
Pikiranku kacau balau dan aku tak bisa menjernihkan isi kepalaku. Aku bergegas keluar dari rumah dan berjalan keluar gerbang ke arah motorku yg terparkir di depan. Nafasku berat mengetahui kenyataan pahit yg tersebut. Aku di kuasai oleh amarah yg berada pada puncaknya.
Melihatku dengan wajah seperti itu, Alfy terus menangis dan meminta maaf padaku. Setelah semua yg aku dengar, sekarang aku tidak lagi melihat Alfy sebagai seseorang yg ingin aku miliki tapi pandanganku padanya berubah menjadi pandangan benci dan sangat ingin mencaci.
Bagiku saat ini, dia tak lebih dari adik seorang pembunuhan yg membunuh banyak orang termasuk Ayahku. Bagiku.. Dia adalah sampah yg harus aku singkirkan. Aku terus mengelak dari hadapannya yg tetap gigih menghalangi kepergianku. Sementara Puput mencegah Alfy melakukan hal bodoh di hadapanku.
Alfy menggenggam tanganku sangat erat, aku bisa merasakan genggamannya dan untuk pertama kalinya dia sendiri yg menyentuhku. Tapi lagi-lagi perasaanku padanya telah tertutup oleh kabut amarah.
"Arman.. Maaf.. Maafkan Kakakku. Arman.. Maaf." ucapnya frustasi.
"diam.. Kau tidak tau hidupku hancur saat aku tahu Bapakku meninggal. Jika aku tau dari awal hal ini, aku tidak akan pernah mau mengenalmu." ucapku membentak.
Alfy menangis minta maaf, wajahnya penuh dengan air mata. Sementara Puput berusaha untuk menyadarkan Alfy yg terus saja mencoba menahan kepergianku.
"minggir... Kamu sama saja dengan Kakakmu itu.. Kakakmu.. Telah membunuh Bapakku. Dia *******." Ucapku sambil menunjuk wajahnya mempertegas perkataanku.
__ADS_1
Aku lalu mendorongnya sampai terjatuh di depan pekarangan rumahnya. Aku bergegas menyalakan mesin motor dan berbalik menyeberang jalan untuk menjauh dari rumah keluarga yg telah menghancurkan setengah hidupku.
Saat aku berada di seberang jalan, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh di tengah jalan. Tak sengaja menoleh, hatiku menampar akal pikiran hingga melenyapkan amarahku.
Saat akal pikiranku kembali normal, semua sudah terlambat. Yg ku lihat Alfy sudah terkapar di tengah jalan dengan darah dan Puput yg panik meminta pertolongan. Sang pemilik mobil turun dari kendaraan lalu mengangkat Alfy ke dalam mobilnya untuk di larikan ke rumah sakit.
Sementara itu aku.. Menyaksikan perempuan yg aku cinta terluka. Terluka karena diriku amarah yg menguasai diriku saat ini.
Ana dan Sahidah yg mendengarkan ceritaku tak bisa berkata apa-apa, mereka yg tadi terus menyudutkanku karena menganggap aku jahat malah diam setelah mengetahui apa yg terjadi.
Riyal terlihat santai sedangkan Ana dan Sahidah menunjukkan empatinya padaku.
Aku melanjutkan ceritaku, hingga saat kejadian itu. Aku terus menjenguk dan memeriksa keadaannya di rumah sakit. Karena pikiranku sudah mulai jernih, akupun sempat berbicara dengan Ayah Alfy empat mata membahas yg sebenarnya terjadi.
Beliau benar-benar sangat menyesal dan bersedia melakukan apapun untuk meminta maaf kepadaku dan kepada keluargaku. Bahkan satu waktu, Beliau bersama dengan Istrinya datang ke rumahku dan bertemu dengan Ibuku.
__ADS_1
Aku menjelaskan situasi yg sebenarnya kepada Ibuku. Tentu dia syok mendengar hal yg aku katakan, tapi dengan hati yg lapang Ibuku bisa menerima maaf dari Keluarga Alfy atas apa yg menimpa kami di masa lalu.
Setiap hari aku pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya. Dan hal yg membuatku terkejut adalah saat Puput berbicara denganku tentang apa yg di rasakan Alfy.
Puput membenciku, dia terus mengalahkanku atas apa yg menimpa Alfy saat ini. Dia juga mengatakan kenyataan yg membuat aku semakin menyesal karena telah lepas kendali sampai membuat Alfy dalam keadaan seperti sekarang.
Puput mengatakan semuanya... Dia menjelaskan bahwa Alfy sudah mengenalku jauh sebelum kami kuliah di kampus yg sama. Saat itu aku menolongnya, iya.. Karena Puput aku jadi ingat pernah menolong seorang perempuan yg di ganggu oleh preman. Aku hanya tak ingat ternyata perempuan itu adalah Alfy.
Puput semakin menambah penyesalanku saat dia mengatakan bahwa Puput sudah jatuh hati kepadaku sejak kami mulai saling mengenal dan akrab dalam satu program ketika di Malaysia.
Kenyataan demi kenyataan semakin membuat aku menyesal. Puncaknya saat Alfy mulai tersadar dari tidur panjangnya selama seminggu di rumah sakit. Dia mengenali Ayah dan Ibunya, juga dengan Puput. Tapi sayang, ketika melihatku.. Dia tidak ingat siapa aku.
Dokter menjelaskan situasinya, ingatannya akan pulih cepat atau lambat. Sejak saat itu aku tidak lagi menjenguknya di rumah sakit, aku hanya mengiriminya Seikat Bunga matahari untuk menyemangatinya.
5 bulan berlalu sejak insiden itu, hingga aku melihat dia kembali ke kampus dengan sehat dan kembali tersenyum. Tapi sampai saat ini dia belum mengingat sedikitpun tentangku.
__ADS_1
-Bersambung-