
Bolehkah aku bercerita sedikit tentang dia, tentang dia yg aku kenal tapi dia sendiri tidak mengenalku. Perih rasanya, terlebih aku mencintainya dan aku yakin begitupun sebaliknya, setidaknya itu adalah asumsi egois dan imajinasi liar yg ku bangun untuk meyakinkan perasaanku padanya.
Kenapa harus dia? Kenapa aku harus bertemu dan jatuh cinta padanya jika ujung-ujungnya takdir tak memihak padaku. Sedikit demi sedikit dia menjauh, menjauh dari jangkauanku hingga saat ini dari kejauhan aku hanya bisa melihat dia tersenyum meski senyum itu bukan untukku.
Aku berharap masih ada celah untuk masuk, kembali masuk dalam cerita hidupnya. Dimana aku pernah menjadi bagian dirinya, dimana aku pernah berada di dekatnya dan aku pernah berada di hatinya meski akhirnya aku memutuskan keluar dan tak bisa lagi kembali. "Arman.. Man.. Oi Arman." Kata Ilham.
"buset kenapa nih anak." Balas Adi.
"Arman.. ARMAN." Kata Ica sambil memukul punggungku dengan keras.
Aku yg sedari tadi melamun seketika terkejut dengan teriakan Ica. "kenapa sih Man?" kata Gina.
"sorry gak papa." Balasku.
"yakin, dari tadi aku lihat kamu memandang perempuan itu terus." Ujar Ica menunjuk dua orang perempuan yg sedang berada di tempat foto copy.
"ngak. Aku tadi hanya kepikiran sesuatu." Balasku.
"pasti cewek nih?" kata Ilham.
"iya juga yah. Arman selama kita kenal gak pernah deket atau cerita soal cewek ke kita." Sambung Adi.
"iya yah. Jangan-jangan Arman sudah jadian lagi terus galau karena putus." Ujar Gina.
"kalian nih pikirannya liar. Ya gak mungkin lah." Kataku mencoba membela diri.
"eh tunggu-tunggu, tapi kayaknya aku kenal deh itu cewek." Kata Ica membicarakan perempuan yg tadi berada di depan tempat fotocopy.
"perasaan kamu aja kali Ca'." Lagi-lagi aku mencoba mengalihkan.
"ngak bener.. Siapa yah? Aduh lupa lagi. Tapi.. tapi.. Kayaknya kamu deh yg ngenalin aku sama cewek itu Man." Jelas Ica.
"wah.. berita besar ini." Sambung Ilham.
"ya ampun Ca' kalau aku yg ngenalin kamu sama cewek yg tadi, berarti cewek itu kenal dong sama aku tapi tadi dia lewat gak nyapa gak... Ah sudahlah." Jelasku.
"iya juga sih." Kata Ica.
"ah udah.. Gak usah bahas-bahas cewek. Mending bahas tuh skripsi." Kataku mencoba merubah topik pembicaraan.
"ya elah.. Malah skripsi. Malas beud." Kata Ilham.
__ADS_1
"oh iya Ca' jadi kan minggu depan?" tanya Gina.
"insyaallah Gin. Doain yah."
"eh apa nih minggu depan? "tanya Ilham penasaran.
"minggu depan kan Ica udah ujian proposal Ham." Balas Gina.
"haaahhhhh..." reaksi Ilham.
"ampun dah Ica. Cepet banget." Kata Adi.
"makanya kalian berdua Segerakan, jangan malas." Balas Gina.
"iya kalian berdua. Arman aja udah ada judul." Sambung Ica.
"hahhhhhh Arman." Kata Ilham menatapku sinis.
"kau telah mengkhianati kami Man." Kata Adi.
"eh denger, kalian berdua mau ngapain lama-lama di kampus. Bagus kalau sibuk di organisasi, lah ini di bilang aktif juga gak terlalu." Kata ku menasihati kedua temanku.
