bergabung bersama dengan keluarga Ivan. Ayah Yana dan ayah Ivan terlibat pembicaraan cukup serius. Tentu saja.. Karena hari ini dengan resmi Ivan melamar Yana.


Pembicaraan berjalan dengan lancar sambil sesekali menikmati makanan yang di sediakan. Mereka terlihat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi keluarga.


Yana yang tengah selesai dandan kemudian keluar menemui calon suaminya. Mata Ivan tertegun melihat calon istrinamya saat ini, saking kagumnya tanpa sadar matanya melebar dan mulutnya menganga.


Keponakan Yana yang melihat tingkah Ivan tertawa.


"Van.. Jangan bikin malu Mama." Ucap Ibu Ivan sambil bercanda melihat tingkah anaknya.


"Maaf Ma.. Hehe.." Ivan malu dengan dirinya sendiri.


"Calon menantu Mama cantik sekali.." Ucap Ibu Ivan sambil menepuk pundak Ivan.


Yana tersenyum mendengar pujian Ibu Ivan. Akhirnya dia duduk di samping Ayahnya, berhadapan dengan Ivan.


"Jadi.. Gimana Nak Ivan. Anak Saya?" tanya Ayah Ivan.


"Masyaallah Uztads.. Hari ini Yana sangat cantik." Ucap Ivan tersipu.


Yana tersenyum malu..


Sekarang mereka kembali terlibat pembicaraan serius.. Tapi keseriusan itu hanya berlangsung singkat, saat Yana menerima pinangan keluarga Ivan.. Saat itu pula suasana kembali cair. Hingga masuklah ke acara tukar cincin...


Beberapa keluarga Yana dan keluarga Ivan mengambil foto mereka berdua. Mereka berdua sangat serasi.. Benar-benar pasangan yang sangat cocok.


Ibu Yana mengeluarkan air mata melihat putri semata mayangnya telah dilamar oleh laki-laki baik dan juga sholeh. Ibu Ivan mendekat, memeluk Ibu Yana yang menangis karena haru melihat anaknya.


Sementa itu, diluar pekarangan rumah.


"Apa benar yang ini yah? Kayaknya sih.. Soalnya di dalam sepertinya ramai." Ucapku melihat lokasi yang dikirim oleh Ivan.


Aku membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai ke tempat ini. Itupun dengan kecepatan yang tidak wajar, karena aku tidak mau mengecewakan Ivan.


Aku yang baru turun dari motor semakin yakin bahwa rumah yang saat ini aku lihat adalah rumah yang tepat karena aku juga melihat mobil Ivan yang terparkir di depan rumah itu.


Setelah merapikan pakaian yang tadi cukup berantakan akibat terpaan angin saat mengendarai motor. Aku berjalan masuk kedalam pekarangan rumah.


"Semoga gak telat-telat amat." Gumamku sambil melangkah masuk.


Saat berada di pekarangan rumah.. Aku terkejut melihat seorang perempuan keluar dan melihat ke arahku. Perempuan itu mendekat dengan tatapan cukup kesal. "Kamuuu... Kenapa kamu ada di sini?" Ucapnya sambil menunjuk ke arahku.


"He.. Pu-puput.." Ucapku melihatnya mendekat.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2