"sebentar lagi kita semua akan meninggalkan kampus ini." Balas Ica.
"yang ninggalin tuh kalian berdua, aku sih belum mau." Balas Ilham.
"jangan lah Ham. Kita sama-sama masuk ke kampus ini dan harus sama-sama keluar juga sebagai alumni." Kataku.
"bullshit itu mah." Balas Adi.
"iya Ho oh. Kalau mau sama-sama keluar tungguin kita lah." Kata Ilham.
"enak aja, kalau mau jadi mahasiswa lama gak usah ngajakin." Balas Gina.
Kami pun tertawa bersama.
Memang sering kali dilema jika harus di hadapkan pada semester akhir. Berbeda ketika masih bersekolah, masuk bereng dan lulus pun bareng dengan teman-teman. Hal seperti ini tak berlaku di dunia kampus, mungkin sama-sama di terima dan masuk kampus iya, tapi tidak untuk keluar atau lulus dari kampus. Itu sudah jadi urusan kalian masing-masing, ada yg duluan dan ada pula yg lambat dengan berbagai faktor.
Selain hal itu, yg juga menjadi dilema bagi mahasiswa tingkat akhir adalah melangkah kemana selanjutnya. Karena dunia setelah kampus adalah dunia yg kejam, jika tidak bisa bersaing maka akan tertinggal bahkan terpuruk oleh arus percepatan dunia yg setiap tahun berubah.
Dan beberapa mahasiswa yg tak ingin selesai tetap waktu karena belum siap menghadapi persaingan itu akhirnya mereka memilih untuk berada di kampus mengasah skill dan ketrampilan.
__ADS_1
Lama bersama, waktupun memisahkan kami. Aku dan Ica langsung pulang, sedangkan ada sedang ada kegiatan di UKMnya. Ilham yg sedang tidak ada kegiatan menawarkan diri untuk mengantar Gina ke sebuah ATM.
"tumben-tumbenan Ham kamu mau ngantar aku." Kata Gina kepada Ilham yg baru saja menghampirinya dengan sepeda motor.
"udah di kasih izin kok sama Adi." Balas Ilham meledek
"ish, apaan sih izin-izin. Udah kayak pos satpam aja."
"hahaha, ya kan gak enak soalnya dia pacarmu."
"ya gak gitu juga kan Ham, udahlah ayo." Ujar Gina.
"jadi, ke atm kan?"
"iya Ham."
"Adi emang ada urusan apa? Biasanya kan dia yg jadi tukang ojek elu." Kata Ilham.
"katanya lagi rapat untuk show UKM Paduan Suara."
"oh gitu. Eh kenapa lu senyum-senyum." Kata Ilham melihat Gina melalui kaca spion motornya.
"ih siapa juga yg senyum-senyum." Balas Gina.
Tak lama mereka sampai di ATM depan kampus. Gina turun dari motor dan mulai membuka tasnya, mencoba mencari kartu ATMnya. Karena terburu-buru sesuatu terjatuh dari tasnya dan dengan sigap dia langsung mengambil barang itu. "apa tadi tuh yg jatuh?" tanya Ilham.
"rahasia cewek Ham. Cowok gak boleh tau." Balas Gina.
"ya elah pake rahasia-rahasiaan."
Setelah urusan di ATM selesai, Gina dan Ilham kembali ke dalam kampus.
"makasih ya Ham. Untung aja ada kamu soalnya malas banget kalau harus jalan kaki keluar." Kata Gina.
"iya Gin, ya udah gue duluan yah mau ke UKM." Balas Ilham.
"iya dadah.." Kata Gina melambaikan tangan sambil tersenyum.
Gina tersenyum, melihat punggung laki-laki yg dulu pernah menghibur dirinya dan mengucap janji untuk bersama ketika dewasa. Di merogoh ke dalam tas, mengeluarkan sebuah Gelang manik-manik berwarna putih yg sudah usang.
-Bersambung-
__ADS_1